Warung Pak Wardiman

graphic1

“Skak!”

Pak Wardiman tersenyum lalu menggeser benteng dua kotak ke samping kanan, tepat satu kotak di depan raja.

“Bisa… Bisa…” gumam Pak Mulyono sambil menyelipkan sebatang rokok kretek ke sela bibirnya.

Sebuah mobil berhenti di depan warung. Seorang laki-laki muda turun dari mobil lalu berjalan menghampiri.

“Cari apa, Mas?” Tanya Pak Mulyono.

“Ada rokok, Pak?” Si laki-laki muda balik bertanya.

“Oh, ada. Mau rokok apa?” Pak Mulyono bertanya lagi. Kali ini sambil beranjak dari duduknya lalu berjalan ke dalam warung.

Laki-laki muda itu menyebutkan salah satu merk rokok, lalu Pak Mulyono mengambil rokok yang dimaksud, lalu menyerahkan bungkus rokok itu pada si laki-laki muda, lalu si laki-laki muda menyerahkan selembar uang limapuluhribuan pada Pak Mulyono, lalu Pak Mulyono mengambil uang itu dari tangan si laki-laki muda, lalu Pak Mulyono menyerahkan beberapa lembar uang pada si laki-laki muda sebagai kembalian.

“Ini kalau mau ke Hotel Permata terus aja kan, Pak?” Laki-laki muda itu kembali bertanya pada Pak Mulyono yang kali ini sudah kembali duduk berhadap-hadapan dengan Pak Wardiman.

“Betul, Mas. Terus aja nanti ketemu tempat laundry. Hotel Permata di sebelahnya tempat laundry itu.”

“Oh, ya udah, Pak. Makasih,” laki-laki muda itu tersenyum sambil mengangguk ke arah Pak Mulyono dan Pak Wardiman yang dibalas oleh keduanya juga dengan anggukan dan senyuman. Laki-laki muda itu kemudian naik kembali ke mobilnya, meninggalkan Pak Mulyono dan Pak Wardiman yang kembali melanjutkan permainan catur.

“Kejadian kayak tadi sering, ya?” Tanya Pak Wardiman sembari menggerakkan kuda ke arah samping kiri.

“Orang nanya arah gitu? Ya, lumayan. Nggak sering-sering amat sih. Tapi ada lah satu dua.”

Pak Wardiman terdiam sesaat, seperti sedang berpikir. Dia menggerakkan peluncur mundur beberapa kotak lalu kembali terdiam.

“Kenapa, toh?” Tanya Pak Mulyono.

Nggak apa-apa,” jawab Pak Wardiman nyaris lirih.

“Skak Mat!”

Pak Mulyono menghembuskan asap rokok lalu tertawa. Pak Wardiman masih saja terdiam.

***

“Kita buka warung udah berapa lama sih, Bu?” Tanya Pak Wardiman sembari menyuapkan sesendok nasi bercampur potongan tempe goreng dan sayur bayam ke dalam mulutnya.

“Kenapa emangnya, Pak? Tumben nanya gitu?”

Nggak, sih. Sekitar 28 tahun gitu, ya?”

“Iya, mungkin. Kenapa toh emangnya?”

Pak Wardiman memotong tempe goreng dengan sendoknya, mencapur potongan itu dengan nasi, lalu menyendok campuran itu dengan sendoknya. “Kemaren malem aku kan main catur kayak biasanya di warung Pak Mulyono,” kaya Pak Wardiman sambil memegang sendok berisi campuran nasi dan potongan tempe goreng tepat di depan wajahnya. “Terus tau-tau ada laki-laki beli rokok,” sambungnya. Pak Wardiman memasukkan sendok berisi campuran nasi dan tempe goreng ke dalam mulutnya, mengunyah pelan, lalu melanjutkan ceritanya. “Terus si laki-laki itu nanya arah ke Hotel Permata sama Pak Mulyono. Terus sama Pak Mulyono dijelasin gitu arah ke hotel yang dimaksud.”

“Terus? Nggak ada yang aneh, kan? Orang nanya arah ke pemilik warung itu hal yang biasa, toh?”

“Justru itu.”

“Justru itu gimana, Pak?”

“Kita punya warung juga udah lama, kan? Gara-gara kejadian kemaren malem itu, aku terus kepikiran, Bu. Setelah tak ingat-ingat, selama 28 tahun jaga warung, aku kok belum pernah ya ditanyain arah oleh pengunjung warung seperti Pak Mulyono itu.”

Istri Pak Wardiman hanya diam mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya. Bibirnya bergerak pelan seperti ingin tersenyum. Namun, dia terlihat sedang berusaha keras menahan agar senyum itu tidak tercipta di wajahnya.

“Aneh, toh, Bu? Masa selama 28 tahun jaga warung aku belum pernah ditanyain arah atau ditanyain alamat sama –“

Tawa istri Pak Wardiman akhirnya meledak. Pak Wardiman tampak heran melihat reaksi istrinya.

Oalah, Pak. Masa hal remeh gitu aja dipikirin? Ada-ada aja kamu ini, Pak,” kata istrinya sambil membereskan meja lalu berjalan ke arah dapur.

Pak Wardiman masih duduk di kursinya, berdiam diri sambil melipat-lipat serbet makan dengan kedua tangannya.

***

Siang itu Pak Wardiman duduk di kursi di depan warungnya sambil membaca koran. Berita tentang sidang kopi beracun yang dibacanya sebenarnya sudah tidak lagi menarik baginya. Namun, dia tetap membaca berita itu sekadar untuk mengisi waktu.

Sebuah mobil berhenti di depan warungnya. Pak Wardiman mengangkat wajahnya dan melihat ke arah mobil. Seorang perempuan turun dari mobil lalu berjalan ke arahnya.

“Permisi, Pak,” sapa perempuan itu.

Pak Wardiman melipat korannya, bangkit dari duduknya, lalu meletakkan lipatan koran di kursi. “Ya, Mbak?”

Perempuan itu mengeluarkan secarik kertas dari tas tangannya lalu menyodorkan kertas itu ke arah Pak Wardiman. “Bapak tau alamat ini?” tanyanya kemudian.

Pak Wardiman tampak terkejut. Pandangannya berpindah dari tulisan di atas kertas yang disodorkan kepadanya ke wajah sang perempuan. Dia sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Gimana, Pak?”

Pak Wardiman mengambil secarik kertas yang disodorkan kepadanya. “Eh… eh…” gumamnya sambil melangkah pelan ke arah tepi jalan. Perempuan itu mengikuti Pak Wardiman dari belakang.

Pak Wardiman tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap si perempuan. Perempuan itu tampak sedikit terkejut.

“Iya, Mbak! Saya tau alamat ini!” kata Pak Wardiman dengan semangat. “Jadi dari sini Mbak nanti jalan aja ke – “

“Bunda!” tiba-tiba seorang anak laki-laki beteriak dari dalam mobil. Kepalanya mencungul lewat kaca pintu mobil yang terbuka.

Perempuan itu menaikkan pandangannya melewati bahu Pak Wardiman. “Sebentar, Aldo! Bunda lagi nanya –“

“Aldo udah tau tempetnya!” jawab si anak laki-laki sambil menunjukkan layar komputer tablet yang digenggamnya.

Perempuan itu bergegas mendatangi anak laki-lakinya, melihat layar komputer tablet yang ditunjukkan anaknya, lalu kembali mendatangi Pak Wardiman.

“Jadi dari sini Mbak nanti –“

“Eh, nggak usah, Pak. Saya udah tau alamatnya.” Kata perempuan itu seraya mengambil secarik kertas yang masih dipegang oleh Pak Wardiman dengan erat. Perempuan itu sedikit menarik kertas yang dipegang Pak Wardiman. Namun, Pak Wardiman tak kunjung melepaskan kertas yang dipegangnya. Perempuan itu menatap Pak Wardiman dengan heran. “Pak,” kata perempuan itu dengan nada sedikit tinggi. Pak Wardiman tersadar lalu melepaskan kertas yang dipegangnya. Perempuan itu buru-buru memasukkan kertas ke dalam tas tangannya, masuk ke dalam mobilnya, lalu memacu mobil meninggalkan Pak Wardiman yang masih berdiri mematung di tepi jalan.

Pak Wardiman masih memandangi mobil si perempuan yang kian menjauh, meninggalkan sapuan debu tipis yang melayang-layang pelan di bawah terik matahari.

“Pak! jajan!”

Pak Wardiman tersadar lalu menoleh ke arah warung. Seorang anak perempuan berdiri di depan warung, menggenggam uang kertas lusuh di tangan kirinya. Pak Wardiman tersenyum lalu menghampiri anak perempuan itu.

“Mau beli apa?”

 

TAMAT

Tagged

Menulis Bersama

Hai. Halo~

Bagaimana kabar kalian?

Ya udah. Segitu aja basa-basinya.

Tulisan kali ini sebenarnya merupakan ajakan bagi semua teman-teman yang mengikuti (saya agak malas sebenarnya menggunakan kata ini karena terkesan uopooooh. Tapi ya udahlah gak apa-apa sekali-sekali) saya di media sosial, dalam hal ini Twitter. Ajakan apa?

Jadi gini… (halaaaah~)

Beberapa hari belakangan saya merasa agak jenuh dengan aktivitas saya sehari-hari yang melibatkan keyboard dan monitor. Ingin menulis (untuk senang-senang) namun merasa mandeg juga (lagian masih ada tiga tulisan senang-senang yang nga kelar-kelar sejak dari kapan karena dst dst). Tapi kalau tidak menulis, saya kayaknya bakal merasa makin sumpek karena kotoran di dalam batok kepala toh tetap harus dikeluarkan. Sehingga~

Saya ingin mengajak teman-teman untuk menulis bersama. Kali ini (lagi-lagi) dengan memanfaatkan media Twitter. Jika dulu sebelumnya saya pernah iseng membuat cerita di Twitter dengan menggunakan fasilitas polling (yang mana biasa aja sih sebenernya nga fantastis fantastis amat), maka kali ini saya ingin melibatkan teman-teman lebih jauh lagi. Seperti sebelumnya, kegiatan kali ini juga bersifat iseng yang mana~

Caranya gimana?

Berikut akan saya sampaikan prosedurnya dalam bentuk kronologikal.

  1. Saya akan memulai dengan satu tweet narasi (seperti tweet narasi yang kerap saya buat selama ini). Tweet ini akan jadi awal cerita. Sebut saja Tweet Narasi 1.
  2. Teman-teman yang mengikuti saya di Twitter saya persilakan untuk meneruskan narasi yang saya buat dengan cara membalas (reply) Tweet Narasi 1. 1 orang hanya dipersilakan untuk membalas 1 kali saja (untuk membuka kesempatan bagi teman-teman lain yang mungkin ingin ikut berpartisipasi).
  3. Batas waktu untuk membalas Tweet Narasi 1 adalah satu hari (24 jam).
  4. Setelah itu, dari tweet balasan untuk Tweet narasi 1, saya akan memilih satu tweet untuk dijadikan lanjutan resmi dari Tweet Narasi 1. Sebut saja Tweet Narasi 2.
  5. Tweet Narasi 2 tersebut nantinya akan saya post dalam bentuk quote tepat di bawah Tweet Narasi 1. Teman-teman dipersilakan untuk meneruskan cerita dengan cara seperti yang dijelaskan pada poin nomor 2 (memberikan balasan pada Tweet Narasi 2). Batas waktu membalas Tweet Narasi 2 adalah 1 hari (24 jam).
  6. Saya kembali akan memilih satu tweet balasan dan menjadikannya sebagai lanjutan resmi dari Tweet Narasi 2. Sebut saja Tweet Narasi 3. Demikian seterusnya.
  7. Oya, bagi teman-teman yang tweetnya sudah terpilih sebagai tweet lanjutan resmi (Tweet Narasi 2 dan seterusnya), dengan berat hati saya mohon agar tidak lagi mengikuti kegiatan ini (sekali lagi, demi membuka kesempatan bagi teman-teman lain yang mungkin ingin ikut berpartisipasi).
  8. Kegiatan menulis bersama ini dapat teman-teman ikuti sampai batas waktu yang belum saya tentukan. Bila nantinya saya rasa narasinya harus diakhiri, saya sendiri yang akan membuat bagian penutup tersebut.
  9. Setelah jadi satu cerita utuh, cerita tersebut akan saya publikasikan di blog ini. Teman-teman yang berpartisipasi, akan saya cantumkan creditnya (termasuk username Twitter-nya). Bila ada teman-teman yang keberatan untuk dicantumkan dalam credit, silakan utarakan langsung saja pada saya (lewat mention atau lewat DM).
  10. Kegiatan ini hanya dilakukan atas dasar keisengan semata dan bukan untuk tujuan mencari keuntungan finansial. Saya mohon maaf apabila saya tidak bisa memberikan penghargaan dalam bentuk apapun atas partisipasi teman-teman selain apresiasi saya terhadap keinginan teman-teman untuk (terlibat) menulis.
  11. Demikian kiranya prosedur kegiatan Menulis Bersama ini. Saya tidak memberikan nama yang spektakular untuk kegiatan ini karena… ya namanya juga cuma iseng. hhe hhe… Bila ada yang ingin ditanyakan, silakan mention atau kirimkan DM ke akun Twitter saya.

Ya udah gitu aja.

Tweet Narasi 1 rencananya akan saya buat pada hari Kamis, 21 Juli 2016, pada pukul 09:00. Jadi nantinya akan ada update setiap hari pada jam yang sama.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih dst dst~

 

Ayo menulis bersama~  :3

Panjang Umur

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Pria pertama bernama Jono, seorang buruh bangunan berusia sekitar 30 tahun. Pria kedua bernama Husni. Usianya baru menginjak 25 tahun dua minggu yang lalu. Husni bekerja sebagai montir di bengkel motor yang dimiliki oleh tetangganya, Pak Sumin. Pria ketiga adalah pria dengan postur tubuh paling kecil di antara ketiganya. Namanya Ansori. Teman-teman dan orang-orang yang dekat dengannya biasa memanggilnya Aan. Aan bekerja sebagai buruh di satu-satunya pabrik gula di desa tempat ketiga orang itu tinggal dan dia berusia 21 tahun, membuatnya menjadi pria termuda di antara ketiganya.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Api unggun itu mereka buat di atas tanah yang berjarak sekitar delapan belas kaki dari bibir sungai. Saat itu waktu telah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Tidak jauh dari mereka, tiga batang gagang pancing tampak tergeletak diam di sebelah sebuah tas usang berukuran sedang dan dua buah kaleng susu kecil berisi umpan dan dua keranjang rotan tempat menaruh ikan dan sebilah parang berukuran sedang. Tas usang itu berisi senar pancing, stok mata kail, cutter, senter, losion anti nyamuk, dua bungkus roti berbentuk bulat, dan obat anti masuk angin berbentuk cair.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Rencananya, mereka akan mulai melemparkan kail ke arah sungai ketika jam menunjukkan pukul sebelas malam. Kegiatan memancing di malam hari seperti ini sudah menjadi semacam rutinitas bagi ketiga pria tersebut. Mereka biasanya melakukan kegiatan ini seminggu sekali, tepatnya pada malam sabtu setiap minggunya. Biasanya mereka berangkat berempat. Pria keempat bernama Supriyadi, biasa dipanggil Yadi. Yadi berusia 23 tahun dan bekerja sebagai buruh di peternakan ayam milik Haji Soleh.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar dan menunggu kedatangan pria keempat.

“Kok tadi si Yadi berangkatnya nggak bareng kamu, An?” tanya Husni seraya memijat-mijat batang rokok kretek dengan kedua jari telunjuk dan jempolnya lalu menyelipkan batang rokok kretek itu di celah bibirnya.

Aan hanya diam, tidak menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Dia teringat kejadian dua hari yang lalu saat dia dan Yadi terlibat baku hantam.

Jono menyenggol lengan Husni dengan gerakan yang sungguh samar lalu saat keduanya bertatap mata, Jono mengirimkan sinyal melalui gerakan matanya yang seolah-olah berbunyi ‘jangan dibahas’. Menyadari kesalahannya, Husni hanya bisa terdiam dengan perasaan canggung lalu menghisap rokok kreteknya dalam-dalam.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Husni menghisap rokok kreteknya dalam diam, Jono menambahkan potongan kayu berukuran kecil ke atas bara untuk memperpanjang nyawa api unggun, dan Aan duduk memeluk lutut sembari mengingat kejadian dua hari yang lalu saat dia secara tidak sengaja memergoki istrinya sedang bercumbu dengan Yadi di ruang tamu rumahnya.

Waktu itu Aan pulang lebih cepat dari pabrik tempatnya bekerja. Betapa terkejutnya ia saat sampai di rumah dan menemukan istrinya sedang bersama pria lain. Lebih terkejut lagi saat ia menyadari bahwa pria lain itu adalah Yadi, teman dekatnya sendiri yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Ratih, istri Aan, langsung berlari keluar rumah, berteriak bagaikan orang gila. Semua berlangsung begitu cepat. Tiba-tiba saja Aan dan Yadi sudah bergumul di perkarangan rumah. Orang-orang mulai berdatangan, termasuk Jono dan Husni. Dengan sigap keduanya melerai Aan dan Yadi dibantu beberapa orang warga. Bibir Yadi pecah dan mengeluarkan darah. Tonjolan tulang di bawah mata kiri Aan terlihat semakin menonjol dengan sapuan warna biru samar. Atas saran Jono, Husni membawa Yadi pulang ke rumahnya, sementara Jono sendiri merangkul Aan kembali masuk ke dalam rumah. Ratih masih menangis saat diajak Wulan, istri Jono, untuk mengungsi sementara waktu ke rumah mereka.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar dan mereka masih menunggu kedatangan pria keempat.

“Si Yadi kok belum datang, ya?” tanya Aan tiba-tiba.

Jono mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya memperhatikan tarian lidah api, tampak sedikit terkejut, menatap lurus ke arah Aan, lalu saling berpandangan dengan Husni. Husni hanya diam. Jono lalu memalingkan wajahnya dari wajah Husni, menatap melampaui pundaknya, lalu tersenyum.

“Akhirnya datang juga,” ujarnya pelan.

Aan tiba-tiba berdiri dengan canggung.

“Maaf, aku terlambat, tadi masih ada kerjaan sedikit di rumah,” kata Yadi dengan suara yang sedikit bergetar. Dia hanya melayangkan pandangannya ke arah Jono dan Husni, tak berani menatap mata Aan.

Aan berjalan ke arah tumpukan perlengkapan memancing, tak mempedulikan kehadiran Yadi.

“Wah, panjang umur kamu!” seru Husni. “Kita baru aja ngomongin ka—“

Husni tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Matanya tiba-tiba melotot. Mulutnya menganga lebar. Husni menunjuk ke arah Yadi dengan ekspresi histeris. Sedetik kemudian dia terduduk lemas.

Jono ikut melotot. Dia langsung berdiri dengan tergesa. Mulutnya membuka seperti ingin mengatakan sesuatu namun yang keluar dari kerongkongannya hanya udara hangat yang kemudian bercampur dengan udara malam yang dingin.

Lalu terdengar suara ‘bruuk’, seperti suara buah durian yang jatuh dari pohonnya.

Aan mencabut parang yang sedari tadi bersarang di tempurung kepala Yadi yang kini telah terbaring tak bernyawa di dekat kakinya. Aan lalu kembali duduk di posisinya semula, meletakkan parang yang berlumur darah tepat di sampingnya.

“Ternyata umurnya nggak panjang-panjang amat…” ujar Aan lirih seraya menatap lidah api yang menari perlahan.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Kini dengan tambahan berupa seonggok mayat.

TAMAT

Tagged ,

Pemuda yang Tidak Pernah Mengumpat

Burhan membuka kunci layar gawainya dengan cara menggerak-gerakkan jarinya, membentuk suatu pola yang terkesan acak pada layar. Dia kemudian mengecek kotak pesan dan menemukan delapan belas pesan yang belum dibaca. Burhan kembali menggerakkan jarinya pada layar gawai, menghapus kedelapan belas pesan tersebut satu persatu, bahkan sebelum membacanya. Dia lalu memasukkan kembali gawainya ke dalam saku kemeja, menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu terbatuk pelan setelahnya.

Sore itu, seperti biasa, Burhan duduk sendirian di depan meja bar setelah setengah jam sebelumnya dia meninggalkan tempat kerjanya, sebuah kantor kecil penyedia jasa travel yang letaknya tak begitu jauh dari bar yang sekarang disinggahinya. Pemuda itu mengangkat gelasnya, mencurahkan tetes-tetes terakhir minuman yang dipesannya ke kerongkongannya, lalu meletakkan kembali gelas yang sudah kosong ke atas meja. Diambilnya tiga lembar uang dari dompet lalu diletakkannya di dekat gelas. Burhan menganggukkan kepalanya pada penjaga bar sembari bangkit dari duduknya. Penjaga bar membalas anggukan itu dengan seulas senyum tipis yang saking tipisnya bahkan seekor lebah pun tidak akan mampu menerjemahkan gerakan bibir itu sebagai senyuman. Seperti biasa, Burhan meninggalkan bar tepat pada pukul setengah enam sore. Ketika melangkahkan kakinya keluar melewati pintu bar, sebuah truk sampah tiba-tiba saja tergelincir dari jalan, mengirimkan sebelah roda depannya masuk ke dalam selokan.

***

Berdasarkan cerita bapaknya, Burhan mendapatkan namanya dari nama seorang kolega di tempat bapaknya dulu bekerja. Masih berdasarkan cerita bapaknya, Burhan dilahirkan secara normal tanpa kekurangan satu apapun. Kabarnya juga, Burhan tak jauh berbeda dengan anak-anak lain. Kendati demikian, ada satu hal yang membedakan Burhan dengan teman-temannya. Sedari kecil, Burhan terkenal tidak pernah mengumpat. Bahkan hingga dia beranjak remaja, dia tak kunjung mengeluarkan satu umpatan pun dari mulutnya. Begitu juga halnya ketika dia sudah mulai menginjak usia dewasa. Burhan dikenal oleh orang-orang di sekitarnya sebagai seorang pemuda yang tidak pernah mengumpat. Selebihnya, dia tak berbeda dengan pemuda-pemuda lain.

Padahal, sedari kecil Burhan sudah begitu akrab dengan yang namanya umpatan. Burhan masih ingat betul umpatan pertama yang didengarnya. Mungkin umpatan itu bukanlah umpatan pertama yang pernah didengarnya. Namun umpatan itu adalah umpatan pertama yang diingatnya dan dia tidak mampu lagi mengingat umpatan-umpatan lain yang didengarnya sebelum mendengar umpatan itu.

Waktu itu usianya sekitar empat setengah tahun. Dia sedang berjalan pulang bersama ibunya dari warung. Burhan menggenggam tangan kiri ibunya sementara tangan kanan ibunya menenteng kantong plastik berisi dua buah wortel, satu buah kubis, lima buah kentang berukuran sedang, empat batang daun bawang, bawang merah, bawang putih, cabai besar, dan sekaleng daging cincang. Tiba-tiba saja, dari arah belakang, sebuah sepeda motor melintas kencang, nyaris menabrak ibunya. Plastik belanjaan yang dipegang ibunya terlepas dan isinya berhamburan di atas jalan. Burhan masih ingat ekspresi ibunya saat itu. Matanya melotot, urat lehernya mengeras, dan mulutnya menganga lebar. Lalu Burhan mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang tidak dilupakannya hingga sekarang.

“Hei! Dasar kurang ajar! Monyet tidak tahu diunt—“

Ibunya tidak pernah menyelesaikan kalimat terakhir itu. Wajah ibunya tiba-tiba saja berubah pucat. Napasnya memburu. Tangannya memegang dadanya. Burhan tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Ibunya tiba-tiba saja terjatuh dan tak bergeming. Orang-orang lalu mulai berdatangan.

“Cepat panggil ambulans!” teriak seorang pemuda yang mengenakan kemeja berwarna kuning tua.

“Sepertinya serangan jantung,” bisik seorang wanita kepada temannya.

“Sudah terlambat. Ibu ini tampaknya sudah tak bernyawa,” kata seorang bapak berkumis tebal.

Orang-orang masih berkerumun di sekitar tubuh ibunya sementara Burhan memunguti belanjaan yang tercecer di jalan lalu memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik satu persatu. Tidak ada yang mempedulikan Burhan atau mengajaknya bicara.

Setelah selesai memasukkan semua belanjaan ke dalam kantong plastik, Burhan lalu langsung berjalan pulang sendirian sambil membawa plastik berisi dua buah wortel, satu buah kubis, lima buah kentang berukuran sedang, empat batang daun bawang, bawang merah, bawang putih, cabai besar, dan sekaleng daging cincang.

***

Burhan berjalan melintasi truk sampah yang tergelincir dari jalan tepat ketika supir truk membuka pintu truk dengan gerakan yang cukup dramatis. Supir itu bertubuh gempal. Kulitnya agak hitam dengan tangan yang ditumbuhi cukup banyak bulu berukuran cukup panjang. Wajahnya kasar, dihiasi kumis lebat lengkap dengan brewok yang tak kalah lebatnya. Ternyata truk itu tergelincir karena sang supir mengerem mendadak akibat mobil di depannya mengerem mendadak. Supir truk melompat ke atas aspal, menghampiri pengemudi mobil yang baru saja keluar dari mobil yang dikendarainya.

“Anjing! Bisa nyetir nggak, sih?! Goblok! Untung gua sempet nge—“

Burhan tidak mendengar kelanjutan kalimat itu karena suara sang supir tiba-tiba tersamarkan oleh suara klakson metromini yang dibunyikan dengan durasi yang lumayan panjang.

Burhan sendiri sebenarnya tidak pernah tahu mengapa dia tidak pernah mengeluarkan satu umpatan pun hingga saat ini. Bukan atas dasar kesopanan dan tata karma, tentu saja. Burhan tidak pernah peduli dengan yang namanya tata karma. Sepertinya ada dua alasan yang cukup mendasar mengapa Burhan tidak pernah mengumpat. Pertama, Burhan tidak pernah tahu kapan dia harus mengeluarkan umpatan. Memang ada banyak momen dalam hidupnya yang seharusnya bisa dimanfaatkan Burhan untuk mengeluarkan umpatan. Namun dia tidak pernah lekas menyadarinya dan momen-momen itu akhirnya berlalu begitu saja. Alasan kedua, kendati seandainya Burhan tahu kapan dia harus mengumpat, Burhan tidak pernah tahu kata-kata apa yang harus dia gunakan sebagai umpatan. Apakah ‘anjing’? atau ‘bangsat’? atau ‘keparat’? Burhan tidak pernah tahu. Ketidakmampuan Burhan dalam memilih kata-kata apa yang sebaiknya dia keluarkan sebagai umpatan itulah yang akhirnya kembali membuat momen-momen pemicu umpatan itu akhirnya berlalu begitu saja.

Ambil contoh kejadian yang terjadi ketika dia duduk di bangku kelas 5 SD, misalnya. Waktu itu sedang jam istirahat dan Burhan sedang duduk di kebun belakang sekolah sambil menikmati roti isi yang dibawanya dari rumah sebagai bekal. Tiba-tiba saja kepalanya ditempeleng dari belakang, membuat roti isi yang dipegangnya terlepas dari tangannya lalu terjatuh ke atas tanah. Waktu itu sebenarnya Burhan sudah ingin mengumpat. Tapi seperti biasa, dia bingung harus mengeluarkan kata-kata apa sebagai umpatan. Kebingungannya semakin bertambah ketika dia menyadari bahwa yang barusan menempeleng kepalanya adalah Tigor, teman sekelasnya yang pernah berkelahi dengan siswa kelas 2 SMA, dan menang. Tigor sempat memandang wajah Burhan cukup lama, sambil tersenyum mengejek, menunggu apa yang kira-kira akan dilakukan oleh Burhan. Burhan hanya diam. Tidak melakukan apa-apa. Tigor bosan menunggu lalu pergi meninggalkan Burhan sendirian. Burhan duduk di kebun belakang sekolah hingga adzan maghrib berkumandang. Dia lalu berdiri, berjalan ke kelasnya, mengambil tas, lalu pulang sendirian dengan berjalan kaki.

***

Sebenarnya ada banyak lagi kejadian dalam hidup Burhan yang membuatnya harus mendengar berbagai umpatan. Ada banyak juga kejadian yang membuatnya ingin mengumpat meski pada akhirnya dia tetap tidak bisa mengeluarkan satu umpatan pun dari mulutnya. Pernah suatu ketika dia sedang makan di warung makan langganannya. Waktu itu, di sebelahnya duduk seorang bapak tua yang baru saja selesai menghabiskan makanannya. Ketika akan membayar, ternyata uangnya kurang. Bapak tua itu hanya meletakkan selembar uang di atas meja tanpa mengatakan apa-apa lalu berlalu dari warung begitu saja. Ibu pemilik warung mengambil uang yang ditinggalkan sang bapak sembari berkata, “Sialan! Tiap bayar selalu saja kurang! Dasar keledai bod—”

Burhan tidak mendengar kelanjutan kalimat itu karena suara ibu pemilik warung tersamarkan oleh suara truk pembawa alat berat yang melintas di depan warung, menghantarkan jutaan butiran debu ke dalam warung yang beberapa di antaranya masuk secara tidak sengaja ke dalam lubang hidung Burhan tepat sebelum dia menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan kanannya.

Pernah juga suatu ketika Burhan sedang berada di kantor tempatnya bekerja. Waktu itu siang hari dan udara sedang panas-panasnya. Kipas angin yang berputar di langit-langit kantor yang berukuran kecil itu tak mampu menghalau udara panas yang melesak masuk setiap kali pintu kaca dibuka oleh pengunjung yang ingin memesan tiket pesawat atau kereta api. Seorang bapak tua tiba-tiba saja masuk ke dalam kantor lalu duduk berhadap-hadapan dengan rekan kerja Burhan yang duduk satu meja di sebelahnya. Wajah bapak ini cukup familiar, pikir Burhan. Tapi dia tidak ingat di mana dia pernah melihat wajah bapak tua itu. Bapak itu ingin memesan tiket pesawat ke Berlin.

“Berlin, Jerman, pak?” tanya rekan kerja Burhan.

“Bukan. Berlin, Jepang,” jawab bapak tua itu.

“Tapi di Jepang tidak ada tempat bernama Berlin, pak,” balas rekan kerja Burhan sambil tersenyum.

“Ada,” jawab bapak tua itu singkat.

“Berlin itu di Jerman, pak,” kata rekan kerja Burhan lagi. Kali ini nada suaranya mulai agak meninggi.

“Bukan. Di Jepang,” jawab bapak tua itu dengan yakin.

Rekan kerja Burhan diam sejenak, menatap bapak tua itu sambil tersenyum mengejek. “Maaf, pak, untuk sementara tiket ke Berlin, JERMAN, tidak tersedia,” katanya akhirnya dengan nada diplomatis yang dibuat-buat dan tetap terkesan mengejek.

“Ah, bilang dari tadi. Saya buang-buang waktu saja,” kata bapak tua itu seraya berdiri dari kursi dan berjalan menuju pintu keluar.

Ketika bapak tua itu membuka pintu kaca dan keluar dari kantor, Burhan baru ingat di mana dia pernah melihat bapak tua itu. Dia adalah bapak tua yang sama yang pernah ditemuinya di warung makan langganannya, yang membayar makanan dengan uang yang kurang. Tiba-tiba saja Burhan merasa penasaran dan langsung membuka halaman mesin pencari di layar komputernya. Burhan menuliskan ‘Berlin Jepang’ di kolom pencarian. Sesaat kemudian, halaman hasil pencarian muncul di layar komputer. Ternyata memang ada kota bernama Berlin di Jepang. Burhan baru saja hendak memiringkan monitor komputernya untuk menunjukkan temuannya pada rekan kerjanya ketika rekan kerjanya berkata, “Tua bangka bodoh! Mana ada kota di Jepang bernama Berlin. Dasar otak ud—“

Rekan kerjanya tidak menyelesaikan kalimat itu karena telepon di mejanya berdering dan dia langsung mengangkatnya. Burhan menutup halaman mesin pencari di layar komputernya lalu berdiri dari kursinya.

“Hey, mau ke mana?” tanya rekan kerjanya.

“Merokok,” jawab Burhan pendek.

Begitulah. Cukup banyak memang kejadian yang melibatkan umpatan yang muncul dalam kehidpan Burhan. Yang jelas, dia tidak pernah menjadi orang yang mengeluarkan umpatan-umpatan tersebut.

***

Suatu kali Burhan pernah berlatih mengeluarkan umpatan di kamar kosnya. Waktu itu dia berdiri di depan cermin dan berusaha menciptakan berbagai ekspresi wajah yang terkesan sangar. Tentu saja hasilnya malah justru menggelikan. Burhan juga berulang kali mengeluarkan umpatan-umpatan seperti ‘anjing’, ‘bangsat’, atau ‘goblok’ dengan intonasi serta artikulasi yang bervariasi. Namun tetap saja dia tidak bisa mengeluarkan umpatan seperti yang sering didengarnya selama ini. Ada sesuatu yang kurang. Namun Burhan tidak tahu apa itu. Tepat delapan belas menit kemudian, Burhan merasa bosan lalu memutuskan untuk duduk di tepi tempat tidur sembari menghisap rokok.

***

Sesampainya di kos, Burhan langsung mandi, membuat semangkuk mie, menggoreng dua potong sosis, dan menyeduh secangkir teh. Burhan lalu duduk di kursi, menyeruput kuah mie, menggigit potongan sosis, dan mengaduk teh di dalam cangkir dengan sendok sambil menonton berita di TV mengenai sebuah SD yang terbakar. SD itu tampak familiar, pikir Burhan. Entah mengapa, gambar lidah api yang menjulur-julur itu tiba-tiba malah mengingatkan Burhan pada sesosok wajah.

Namanya Rini. Setahu Burhan, dia adalah sekretaris di sebuah perusahaan ekspor impor. Burhan mengenal Rini sejak empat bulan yang lalu. Tidak benar-benar mengenalnya, tentu saja. Hanya sebatas hubungan antara karyawan kantor jasa travel dengan pelanggan, bukan suatu hubungan yang sifatnya personal. Rini merupakan salah satu pelanggan tetap di kantor tempat Burhan bekerja. Rini akan menjumpai Burhan setiap kali dia membutuhkan tiket pesawat untuk atasannya yang akan melakukan perjalanan bisnis. Dalam sebulan, Rini bisa mengunjungi kantor jasa travel itu tujuh sampai delapan kali. Sejak perjumpaan pertama mereka empat bulan yang lalu, Burhan sudah merasa tertarik pada Rini. Namun dia tidak pernah menunjukkan hal tersebut. Terlebih lagi, dia selalu merasa agak sedikit canggung ketika harus berhadapan dengan gadis itu. Setiap kali berhadapan dengannya, Burhan selalu berusaha sekuat tenaga untuk terkesan profesional. Meski demikian, suaranya yang terdengar seperti kucing yang dicekik, butir-butir keringat yang menghiasi dahinya, serta diksinya yang tiba-tiba saja menjadi kacau tidak bisa menyembunyikan apa yang sebenarnya sedang dia rasakan.

“Ayolah, ajak gadis itu makan malam,” goda rekan kerja Burhan suatu hari.

Burhan hanya tersenyum mendengarnya. Ah, mana mungkin dia mau, pikirnya.

Kali ini layar TV menampilkan berita tentang seekor singa yang kabur dari kebun binatang.

Burhan menyeruput tehnya perlahan. Dia sudah hapal betul dengan jadwal kedatangan Rini ke kantor tempatnya bekerja. Dan besok dia akan kembali bertemu dengan gadis itu. Samar-samar Burhan mendengar suara auman singa dari koridor kos.

***

Tepat pukul sebelas, pintu kaca kantor jasa travel dibuka dari luar dan seorang gadis melangkah masuk diiringi suara hak sepatu yang beradu dengan lantai kantor.

“Halo,” sapa gadis itu sambil duduk di hadapan Burhan.

“Selamat siang,” jawab Burhan sambil tersenyum. “Ke Bangkok?” tanyanya kemudian.

Gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Burhan mengalihkan pandangannya ke layar monitor komputer sementara sang gadis tampak sedang mencari sesuatu di dalam tasnya.

“Selesai,” kata Burhan setelah beberapa saat. Suara mesin pencetak tiket terdengar mengiringi laju butir keringat yang meluncur turun di dahi Burhan.

Burhan lalu menyobek tiket dari mesin pencetak tiket, memasukkannya ke amplop, lalu menyerahkan amplop tersebut kepada sang gadis. Sang gadis menerima amplop itu sambil tersenyum, memasukkan amplop itu ke dalam tas, mengambil selembar amplop lain dari tas, lalu menyerahkan amplop itu kepada Burhan.

“Makasih, ya,” kata gadis itu seraya berdiri dari kursi.

Burhan ikut berdiri dari kursinya. “Terima kasih. Semoga anda puas dengan layan—“

“Kamu selesai kerja jam berapa?”

“Maaf?”

“Kamu nanti pulang jam berapa?” tanya gadis itu lagi sambil tertawa.

“Eh, setengah lima. Tapi mengap—“

“Temenin aku ngopi, yuk! Nanti setengah lima aku ke sini.”

Burhan tiba-tiba saja ingat kalau SD yang terbakar dalam berita semalam adalah SD tempat dia dulu pernah belajar. Burhan membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu. Entah mengapa telapak tangannya tiba-tiba saja terasa dingin. Kerongkongannya terasa sangat kering. Kepalanya tiba-tiba saja terasa berat, seperti sedang ditindih oleh empat ekor gajah berwarna ungu muda. Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya Burhan berhasil mengeluarkan kata-kata yang ingin diucapkannya dengan suara yang nyaris samar.

“Jembut sotong.”

TAMAT

Tagged ,

LOH LOH LOH

Hai~ Halo~ Lama tak jumpa ya~ Hhe~

Yaudah. Segitu aja basa-basinya.

Jadi beberapa waktu yang lalu, Mba Wina (@PerswinaAllaili) menunjukkan beberapa gambar yang selengkapnya bisa dilihat di sini.

1

2

3

4

Dari gambar-gambar tersebut di atas, Mba Wina lalu mencetuskan semacam ide. “Kita bikin versi kita aja, yuk!”

(((KITA)))

And i was laik, “Yeah, sure. Why not~”

Saya lalu mulai membuat gambar-gambar yang terinspirasi dari gambar-gambar di atas. Hasilnya kira-kira sebagai berikut.

1

2

4

3

Demikianlah.

Lalu Mba Wina kembali memberikan ide, “Nggak apa-apa bikinnya dikit dulu. Nanti bikin lagi aja. Mungkin bisa dibikin berseri gitu. Ditambahin narasi juga.”

And i was laik, “Waaaaaaaaaaa~”

Yaudah. Jadi mungkin nanti saya akan membuat gambar-gambar seperti ini lagi dan ditambahkan sedikit narasi yang sesuai dengan tema gambarnya. Tapi ya seperti biasa, nga janji yha~

Soalnya saya pemalas. Hhe hhe hhe~

Dah ah~

Tagged ,
Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea