PERSPEKTIF

“Makan siang, yuk!”
Aku menengadahkan kepalaku. Siska sedang menyandarkan kepalanya di atas kedua tangannya yang tersilang di pucuk pembatas kubikel.
“Uhmmm…”
“Ayooo!”
“Kamu duluan aja,” kataku sambil merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjaku.
Siska berdecak. “Ya udah,” katanya sambil berlalu.
Aku menyusun berkas di bagian kiri meja, mematikan komputer, lalu meregangkan tubuh dengan cara menarik tanganku ke atas. Aku berdiri, mengambil ponselku, lalu melangkah keluar kubikel. Baru beberapa langkah, kudengar ada yang memanggil namaku.
“Burhan!”
Aku menoleh. Rustam berjalan tergopoh-gopoh ke arahku. “Makan siang di mana?” tanyanya kemudian.
“Bu Tutik,” jawabku datar.
“Ah…” Rustam terdiam sebentar, menatapku sambil tersenyum. “Ya udah. Aku makan di kantin aja.”
Aku mengangguk lalu berjalan meninggalkan Rustam.

***

Aku mengambil piring dan menuangkan nasi ke atasnya. Kantin Bu Tutik, seperti layaknya jam makan siang, ramai oleh karyawan dari berbagai kantor yang terletak di sekitarnya. Beberapa wajah tampak tidak asing bagiku. Mereka adalah orang-orang yang bekerja di tempat yang sama denganku meskipun aku tak mengenal mereka secara personal.
Aku mengambil sepotong telur dadar dan meletakkannya di atas nasi. Satu sendok besar kuah pedas kusiramkan ke atas telur dadar itu. Aku lalu mengambil dua butir perkedel dan dua sendok besar tumis jipang. Kutambahkan dua sendok kecil sambal goreng ke atas nasi, mengambil segelas es teh, lalu berjalan ke arah kasir.
Kuletakkan piring dan gelas es teh di atas baki. Kuambil sepotong melon lalu kuletakkan di sebelah gelas es teh. Karyawan Bu Tutik menggerak-gerakkan jarinya di atas tombol mesin kasir, menyobek kertas nota, lalu meletakkannya di atas baki.
“Semuanya jadinya dua puluh dua ribu, Mas.”
Kukeluarkan dua lembar uang dari dompetku dan kuserahkan kepada si karyawan. Karyawan itu menerima uang yang kuberikan, membuka laci mesin kasir, memasukkan uang ke dalam laci, mengambil dua lembar uang kertas dan dua buah uang logam, lalu meletakkannya di atas baki.
“Kembaliannya, Mas. Makasih.”
Aku mengangguk lalu membawa bakiku ke arah meja. Semua meja penuh. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri sambil terus berjalan. Akhirnya aku meletakkan bakiku di meja kosong yang terletak di sudut ruangan. Aku duduk dan mulai makan sambil menggerak-gerakkan jariku di atas layar ponsel.
Beberapa saat kemudian, entah mengapa, aku memiliki dorongan yang sangat besar untuk menoleh ke arah kiri. Dan di sanalah dia. Perempuan itu. Duduk sendian menikmati makan siangnya sambil membaca majalah. Perempuan yang sudah mengikuti aku ke mana pun aku pergi selama beberapa minggu ini. Perempuan yang selalu kutemui hampir di mana pun aku berada. Di supermarket, di dalam bis, di taman, di toko buku, di toko barang bekas, di mana pun. Perempuan itu.
Dia mengenakan blus berwarna putih yang dibalut blazer berwarna biru dongker. Roknya berwarna sama dengan blazer yang dia kenakan dengan panjang sekitar satu jengkal di bawah lutut. Sepatunya bagus, dengan hak yang tidak terlalu tinggi, berwarna hitam. Rambutnya sebahu dan diikat dengan sangat rapi menggunakan ikat rambut yang juga berwarna hitam. Kulitnya putih. Riasan wajahnya tidak terlihat berlebihan. Dia cantik. Tidak terlalu menonjol, memang. Penampilannya, maksudku. Tapi cantik. Ya, dia cantik. Dan sepertinya aku mulai terpikat padanya. Agak terpikat.
Aku tahu perempuan itu sengaja makan di warung ini karena mengetahui bahwa aku sering makan di sini. Aku juga tahu alasan satu-satunya perempuan itu makan di warung ini adalah untuk mengikutiku, mengamatiku ketika aku tidak sadar sedang diamati, merekam setiap gerak-gerikku dalam kepalanya. Aku tahu karena perempuan itu sudah mengikuti aku ke mana pun aku pergi selama beberapa minggu ini. Aku tahu karena perempuan itu selalu kutemui hampir di mana pun aku berada. Di supermarket, di dalam bis, di taman, di toko buku, di toko barang bekas, di mana pun. Perempuan itu.
Tapi aku pura-pura tidak tahu karena aku menikmati semua ini, semua perhatian ini. Aku pura-pura tidak tahu jika perempuan itu sedang mengamatiku dari kejauhan. Aku pura-pura tidak tahu dan melanjutkan makan siangku sambil menggerak-gerakkan jariku di atas layar ponsel.

***

Rustam menghempaskan tubuh gempalnya ke atas bangku. Keringat mengucur deras dari setiap jengkal pori-pori kulitnya. Napasnya memburu, seperti bison yang baru saja meloloskan diri dari kejaran singa. Dia mengambil botol minum lalu mulai menenggak air seperti kesetanan. Dia menyodorkan botol minum itu ke arahku yang kubalas dengan gelengan pelan.
“Rus…”
“Hem…”
“Kamu inget nggak cewek yang ada di sini sekitar tiga minggu yang lalu? Waktu kita tanding lawan kantornya Beni itu…”
“Cewek?”
Rustam tampak berpikir. Matanya bergerak mengikuti Anton yang sedang menggiring bola menuju gawang. Tiba-tiba saja dia berteriak.
“TEMBAK, TON!”
Bola gagal masuk gawang. Rustam terlihat sedikit kesal.
“Cewek?” ulangnya.
“Iya. Yang di sini waktu kita tanding lawan—“
“Oh, yang pake jaket merah itu?”
“Nah, iya, yang itu,” aku berusaha menjaga nada bicaraku agar tidak terlihat terlalu gembira. Tapi rupanya terlambat. Rustam keburu melihat mataku yang berapi-api.
Rustam tersenyum menggoda sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya ke arahku.
“Ada apa nih tiba-tiba nanyain cewek itu. Hayooo…”
“Nggak, sih. Penasaran aja,” jawabku datar, berusaha untuk terlihat biasa.
“Namanya Winda. Dia satu kantor sama si Beni. Anaknya biasa aja, sih. Maksudnya nggak ada yang istimewa-istimewa amat gitu. Masih single. Lo kalo mau nomornya, minta ke Beni aja.”
“Nggak, sih. Aku cuma—“
“HALAAAAH! GOBLOK!” teriak Rustam sambil melangkah masuk ke lapangan. Dedi berjalan melewati Rustam yang masih mengoceh lalu duduk di sebelahku.
“Kenapa lo senyam-senyum?” tanya Dedi.
“Nggak. Nggak apa-apa…”

***

Ya. Perempuan itu bernama Winda. Dia satu kantor sama Beni. Masih single. Hanya itu yang aku tahu. Dan tidak, aku tidak meminta nomornya ke Beni. Tapi setidaknya sekarang aku tahu nama perempuan yang selalu mengikutiku beberapa minggu belakangan. Mungkin dia memang menyukaiku. Tidak apa-apa. Aku juga mulai menyukainya. Mungkin suatu saat aku akan mengajaknya makan malam. Atau sekadar jalan-jalan menikmati sore di taman.
Bis berhenti. Seorang ibu dan dua orang laki-laki turun dari bis, berganti dengan naiknya seorang perempuan. Aku menoleh sedikit dan melihat wajah yang tak asing bagiku. Tentu saja aku mengenali wajah itu. Perempuan itu. Winda.
Dia pura-pura tidak melihat ke arahku meskipun aku tahu bahwa alasan satu-satunya dia naik bis ini adalah karena dia tahu kalau aku berada di bis ini. Aku tersenyum. Tidak apa-apa. Aku juga bisa berpura-pura tidak menyadari kehadirannya. Biarkan saja dia mengamatiku seolah-olah aku tidak sadar sedang diamati.

***

Empat hari yang lalu aku kembali memergoki Winda sedang mengikutiku. Waktu itu aku sedang berada di bar. Winda datang dan duduk tak jauh dariku. Seperti biasa, dia berpura-pura tidak melihat ke arahku. Permainan ini semakin menyenangkan. Aku nyaris tertawa saking gemasnya.
Dua hari yang lalu aku kembali “tak sengaja” bertemu dengannya. Waktu itu aku sedang berada di toko buku. Aku akhirnya menyadari kalau Winda sedang berada di toko buku yang sama, terpisah dua rak buku dariku. Semangat perempuan ini cukup membuatku kagum. Mengapa dia tak datang langsung saja kepadaku, mengajakku ngobrol, dan mungkin kami bisa pergi membeli es krim atau duduk di kursi taman sambil memberi makan merpati? Apa yang dia tunggu? Apakah aku harus bergerak duluan?
Aku mulai merasa bahwa kami berjodoh. Aku dan Winda.

***

Sudah hampir satu jam aku berdiri di depan apartemen ini. Entah apa yang kulakukan di sini. Mungkin aku sudah kehilangan akal sehatku. Tapi ini harus kulakukan. Tindakan orang itu sudah sangat mengganggu.
Aku melihatnya datang dari kejauhan. Dia tersenyum dan matanya berbinar. Menjijikkan sekali, pikirku. Dia mendekatiku seolah-olah tidak ada yang salah.
“Winda? Ngapain kamu di—“
PLAK!
Telapak tanganku mendarat di pipinya. Sesaat aku merasa telapak tanganku begitu panas. Laki-laki itu memegang pipinya sementara aku berusaha menahan air mataku yang dari tadi hampir mengucur. Aku geram. Aku marah.
“Heh, orang aneh!” bentakku sambil mengacungkan telunjukku. “Berhenti mengikutiku! Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku tidak sadar? Kalau sampai—“
Aku menyeka air mataku.
“Kalau sampai aku memergokimu masih mengikutiku, aku akan lapor polisi! Kamu dengar?! Dasar orang sakit!”
Aku berjalan tergopoh-gopoh meninggalkan laki-laki itu. Kalau sampai dia mengejarku dan menangkap tanganku, aku akan berteriak dan menonjok matanya. Lihat saja. Lihat saja.
Tapi itu tidak terjadi dan aku sampai di apartemenku dengan selamat. Aku menangis selama, entahlah, mungkin satu jam. Tapi aku sedikit lega. Setidaknya laki-laki itu tahu kalau aku tidak menyukai apa yang dilakukannya selama beberapa minggu belakangan ini.

***

Aku berjalan menyusuri koridor yang mengarah ke apartemenku. Hari ini cukup melelahkan. Nanti aku akan mandi lalu memasak spaghetti.
Ketika melewati tangga, aku baru sadar bahwa ada seorang perempuan yang sedang berdiri di depan apartemenku. Sepertinya tidak asing, pikirku. Aku berjalan mendekat dan bibirku tiba-tiba saja merekah. Tubuhku tiba-tiba saja terasa hangat. Kegembiraan yang munculnya entah dari mana seperti mengisi setiap sel dalam tubuhku.
“Winda? Ngapain kamu di—“
PLAK!
Telapak tangan perempuan itu mendarat di pipiku. Sesaat aku merasa pipiku begitu panas. Aku menatap wajah Winda yang mulai memerah. Air mata tampak berebut ingin keluar dari kelopak matanya. Apakah itu tangisan bahagia, pikirku. Lalu apakah tamparan barusan adalah ungkapan cinta?
“Heh, orang aneh!” bentak Winda sambil mengacungkan telunjuknya. “Berhenti mengikutiku! Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku tidak sadar? Kalau sampai—“
Winda menyeka air matanya.
“Kalau sampai aku memergokimu masih mengikutiku, aku akan lapor polisi! Kamu dengar?! Dasar orang sakit!”
Setelah berkata demikian, Winda berjalan tergopoh-gopoh meninggalkanku yang masih berdiri mematung sambil memegang pipiku. Aku tidak berusaha mengejarnya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Winda menamparku lalu menyatakan perasaannya. Agak aneh, memang. Setidaknya kini aku tahu bahwa Winda memang memiliki perasaan padaku. Perasaan cinta. Mendengar Winda mengatakan bahwa dia mencintaiku membuatku tidak lagi merasakan nyeri yang menjalar di pipi kiriku.
Benar dugaanku. Kami berjodoh. Aku dan Winda. Ini akan jadi awal yang indah bagi kami. Tak sadar aku pun tersenyum.
Aku bahagia.

 

– TAMAT –

 

Advertisements
Tagged ,

Aku Ingin Jadi Penulis

“Aku ingin jadi penulis,” ujarku pagi itu dengan penuh semangat. Aku baru saja selesai mandi dan rambutku masih agak basah.

Burhan hanya tersenyum mendengar apa yang baru saja kukatakan. Dia menyeruput kopi dari cangkirnya lalu berkata, “Kamu tuh nggak mau jadi penulis. Kamu tuh cuma mau jadi Fiersa Besari. Kamu cuma mau bikin rangkaian kata-kata mutiara yang indah dan terkesan memiliki makna yang mendalam padahal nggak. Kamu cuma mau bikin puisi-puisi romantik tentang cinta dan omong kosong lainnya tentang perasaan yang mendalam dengan harapan kamu akan disukai oleh banyak wanita dan menjadi terkenal. Kamu tuh nggak mau jadi penulis.”

“Anjing!” umpatku kesal.

Burhan terkekeh. Dia berdiri dari kursi, kembali menyeruput kopinya, meletakkan cangkir di atas meja, lalu berjalan ke arah jendela. Dia menoleh ke arahku lalu tersenyum sinis. “Percayalah, kamu nggak mau jadi penulis,” katanya lirih sebelum akhirnya dia melompat keluar jendela dari kamar apartemen yang terletak di lantai 12.

Aku mengeringkan rambutku dengan handuk, melempar handuk ke pojok kamar, lalu duduk di depan laptop. Kubuka halaman kosong di layar laptop dan mulai mengetik sebuah judul.

Aku Ingin Menjadi Fiersa Besari

Di bawahnya aku ketikkan:

“Aku ingin jadi penulis,” ujarku pagi itu dengan penuh semangat. Aku baru saja selesai mandi dan rambutku masih agak basah.

Lalu di bawahnya aku ketikkan:

Burhan hanya tersenyum mendengar apa yang baru saja kukatakan. Dia menyeruput kopi dari cangkirnya lalu berkata, “Kamu tuh nggak mau jadi penulis. Kamu tuh cuma mau jadi Fiersa Besari. Kamu cuma mau bikin rangkaian kata-kata mutiara yang indah dan terkesan memiliki makna yang mendalam padahal nggak. Kamu cuma mau bikin puisi-puisi romantik tentang cinta dan omong kosong lainnya tentang perasaan yang mendalam dengan harapan kamu akan disukai oleh banyak wanita dan menjadi terkenal. Kamu tuh nggak mau jadi penulis.”

Lalu di bawahnya aku ketikkan:

“Anjing!” umpatku kesal.

Lalu di bawahnya aku ketikkan:

Burhan terkekeh. Dia berdiri dari kursi, kembali menyeruput kopinya, meletakkan cangkir di atas meja, lalu berjalan ke arah jendela. Dia menoleh ke arahku lalu tersenyum sinis. “Percayalah, kamu nggak mau jadi penulis,” katanya lirih sebelum akhirnya dia melompat keluar jendela dari kamar apartemen yang terletak di lantai 12.

Lalu di bawahnya aku ketikkan:

TAMAT

Aku menutup layar laptop lalu berjalan ke arah jendela. Kunyalakan sebatang rokok, kuhisap dengan penuh penghayatan, lalu aku melompat keluar jendela dari kamar apartemen yang terletak di lantai 12.

 

TAMAT

Tagged ,

Seekor Anjing Ditabrak Motor Astrea Grand di Jalan Ahmad Yani Dini Hari Tadi

Kejadian ini berlangsung kurang lebih dua jam yang lalu, sekitar pukul tiga lewat duabelas menit. Sebuah motor Astrea Grand melaju kencang di Jalan Ahmad Yani dari arah utara. Pengendaranya adalah seorang pemuda berusia sekitar 24 atau 25 tahun. Pakaiannya biasa saja dan tidak ada yang terlihat istimewa dari pemuda itu. Motor Astrea Grand itu sepertinya dipacu pada kecepatan 70 atau bahkan 80 km/jam.

Tepat di depan sebuah kios rokok yang terletak di sebelah Gedung Balai Penyuluhan Pertanian, seekor anjing beringsut dari pinggir jalan menuju ke tengah jalan tanpa mempedulikan motor Astrea Grand yang meluncur kencang menuju ke arahnya. Anjing itu tampak letih dan melangkahkan kakinya pelan-pelan.

Dua detik kemudian terdengar suara karet ban yang bergesek dengan permukaan aspal yang kemudian disusul dengan suara lengkingan pendek yang dikeluarkan oleh si anjing. Motor Astrea Grand itu menabrak anjing itu tepat di bagian kanan perutnya, melemparkan tubuh si anjing sekitar dua meter ke depan. Motor itu lalu ikut terlempar, lalu terjatuh ke atas permukaan aspal, lalu terguling sampai kira-kira sejauh enam meter ke depan. Pemuda yang mengendarai motor itu ikut terpental ke udara bersama motornya, ikut terjatuh ke atas aspal, lalu ikut berguling bersama bangkai motor.

Perut si anjing terburai, menampakkan usus yang terlilit kusut dan bertebaran di atas aspal. Darah segar mengalir keluar dari lubang yang tercipta di perut si anjing. Bulu di tubuhnya tampak kaku, basah bercampur percikan darah pekat. Buih berwarna putih keluar dari moncongnya yang tak terkatup. Anjing itu sudah mati. Sudah tamat riwayatnya.

Sementara si pemuda tertindih motor kira-kira empat meter jauhnya dari bangkai si anjing. Setang motor patah dan terpisah dari posisi semula. Kaki sang pemuda tampak membengkok ke arah yang tidak semestinya. Benda keras berwarna putih tampak mencuat keluar dari daging betisnya. Benda yang sama juga tampak mencuat keluar dari dada sang pemuda. Darah segar mengalir keluar dari mulut sang pemuda, dari rekahan di batok kepalanya, dan dari lubang di perut bagian kiri bawah. Pemuda itu sudah mampus. Sudah hilang nyawanya.

Satu-satunya orang yang melihat kejadian itu adalah seorang bapak tua pemilik kios rokok yang terletak tak jauh dari tempat kejadian. Wajah bapak tua itu tampak bodoh, seakan-akan tidak mampu mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Beliau tampak bingung, seperti tak tahu apa yang seharusnya diperbuat. Di tengah kebingungannya, bapak tua itu berkata pelan.

“Bu…”

Tidak ada jawaban.

“Bu…”

Terdengar suara melenguh pelan dari arah dalam kios rokok.

“Bu…”

“Apa sih, Pak?”

“Ada orang nabrak anjing…”

Suara lenguhan itu kembali terdengar. Disusul dengan ucapan bernada lirih. “Biarin aja lah, Pak…”

Lalu hening.

Bapak tua itu masih berdiri di depan kios rokok miliknya. Kakinya terlihat sedikit gemetar. Wajahnya mulai tampak pucat. Tanpa disadarinya, mulutnya mengeluarkan gumaman dengan suara bergetar.

“Duh, Gusti… Aku takut mati…”

 

TAMAT

Tagged

Warung Pak Wardiman

graphic1

“Skak!”

Pak Wardiman tersenyum lalu menggeser benteng dua kotak ke samping kanan, tepat satu kotak di depan raja.

“Bisa… Bisa…” gumam Pak Mulyono sambil menyelipkan sebatang rokok kretek ke sela bibirnya.

Sebuah mobil berhenti di depan warung. Seorang laki-laki muda turun dari mobil lalu berjalan menghampiri.

“Cari apa, Mas?” Tanya Pak Mulyono.

“Ada rokok, Pak?” Si laki-laki muda balik bertanya.

“Oh, ada. Mau rokok apa?” Pak Mulyono bertanya lagi. Kali ini sambil beranjak dari duduknya lalu berjalan ke dalam warung.

Laki-laki muda itu menyebutkan salah satu merk rokok, lalu Pak Mulyono mengambil rokok yang dimaksud, lalu menyerahkan bungkus rokok itu pada si laki-laki muda, lalu si laki-laki muda menyerahkan selembar uang limapuluhribuan pada Pak Mulyono, lalu Pak Mulyono mengambil uang itu dari tangan si laki-laki muda, lalu Pak Mulyono menyerahkan beberapa lembar uang pada si laki-laki muda sebagai kembalian.

“Ini kalau mau ke Hotel Permata terus aja kan, Pak?” Laki-laki muda itu kembali bertanya pada Pak Mulyono yang kali ini sudah kembali duduk berhadap-hadapan dengan Pak Wardiman.

“Betul, Mas. Terus aja nanti ketemu tempat laundry. Hotel Permata di sebelahnya tempat laundry itu.”

“Oh, ya udah, Pak. Makasih,” laki-laki muda itu tersenyum sambil mengangguk ke arah Pak Mulyono dan Pak Wardiman yang dibalas oleh keduanya juga dengan anggukan dan senyuman. Laki-laki muda itu kemudian naik kembali ke mobilnya, meninggalkan Pak Mulyono dan Pak Wardiman yang kembali melanjutkan permainan catur.

“Kejadian kayak tadi sering, ya?” Tanya Pak Wardiman sembari menggerakkan kuda ke arah samping kiri.

“Orang nanya arah gitu? Ya, lumayan. Nggak sering-sering amat sih. Tapi ada lah satu dua.”

Pak Wardiman terdiam sesaat, seperti sedang berpikir. Dia menggerakkan peluncur mundur beberapa kotak lalu kembali terdiam.

“Kenapa, toh?” Tanya Pak Mulyono.

Nggak apa-apa,” jawab Pak Wardiman nyaris lirih.

“Skak Mat!”

Pak Mulyono menghembuskan asap rokok lalu tertawa. Pak Wardiman masih saja terdiam.

***

“Kita buka warung udah berapa lama sih, Bu?” Tanya Pak Wardiman sembari menyuapkan sesendok nasi bercampur potongan tempe goreng dan sayur bayam ke dalam mulutnya.

“Kenapa emangnya, Pak? Tumben nanya gitu?”

Nggak, sih. Sekitar 28 tahun gitu, ya?”

“Iya, mungkin. Kenapa toh emangnya?”

Pak Wardiman memotong tempe goreng dengan sendoknya, mencapur potongan itu dengan nasi, lalu menyendok campuran itu dengan sendoknya. “Kemaren malem aku kan main catur kayak biasanya di warung Pak Mulyono,” kaya Pak Wardiman sambil memegang sendok berisi campuran nasi dan potongan tempe goreng tepat di depan wajahnya. “Terus tau-tau ada laki-laki beli rokok,” sambungnya. Pak Wardiman memasukkan sendok berisi campuran nasi dan tempe goreng ke dalam mulutnya, mengunyah pelan, lalu melanjutkan ceritanya. “Terus si laki-laki itu nanya arah ke Hotel Permata sama Pak Mulyono. Terus sama Pak Mulyono dijelasin gitu arah ke hotel yang dimaksud.”

“Terus? Nggak ada yang aneh, kan? Orang nanya arah ke pemilik warung itu hal yang biasa, toh?”

“Justru itu.”

“Justru itu gimana, Pak?”

“Kita punya warung juga udah lama, kan? Gara-gara kejadian kemaren malem itu, aku terus kepikiran, Bu. Setelah tak ingat-ingat, selama 28 tahun jaga warung, aku kok belum pernah ya ditanyain arah oleh pengunjung warung seperti Pak Mulyono itu.”

Istri Pak Wardiman hanya diam mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya. Bibirnya bergerak pelan seperti ingin tersenyum. Namun, dia terlihat sedang berusaha keras menahan agar senyum itu tidak tercipta di wajahnya.

“Aneh, toh, Bu? Masa selama 28 tahun jaga warung aku belum pernah ditanyain arah atau ditanyain alamat sama –“

Tawa istri Pak Wardiman akhirnya meledak. Pak Wardiman tampak heran melihat reaksi istrinya.

Oalah, Pak. Masa hal remeh gitu aja dipikirin? Ada-ada aja kamu ini, Pak,” kata istrinya sambil membereskan meja lalu berjalan ke arah dapur.

Pak Wardiman masih duduk di kursinya, berdiam diri sambil melipat-lipat serbet makan dengan kedua tangannya.

***

Siang itu Pak Wardiman duduk di kursi di depan warungnya sambil membaca koran. Berita tentang sidang kopi beracun yang dibacanya sebenarnya sudah tidak lagi menarik baginya. Namun, dia tetap membaca berita itu sekadar untuk mengisi waktu.

Sebuah mobil berhenti di depan warungnya. Pak Wardiman mengangkat wajahnya dan melihat ke arah mobil. Seorang perempuan turun dari mobil lalu berjalan ke arahnya.

“Permisi, Pak,” sapa perempuan itu.

Pak Wardiman melipat korannya, bangkit dari duduknya, lalu meletakkan lipatan koran di kursi. “Ya, Mbak?”

Perempuan itu mengeluarkan secarik kertas dari tas tangannya lalu menyodorkan kertas itu ke arah Pak Wardiman. “Bapak tau alamat ini?” tanyanya kemudian.

Pak Wardiman tampak terkejut. Pandangannya berpindah dari tulisan di atas kertas yang disodorkan kepadanya ke wajah sang perempuan. Dia sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Gimana, Pak?”

Pak Wardiman mengambil secarik kertas yang disodorkan kepadanya. “Eh… eh…” gumamnya sambil melangkah pelan ke arah tepi jalan. Perempuan itu mengikuti Pak Wardiman dari belakang.

Pak Wardiman tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap si perempuan. Perempuan itu tampak sedikit terkejut.

“Iya, Mbak! Saya tau alamat ini!” kata Pak Wardiman dengan semangat. “Jadi dari sini Mbak nanti jalan aja ke – “

“Bunda!” tiba-tiba seorang anak laki-laki beteriak dari dalam mobil. Kepalanya mencungul lewat kaca pintu mobil yang terbuka.

Perempuan itu menaikkan pandangannya melewati bahu Pak Wardiman. “Sebentar, Aldo! Bunda lagi nanya –“

“Aldo udah tau tempetnya!” jawab si anak laki-laki sambil menunjukkan layar komputer tablet yang digenggamnya.

Perempuan itu bergegas mendatangi anak laki-lakinya, melihat layar komputer tablet yang ditunjukkan anaknya, lalu kembali mendatangi Pak Wardiman.

“Jadi dari sini Mbak nanti –“

“Eh, nggak usah, Pak. Saya udah tau alamatnya.” Kata perempuan itu seraya mengambil secarik kertas yang masih dipegang oleh Pak Wardiman dengan erat. Perempuan itu sedikit menarik kertas yang dipegang Pak Wardiman. Namun, Pak Wardiman tak kunjung melepaskan kertas yang dipegangnya. Perempuan itu menatap Pak Wardiman dengan heran. “Pak,” kata perempuan itu dengan nada sedikit tinggi. Pak Wardiman tersadar lalu melepaskan kertas yang dipegangnya. Perempuan itu buru-buru memasukkan kertas ke dalam tas tangannya, masuk ke dalam mobilnya, lalu memacu mobil meninggalkan Pak Wardiman yang masih berdiri mematung di tepi jalan.

Pak Wardiman masih memandangi mobil si perempuan yang kian menjauh, meninggalkan sapuan debu tipis yang melayang-layang pelan di bawah terik matahari.

“Pak! jajan!”

Pak Wardiman tersadar lalu menoleh ke arah warung. Seorang anak perempuan berdiri di depan warung, menggenggam uang kertas lusuh di tangan kirinya. Pak Wardiman tersenyum lalu menghampiri anak perempuan itu.

“Mau beli apa?”

 

TAMAT

Tagged

Menulis Bersama

Hai. Halo~

Bagaimana kabar kalian?

Ya udah. Segitu aja basa-basinya.

Tulisan kali ini sebenarnya merupakan ajakan bagi semua teman-teman yang mengikuti (saya agak malas sebenarnya menggunakan kata ini karena terkesan uopooooh. Tapi ya udahlah gak apa-apa sekali-sekali) saya di media sosial, dalam hal ini Twitter. Ajakan apa?

Jadi gini… (halaaaah~)

Beberapa hari belakangan saya merasa agak jenuh dengan aktivitas saya sehari-hari yang melibatkan keyboard dan monitor. Ingin menulis (untuk senang-senang) namun merasa mandeg juga (lagian masih ada tiga tulisan senang-senang yang nga kelar-kelar sejak dari kapan karena dst dst). Tapi kalau tidak menulis, saya kayaknya bakal merasa makin sumpek karena kotoran di dalam batok kepala toh tetap harus dikeluarkan. Sehingga~

Saya ingin mengajak teman-teman untuk menulis bersama. Kali ini (lagi-lagi) dengan memanfaatkan media Twitter. Jika dulu sebelumnya saya pernah iseng membuat cerita di Twitter dengan menggunakan fasilitas polling (yang mana biasa aja sih sebenernya nga fantastis fantastis amat), maka kali ini saya ingin melibatkan teman-teman lebih jauh lagi. Seperti sebelumnya, kegiatan kali ini juga bersifat iseng yang mana~

Caranya gimana?

Berikut akan saya sampaikan prosedurnya dalam bentuk kronologikal.

  1. Saya akan memulai dengan satu tweet narasi (seperti tweet narasi yang kerap saya buat selama ini). Tweet ini akan jadi awal cerita. Sebut saja Tweet Narasi 1.
  2. Teman-teman yang mengikuti saya di Twitter saya persilakan untuk meneruskan narasi yang saya buat dengan cara membalas (reply) Tweet Narasi 1. 1 orang hanya dipersilakan untuk membalas 1 kali saja (untuk membuka kesempatan bagi teman-teman lain yang mungkin ingin ikut berpartisipasi).
  3. Batas waktu untuk membalas Tweet Narasi 1 adalah satu hari (24 jam).
  4. Setelah itu, dari tweet balasan untuk Tweet narasi 1, saya akan memilih satu tweet untuk dijadikan lanjutan resmi dari Tweet Narasi 1. Sebut saja Tweet Narasi 2.
  5. Tweet Narasi 2 tersebut nantinya akan saya post dalam bentuk quote tepat di bawah Tweet Narasi 1. Teman-teman dipersilakan untuk meneruskan cerita dengan cara seperti yang dijelaskan pada poin nomor 2 (memberikan balasan pada Tweet Narasi 2). Batas waktu membalas Tweet Narasi 2 adalah 1 hari (24 jam).
  6. Saya kembali akan memilih satu tweet balasan dan menjadikannya sebagai lanjutan resmi dari Tweet Narasi 2. Sebut saja Tweet Narasi 3. Demikian seterusnya.
  7. Oya, bagi teman-teman yang tweetnya sudah terpilih sebagai tweet lanjutan resmi (Tweet Narasi 2 dan seterusnya), dengan berat hati saya mohon agar tidak lagi mengikuti kegiatan ini (sekali lagi, demi membuka kesempatan bagi teman-teman lain yang mungkin ingin ikut berpartisipasi).
  8. Kegiatan menulis bersama ini dapat teman-teman ikuti sampai batas waktu yang belum saya tentukan. Bila nantinya saya rasa narasinya harus diakhiri, saya sendiri yang akan membuat bagian penutup tersebut.
  9. Setelah jadi satu cerita utuh, cerita tersebut akan saya publikasikan di blog ini. Teman-teman yang berpartisipasi, akan saya cantumkan creditnya (termasuk username Twitter-nya). Bila ada teman-teman yang keberatan untuk dicantumkan dalam credit, silakan utarakan langsung saja pada saya (lewat mention atau lewat DM).
  10. Kegiatan ini hanya dilakukan atas dasar keisengan semata dan bukan untuk tujuan mencari keuntungan finansial. Saya mohon maaf apabila saya tidak bisa memberikan penghargaan dalam bentuk apapun atas partisipasi teman-teman selain apresiasi saya terhadap keinginan teman-teman untuk (terlibat) menulis.
  11. Demikian kiranya prosedur kegiatan Menulis Bersama ini. Saya tidak memberikan nama yang spektakular untuk kegiatan ini karena… ya namanya juga cuma iseng. hhe hhe… Bila ada yang ingin ditanyakan, silakan mention atau kirimkan DM ke akun Twitter saya.

Ya udah gitu aja.

Tweet Narasi 1 rencananya akan saya buat pada hari Kamis, 21 Juli 2016, pada pukul 09:00. Jadi nantinya akan ada update setiap hari pada jam yang sama.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih dst dst~

 

Ayo menulis bersama~  :3

Advertisements