Aku Ingin Jadi Penulis

“Aku ingin jadi penulis,” ujarku pagi itu dengan penuh semangat. Aku baru saja selesai mandi dan rambutku masih agak basah.

Burhan hanya tersenyum mendengar apa yang baru saja kukatakan. Dia menyeruput kopi dari cangkirnya lalu berkata, “Kamu tuh nggak mau jadi penulis. Kamu tuh cuma mau jadi Fiersa Besari. Kamu cuma mau bikin rangkaian kata-kata mutiara yang indah dan terkesan memiliki makna yang mendalam padahal nggak. Kamu cuma mau bikin puisi-puisi romantik tentang cinta dan omong kosong lainnya tentang perasaan yang mendalam dengan harapan kamu akan disukai oleh banyak wanita dan menjadi terkenal. Kamu tuh nggak mau jadi penulis.”

“Anjing!” umpatku kesal.

Burhan terkekeh. Dia berdiri dari kursi, kembali menyeruput kopinya, meletakkan cangkir di atas meja, lalu berjalan ke arah jendela. Dia menoleh ke arahku lalu tersenyum sinis. “Percayalah, kamu nggak mau jadi penulis,” katanya lirih sebelum akhirnya dia melompat keluar jendela dari kamar apartemen yang terletak di lantai 12.

Aku mengeringkan rambutku dengan handuk, melempar handuk ke pojok kamar, lalu duduk di depan laptop. Kubuka halaman kosong di layar laptop dan mulai mengetik sebuah judul.

Aku Ingin Menjadi Fiersa Besari

Di bawahnya aku ketikkan:

“Aku ingin jadi penulis,” ujarku pagi itu dengan penuh semangat. Aku baru saja selesai mandi dan rambutku masih agak basah.

Lalu di bawahnya aku ketikkan:

Burhan hanya tersenyum mendengar apa yang baru saja kukatakan. Dia menyeruput kopi dari cangkirnya lalu berkata, “Kamu tuh nggak mau jadi penulis. Kamu tuh cuma mau jadi Fiersa Besari. Kamu cuma mau bikin rangkaian kata-kata mutiara yang indah dan terkesan memiliki makna yang mendalam padahal nggak. Kamu cuma mau bikin puisi-puisi romantik tentang cinta dan omong kosong lainnya tentang perasaan yang mendalam dengan harapan kamu akan disukai oleh banyak wanita dan menjadi terkenal. Kamu tuh nggak mau jadi penulis.”

Lalu di bawahnya aku ketikkan:

“Anjing!” umpatku kesal.

Lalu di bawahnya aku ketikkan:

Burhan terkekeh. Dia berdiri dari kursi, kembali menyeruput kopinya, meletakkan cangkir di atas meja, lalu berjalan ke arah jendela. Dia menoleh ke arahku lalu tersenyum sinis. “Percayalah, kamu nggak mau jadi penulis,” katanya lirih sebelum akhirnya dia melompat keluar jendela dari kamar apartemen yang terletak di lantai 12.

Lalu di bawahnya aku ketikkan:

TAMAT

Aku menutup layar laptop lalu berjalan ke arah jendela. Kunyalakan sebatang rokok, kuhisap dengan penuh penghayatan, lalu aku melompat keluar jendela dari kamar apartemen yang terletak di lantai 12.

 

TAMAT

Advertisements
Tagged ,

Seekor Anjing Ditabrak Motor Astrea Grand di Jalan Ahmad Yani Dini Hari Tadi

Kejadian ini berlangsung kurang lebih dua jam yang lalu, sekitar pukul tiga lewat duabelas menit. Sebuah motor Astrea Grand melaju kencang di Jalan Ahmad Yani dari arah utara. Pengendaranya adalah seorang pemuda berusia sekitar 24 atau 25 tahun. Pakaiannya biasa saja dan tidak ada yang terlihat istimewa dari pemuda itu. Motor Astrea Grand itu sepertinya dipacu pada kecepatan 70 atau bahkan 80 km/jam.

Tepat di depan sebuah kios rokok yang terletak di sebelah Gedung Balai Penyuluhan Pertanian, seekor anjing beringsut dari pinggir jalan menuju ke tengah jalan tanpa mempedulikan motor Astrea Grand yang meluncur kencang menuju ke arahnya. Anjing itu tampak letih dan melangkahkan kakinya pelan-pelan.

Dua detik kemudian terdengar suara karet ban yang bergesek dengan permukaan aspal yang kemudian disusul dengan suara lengkingan pendek yang dikeluarkan oleh si anjing. Motor Astrea Grand itu menabrak anjing itu tepat di bagian kanan perutnya, melemparkan tubuh si anjing sekitar dua meter ke depan. Motor itu lalu ikut terlempar, lalu terjatuh ke atas permukaan aspal, lalu terguling sampai kira-kira sejauh enam meter ke depan. Pemuda yang mengendarai motor itu ikut terpental ke udara bersama motornya, ikut terjatuh ke atas aspal, lalu ikut berguling bersama bangkai motor.

Perut si anjing terburai, menampakkan usus yang terlilit kusut dan bertebaran di atas aspal. Darah segar mengalir keluar dari lubang yang tercipta di perut si anjing. Bulu di tubuhnya tampak kaku, basah bercampur percikan darah pekat. Buih berwarna putih keluar dari moncongnya yang tak terkatup. Anjing itu sudah mati. Sudah tamat riwayatnya.

Sementara si pemuda tertindih motor kira-kira empat meter jauhnya dari bangkai si anjing. Setang motor patah dan terpisah dari posisi semula. Kaki sang pemuda tampak membengkok ke arah yang tidak semestinya. Benda keras berwarna putih tampak mencuat keluar dari daging betisnya. Benda yang sama juga tampak mencuat keluar dari dada sang pemuda. Darah segar mengalir keluar dari mulut sang pemuda, dari rekahan di batok kepalanya, dan dari lubang di perut bagian kiri bawah. Pemuda itu sudah mampus. Sudah hilang nyawanya.

Satu-satunya orang yang melihat kejadian itu adalah seorang bapak tua pemilik kios rokok yang terletak tak jauh dari tempat kejadian. Wajah bapak tua itu tampak bodoh, seakan-akan tidak mampu mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Beliau tampak bingung, seperti tak tahu apa yang seharusnya diperbuat. Di tengah kebingungannya, bapak tua itu berkata pelan.

“Bu…”

Tidak ada jawaban.

“Bu…”

Terdengar suara melenguh pelan dari arah dalam kios rokok.

“Bu…”

“Apa sih, Pak?”

“Ada orang nabrak anjing…”

Suara lenguhan itu kembali terdengar. Disusul dengan ucapan bernada lirih. “Biarin aja lah, Pak…”

Lalu hening.

Bapak tua itu masih berdiri di depan kios rokok miliknya. Kakinya terlihat sedikit gemetar. Wajahnya mulai tampak pucat. Tanpa disadarinya, mulutnya mengeluarkan gumaman dengan suara bergetar.

“Duh, Gusti… Aku takut mati…”

 

TAMAT

Tagged

Warung Pak Wardiman

graphic1

“Skak!”

Pak Wardiman tersenyum lalu menggeser benteng dua kotak ke samping kanan, tepat satu kotak di depan raja.

“Bisa… Bisa…” gumam Pak Mulyono sambil menyelipkan sebatang rokok kretek ke sela bibirnya.

Sebuah mobil berhenti di depan warung. Seorang laki-laki muda turun dari mobil lalu berjalan menghampiri.

“Cari apa, Mas?” Tanya Pak Mulyono.

“Ada rokok, Pak?” Si laki-laki muda balik bertanya.

“Oh, ada. Mau rokok apa?” Pak Mulyono bertanya lagi. Kali ini sambil beranjak dari duduknya lalu berjalan ke dalam warung.

Laki-laki muda itu menyebutkan salah satu merk rokok, lalu Pak Mulyono mengambil rokok yang dimaksud, lalu menyerahkan bungkus rokok itu pada si laki-laki muda, lalu si laki-laki muda menyerahkan selembar uang limapuluhribuan pada Pak Mulyono, lalu Pak Mulyono mengambil uang itu dari tangan si laki-laki muda, lalu Pak Mulyono menyerahkan beberapa lembar uang pada si laki-laki muda sebagai kembalian.

“Ini kalau mau ke Hotel Permata terus aja kan, Pak?” Laki-laki muda itu kembali bertanya pada Pak Mulyono yang kali ini sudah kembali duduk berhadap-hadapan dengan Pak Wardiman.

“Betul, Mas. Terus aja nanti ketemu tempat laundry. Hotel Permata di sebelahnya tempat laundry itu.”

“Oh, ya udah, Pak. Makasih,” laki-laki muda itu tersenyum sambil mengangguk ke arah Pak Mulyono dan Pak Wardiman yang dibalas oleh keduanya juga dengan anggukan dan senyuman. Laki-laki muda itu kemudian naik kembali ke mobilnya, meninggalkan Pak Mulyono dan Pak Wardiman yang kembali melanjutkan permainan catur.

“Kejadian kayak tadi sering, ya?” Tanya Pak Wardiman sembari menggerakkan kuda ke arah samping kiri.

“Orang nanya arah gitu? Ya, lumayan. Nggak sering-sering amat sih. Tapi ada lah satu dua.”

Pak Wardiman terdiam sesaat, seperti sedang berpikir. Dia menggerakkan peluncur mundur beberapa kotak lalu kembali terdiam.

“Kenapa, toh?” Tanya Pak Mulyono.

Nggak apa-apa,” jawab Pak Wardiman nyaris lirih.

“Skak Mat!”

Pak Mulyono menghembuskan asap rokok lalu tertawa. Pak Wardiman masih saja terdiam.

***

“Kita buka warung udah berapa lama sih, Bu?” Tanya Pak Wardiman sembari menyuapkan sesendok nasi bercampur potongan tempe goreng dan sayur bayam ke dalam mulutnya.

“Kenapa emangnya, Pak? Tumben nanya gitu?”

Nggak, sih. Sekitar 28 tahun gitu, ya?”

“Iya, mungkin. Kenapa toh emangnya?”

Pak Wardiman memotong tempe goreng dengan sendoknya, mencapur potongan itu dengan nasi, lalu menyendok campuran itu dengan sendoknya. “Kemaren malem aku kan main catur kayak biasanya di warung Pak Mulyono,” kaya Pak Wardiman sambil memegang sendok berisi campuran nasi dan potongan tempe goreng tepat di depan wajahnya. “Terus tau-tau ada laki-laki beli rokok,” sambungnya. Pak Wardiman memasukkan sendok berisi campuran nasi dan tempe goreng ke dalam mulutnya, mengunyah pelan, lalu melanjutkan ceritanya. “Terus si laki-laki itu nanya arah ke Hotel Permata sama Pak Mulyono. Terus sama Pak Mulyono dijelasin gitu arah ke hotel yang dimaksud.”

“Terus? Nggak ada yang aneh, kan? Orang nanya arah ke pemilik warung itu hal yang biasa, toh?”

“Justru itu.”

“Justru itu gimana, Pak?”

“Kita punya warung juga udah lama, kan? Gara-gara kejadian kemaren malem itu, aku terus kepikiran, Bu. Setelah tak ingat-ingat, selama 28 tahun jaga warung, aku kok belum pernah ya ditanyain arah oleh pengunjung warung seperti Pak Mulyono itu.”

Istri Pak Wardiman hanya diam mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya. Bibirnya bergerak pelan seperti ingin tersenyum. Namun, dia terlihat sedang berusaha keras menahan agar senyum itu tidak tercipta di wajahnya.

“Aneh, toh, Bu? Masa selama 28 tahun jaga warung aku belum pernah ditanyain arah atau ditanyain alamat sama –“

Tawa istri Pak Wardiman akhirnya meledak. Pak Wardiman tampak heran melihat reaksi istrinya.

Oalah, Pak. Masa hal remeh gitu aja dipikirin? Ada-ada aja kamu ini, Pak,” kata istrinya sambil membereskan meja lalu berjalan ke arah dapur.

Pak Wardiman masih duduk di kursinya, berdiam diri sambil melipat-lipat serbet makan dengan kedua tangannya.

***

Siang itu Pak Wardiman duduk di kursi di depan warungnya sambil membaca koran. Berita tentang sidang kopi beracun yang dibacanya sebenarnya sudah tidak lagi menarik baginya. Namun, dia tetap membaca berita itu sekadar untuk mengisi waktu.

Sebuah mobil berhenti di depan warungnya. Pak Wardiman mengangkat wajahnya dan melihat ke arah mobil. Seorang perempuan turun dari mobil lalu berjalan ke arahnya.

“Permisi, Pak,” sapa perempuan itu.

Pak Wardiman melipat korannya, bangkit dari duduknya, lalu meletakkan lipatan koran di kursi. “Ya, Mbak?”

Perempuan itu mengeluarkan secarik kertas dari tas tangannya lalu menyodorkan kertas itu ke arah Pak Wardiman. “Bapak tau alamat ini?” tanyanya kemudian.

Pak Wardiman tampak terkejut. Pandangannya berpindah dari tulisan di atas kertas yang disodorkan kepadanya ke wajah sang perempuan. Dia sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Gimana, Pak?”

Pak Wardiman mengambil secarik kertas yang disodorkan kepadanya. “Eh… eh…” gumamnya sambil melangkah pelan ke arah tepi jalan. Perempuan itu mengikuti Pak Wardiman dari belakang.

Pak Wardiman tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap si perempuan. Perempuan itu tampak sedikit terkejut.

“Iya, Mbak! Saya tau alamat ini!” kata Pak Wardiman dengan semangat. “Jadi dari sini Mbak nanti jalan aja ke – “

“Bunda!” tiba-tiba seorang anak laki-laki beteriak dari dalam mobil. Kepalanya mencungul lewat kaca pintu mobil yang terbuka.

Perempuan itu menaikkan pandangannya melewati bahu Pak Wardiman. “Sebentar, Aldo! Bunda lagi nanya –“

“Aldo udah tau tempetnya!” jawab si anak laki-laki sambil menunjukkan layar komputer tablet yang digenggamnya.

Perempuan itu bergegas mendatangi anak laki-lakinya, melihat layar komputer tablet yang ditunjukkan anaknya, lalu kembali mendatangi Pak Wardiman.

“Jadi dari sini Mbak nanti –“

“Eh, nggak usah, Pak. Saya udah tau alamatnya.” Kata perempuan itu seraya mengambil secarik kertas yang masih dipegang oleh Pak Wardiman dengan erat. Perempuan itu sedikit menarik kertas yang dipegang Pak Wardiman. Namun, Pak Wardiman tak kunjung melepaskan kertas yang dipegangnya. Perempuan itu menatap Pak Wardiman dengan heran. “Pak,” kata perempuan itu dengan nada sedikit tinggi. Pak Wardiman tersadar lalu melepaskan kertas yang dipegangnya. Perempuan itu buru-buru memasukkan kertas ke dalam tas tangannya, masuk ke dalam mobilnya, lalu memacu mobil meninggalkan Pak Wardiman yang masih berdiri mematung di tepi jalan.

Pak Wardiman masih memandangi mobil si perempuan yang kian menjauh, meninggalkan sapuan debu tipis yang melayang-layang pelan di bawah terik matahari.

“Pak! jajan!”

Pak Wardiman tersadar lalu menoleh ke arah warung. Seorang anak perempuan berdiri di depan warung, menggenggam uang kertas lusuh di tangan kirinya. Pak Wardiman tersenyum lalu menghampiri anak perempuan itu.

“Mau beli apa?”

 

TAMAT

Tagged

Menulis Bersama

Hai. Halo~

Bagaimana kabar kalian?

Ya udah. Segitu aja basa-basinya.

Tulisan kali ini sebenarnya merupakan ajakan bagi semua teman-teman yang mengikuti (saya agak malas sebenarnya menggunakan kata ini karena terkesan uopooooh. Tapi ya udahlah gak apa-apa sekali-sekali) saya di media sosial, dalam hal ini Twitter. Ajakan apa?

Jadi gini… (halaaaah~)

Beberapa hari belakangan saya merasa agak jenuh dengan aktivitas saya sehari-hari yang melibatkan keyboard dan monitor. Ingin menulis (untuk senang-senang) namun merasa mandeg juga (lagian masih ada tiga tulisan senang-senang yang nga kelar-kelar sejak dari kapan karena dst dst). Tapi kalau tidak menulis, saya kayaknya bakal merasa makin sumpek karena kotoran di dalam batok kepala toh tetap harus dikeluarkan. Sehingga~

Saya ingin mengajak teman-teman untuk menulis bersama. Kali ini (lagi-lagi) dengan memanfaatkan media Twitter. Jika dulu sebelumnya saya pernah iseng membuat cerita di Twitter dengan menggunakan fasilitas polling (yang mana biasa aja sih sebenernya nga fantastis fantastis amat), maka kali ini saya ingin melibatkan teman-teman lebih jauh lagi. Seperti sebelumnya, kegiatan kali ini juga bersifat iseng yang mana~

Caranya gimana?

Berikut akan saya sampaikan prosedurnya dalam bentuk kronologikal.

  1. Saya akan memulai dengan satu tweet narasi (seperti tweet narasi yang kerap saya buat selama ini). Tweet ini akan jadi awal cerita. Sebut saja Tweet Narasi 1.
  2. Teman-teman yang mengikuti saya di Twitter saya persilakan untuk meneruskan narasi yang saya buat dengan cara membalas (reply) Tweet Narasi 1. 1 orang hanya dipersilakan untuk membalas 1 kali saja (untuk membuka kesempatan bagi teman-teman lain yang mungkin ingin ikut berpartisipasi).
  3. Batas waktu untuk membalas Tweet Narasi 1 adalah satu hari (24 jam).
  4. Setelah itu, dari tweet balasan untuk Tweet narasi 1, saya akan memilih satu tweet untuk dijadikan lanjutan resmi dari Tweet Narasi 1. Sebut saja Tweet Narasi 2.
  5. Tweet Narasi 2 tersebut nantinya akan saya post dalam bentuk quote tepat di bawah Tweet Narasi 1. Teman-teman dipersilakan untuk meneruskan cerita dengan cara seperti yang dijelaskan pada poin nomor 2 (memberikan balasan pada Tweet Narasi 2). Batas waktu membalas Tweet Narasi 2 adalah 1 hari (24 jam).
  6. Saya kembali akan memilih satu tweet balasan dan menjadikannya sebagai lanjutan resmi dari Tweet Narasi 2. Sebut saja Tweet Narasi 3. Demikian seterusnya.
  7. Oya, bagi teman-teman yang tweetnya sudah terpilih sebagai tweet lanjutan resmi (Tweet Narasi 2 dan seterusnya), dengan berat hati saya mohon agar tidak lagi mengikuti kegiatan ini (sekali lagi, demi membuka kesempatan bagi teman-teman lain yang mungkin ingin ikut berpartisipasi).
  8. Kegiatan menulis bersama ini dapat teman-teman ikuti sampai batas waktu yang belum saya tentukan. Bila nantinya saya rasa narasinya harus diakhiri, saya sendiri yang akan membuat bagian penutup tersebut.
  9. Setelah jadi satu cerita utuh, cerita tersebut akan saya publikasikan di blog ini. Teman-teman yang berpartisipasi, akan saya cantumkan creditnya (termasuk username Twitter-nya). Bila ada teman-teman yang keberatan untuk dicantumkan dalam credit, silakan utarakan langsung saja pada saya (lewat mention atau lewat DM).
  10. Kegiatan ini hanya dilakukan atas dasar keisengan semata dan bukan untuk tujuan mencari keuntungan finansial. Saya mohon maaf apabila saya tidak bisa memberikan penghargaan dalam bentuk apapun atas partisipasi teman-teman selain apresiasi saya terhadap keinginan teman-teman untuk (terlibat) menulis.
  11. Demikian kiranya prosedur kegiatan Menulis Bersama ini. Saya tidak memberikan nama yang spektakular untuk kegiatan ini karena… ya namanya juga cuma iseng. hhe hhe… Bila ada yang ingin ditanyakan, silakan mention atau kirimkan DM ke akun Twitter saya.

Ya udah gitu aja.

Tweet Narasi 1 rencananya akan saya buat pada hari Kamis, 21 Juli 2016, pada pukul 09:00. Jadi nantinya akan ada update setiap hari pada jam yang sama.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih dst dst~

 

Ayo menulis bersama~  :3

Panjang Umur

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Pria pertama bernama Jono, seorang buruh bangunan berusia sekitar 30 tahun. Pria kedua bernama Husni. Usianya baru menginjak 25 tahun dua minggu yang lalu. Husni bekerja sebagai montir di bengkel motor yang dimiliki oleh tetangganya, Pak Sumin. Pria ketiga adalah pria dengan postur tubuh paling kecil di antara ketiganya. Namanya Ansori. Teman-teman dan orang-orang yang dekat dengannya biasa memanggilnya Aan. Aan bekerja sebagai buruh di satu-satunya pabrik gula di desa tempat ketiga orang itu tinggal dan dia berusia 21 tahun, membuatnya menjadi pria termuda di antara ketiganya.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Api unggun itu mereka buat di atas tanah yang berjarak sekitar delapan belas kaki dari bibir sungai. Saat itu waktu telah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Tidak jauh dari mereka, tiga batang gagang pancing tampak tergeletak diam di sebelah sebuah tas usang berukuran sedang dan dua buah kaleng susu kecil berisi umpan dan dua keranjang rotan tempat menaruh ikan dan sebilah parang berukuran sedang. Tas usang itu berisi senar pancing, stok mata kail, cutter, senter, losion anti nyamuk, dua bungkus roti berbentuk bulat, dan obat anti masuk angin berbentuk cair.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Rencananya, mereka akan mulai melemparkan kail ke arah sungai ketika jam menunjukkan pukul sebelas malam. Kegiatan memancing di malam hari seperti ini sudah menjadi semacam rutinitas bagi ketiga pria tersebut. Mereka biasanya melakukan kegiatan ini seminggu sekali, tepatnya pada malam sabtu setiap minggunya. Biasanya mereka berangkat berempat. Pria keempat bernama Supriyadi, biasa dipanggil Yadi. Yadi berusia 23 tahun dan bekerja sebagai buruh di peternakan ayam milik Haji Soleh.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar dan menunggu kedatangan pria keempat.

“Kok tadi si Yadi berangkatnya nggak bareng kamu, An?” tanya Husni seraya memijat-mijat batang rokok kretek dengan kedua jari telunjuk dan jempolnya lalu menyelipkan batang rokok kretek itu di celah bibirnya.

Aan hanya diam, tidak menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Dia teringat kejadian dua hari yang lalu saat dia dan Yadi terlibat baku hantam.

Jono menyenggol lengan Husni dengan gerakan yang sungguh samar lalu saat keduanya bertatap mata, Jono mengirimkan sinyal melalui gerakan matanya yang seolah-olah berbunyi ‘jangan dibahas’. Menyadari kesalahannya, Husni hanya bisa terdiam dengan perasaan canggung lalu menghisap rokok kreteknya dalam-dalam.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Husni menghisap rokok kreteknya dalam diam, Jono menambahkan potongan kayu berukuran kecil ke atas bara untuk memperpanjang nyawa api unggun, dan Aan duduk memeluk lutut sembari mengingat kejadian dua hari yang lalu saat dia secara tidak sengaja memergoki istrinya sedang bercumbu dengan Yadi di ruang tamu rumahnya.

Waktu itu Aan pulang lebih cepat dari pabrik tempatnya bekerja. Betapa terkejutnya ia saat sampai di rumah dan menemukan istrinya sedang bersama pria lain. Lebih terkejut lagi saat ia menyadari bahwa pria lain itu adalah Yadi, teman dekatnya sendiri yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Ratih, istri Aan, langsung berlari keluar rumah, berteriak bagaikan orang gila. Semua berlangsung begitu cepat. Tiba-tiba saja Aan dan Yadi sudah bergumul di perkarangan rumah. Orang-orang mulai berdatangan, termasuk Jono dan Husni. Dengan sigap keduanya melerai Aan dan Yadi dibantu beberapa orang warga. Bibir Yadi pecah dan mengeluarkan darah. Tonjolan tulang di bawah mata kiri Aan terlihat semakin menonjol dengan sapuan warna biru samar. Atas saran Jono, Husni membawa Yadi pulang ke rumahnya, sementara Jono sendiri merangkul Aan kembali masuk ke dalam rumah. Ratih masih menangis saat diajak Wulan, istri Jono, untuk mengungsi sementara waktu ke rumah mereka.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar dan mereka masih menunggu kedatangan pria keempat.

“Si Yadi kok belum datang, ya?” tanya Aan tiba-tiba.

Jono mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya memperhatikan tarian lidah api, tampak sedikit terkejut, menatap lurus ke arah Aan, lalu saling berpandangan dengan Husni. Husni hanya diam. Jono lalu memalingkan wajahnya dari wajah Husni, menatap melampaui pundaknya, lalu tersenyum.

“Akhirnya datang juga,” ujarnya pelan.

Aan tiba-tiba berdiri dengan canggung.

“Maaf, aku terlambat, tadi masih ada kerjaan sedikit di rumah,” kata Yadi dengan suara yang sedikit bergetar. Dia hanya melayangkan pandangannya ke arah Jono dan Husni, tak berani menatap mata Aan.

Aan berjalan ke arah tumpukan perlengkapan memancing, tak mempedulikan kehadiran Yadi.

“Wah, panjang umur kamu!” seru Husni. “Kita baru aja ngomongin ka—“

Husni tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Matanya tiba-tiba melotot. Mulutnya menganga lebar. Husni menunjuk ke arah Yadi dengan ekspresi histeris. Sedetik kemudian dia terduduk lemas.

Jono ikut melotot. Dia langsung berdiri dengan tergesa. Mulutnya membuka seperti ingin mengatakan sesuatu namun yang keluar dari kerongkongannya hanya udara hangat yang kemudian bercampur dengan udara malam yang dingin.

Lalu terdengar suara ‘bruuk’, seperti suara buah durian yang jatuh dari pohonnya.

Aan mencabut parang yang sedari tadi bersarang di tempurung kepala Yadi yang kini telah terbaring tak bernyawa di dekat kakinya. Aan lalu kembali duduk di posisinya semula, meletakkan parang yang berlumur darah tepat di sampingnya.

“Ternyata umurnya nggak panjang-panjang amat…” ujar Aan lirih seraya menatap lidah api yang menari perlahan.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Kini dengan tambahan berupa seonggok mayat.

TAMAT

Tagged ,
Advertisements