Anak Laki-laki Yang Selalu Mimisan

Image

 

Kamar kos Dion, kotak beton kecil berukuran tiga kali tiga, Senin sebelas Juli jam setengah dua lewat delapan menit. Matahari bersinar terik dengan sesaput awan putih keabuan di sana sini. Suhu udara saat itu 28 derajat Celcius. Dion jongkok di depan monitor komputernya dan baru saja menghabiskan rokok keduanya siang itu, belum mandi, rambut acak-acakan, badan bau keringat bercampur susu basi. Rokok kedua? Ya. Karena dia baru saja bangun sekitar dua puluh menit yang lalu saat Zee pulang dari kampus, menyusup masuk ke kamarnya, merebahkan tubuh disampingnya, membelai rambutnya dan memberi kecupan kecil di bibirnya. Dion terbangun, tersenyum dan menggumam ‘Hello stranger…’, Zee tersenyum dan membalas dengan ‘Dasar kebo!’. Dion beranjak dari tempat tidur, menyalakan water dispenser, menyalakan PC, menyalakan sebatang rokok, jongkok di depan monitor, menunggu air yang sedang dipanaskan. Zee duduk di atas tempat tidur, bersandar ke dinding, membuka tasnya, mengeluarkan majalah Spice, mengeluarkan sebungkus Lays rasa salmon, membuka bungkusnya, membaca majalah sambil mengunyah keripik kentang. Air di dispenser sudah panas, Dion mengambil mug, memasukan teh kantong bundar ke dalamnya, menambahkan dua sendok gula, menyeduhnya dengan air panas, mengaduk, kembali jongkok di depan computer, meletakkan mug di sebelah kanan mouse, membuka dokumen kosong di MS Office, mengetikkan ‘ANAK LAKI-LAKI YANG SELALU MIMISAN’, mematikan rokok di asbak, mengambil mug, meniup, menyeruput pelan teh panas, meletakkan mug, menyalakan rokok keduanya.

“Setel-setel apa gitu…” Gumam Zee.

Dion membuka Explorer, memilih folder, memasukkannya ke player, mengklik tombol play. Jadi inilah soundtrack pada siang yang panas itu. Genjrang-genjreng satu album penuh dari Still Life Still yang melesat dari speaker bertabrakan dengan debu-debu tak kasat mata yang melayang pelan di atmosfir kamar, ceklak-ceklik mouse, dera-deru kipas processor, ngang-nging serangga di luar sana, kriuk-kriuk keripik kentang yang pecah dalam mulut Zee, srek-srek halaman majalah yang dibalik, srat-srot hidung Dion yang mampet, srap-srup teh hangat yang diseruput dan pas-pus asap tipis tembakau. Dion jongkok di depan monitor komputernya dan baru saja menghabiskan rokok keduanya siang itu, belum mandi, rambut acak-acakan, badan bau keringat campur susu basi. Zee duduk diatas tempat tidur, membaca majalah, makan keripik kentang, cantik, wangi, baru pulang kuliah.

“Lo lagi ngapain sih emangnya?”

“Heh?…”

“Aish! Yang masih ngumpulin nyawa…”

“Hehe…”

Dion menyalakan rokok ketiga, masih jongkok, menatap lurus ke arah monitor, menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Mau nggak? Enak lho…” Seru Zee seraya menyodorkan bungkus keripik kentang yang ada di tangannya.

“Nggak ah…”

“Lo ngapain sih Di?”

“Hehe…Gak apa-apa…Lagi pengen nulis ngaco aja…”

“Ya buruan diketik! Malah bengong!”

“Hehe…Gak tau harus mulai dari mana…”

“Hm…Gayanya…’gak tau harus mulai dari mana’…Kayak mau nembak aja!”

“Hehe…”

“Anak laki-laki yang selalu mimisan? Hmmm…Kayaknya gue dah tau nih ujung-ujungnya bakal kemana ni cerita…”

“Hehe…Gue dah punya gambaran-gambaran sih…Cuma gak tau mesti gimana mulainya…”

“Ya udah, gak usah nulis aja! Sini mesra-mesra-an sama gue aja…”

“Hahaha…”

“Mulai dari nama aja. Karakter lo harus punya nama kan?”

Names…hmmm…”

“Oh…Karakternya banyak yaa? Wah, bakal susah tuh!”

“Hehe…Cuma dua kok…”

“Mulai dari anak laki-lakinya aja kalo gitu…Gue tau…Simon!”

“Simon?”

“Ya…Bagus kan?”

“Uhm…DunnoIt’s kinda…”

Any better idea?”

“Hm…Phi?”

“Phi? Nama macam apa itu?? Aneeeh…”

“Hehehe…So Phi it is…”

“Ok deeeeehh…Trus, karakter kedua, cowok juga?”

“Cewek dums…”

“Angel?”

“Hahaha…Kayak nama karyawan stasiun TV aja…”

“Cuma ideeeeee, Diooooon…Kalo gak suka ya gak apa-apa…”

“Hmmm…Namanya harus wangi, seperti bunga…Atau rumput segar di pagi hari…”

“Mawar…Bukan nama sebenarnya…Korban pencabulan bapaknya sendiri…”

“Hahahaha…”

“Gue tau! Flora…”

“Flo…Nice…OK…Flo…”

“OK. Balik ke Phi…Gila, geli sendiri gue nyebut namanya…Deskripsi…Fisik?”

“Anak cowok, kelas 3 SD, badannya kecil kurus, paling kecil di kelasnya. Kulit putih, menjurus pucat, wajah bulat, rambut kriwel-kriwel…”

So you, Dear…”

Whatever…Rambut…Oh, udah…Uhmm…Ringkih, sering pingsan pas upacara, got bulliedAlmost all the time, gak punya temen, dianggap aneh sama anak-anak lain…”

“Sepertinya kenal…”

I said, whatever…Tapi dia pinter lhooo…”

“Ya pastinya lah yaaaaa…Hahaha…”

“Nggak suka pelajaran olahraga, pendiam, meskipun pinter tapi gak menonjol, gak ada yang sadar kalo dia ada, all the kids always make fun of him, all the teachers just feel sorry for him…Pulang pergi sekolah jalan kaki, orang tuanya baik…But there’s something…”

There will always be ‘something’…These kids…Those parents…”

“Yeah…OK…Sampe mana tadi? Oh ya…intinya orang tuanya baik lah, bukan tipe child abuser. Terus apalagi ya?…Uhmm…Phi itu suka omelette buatan ibunya, yang selalu jadi bekalnya di sekolah, jadi dia gak pernah makan di kantin. Suka jus apel, tapi gak suka buah-buahan. Alergi kerang dan susu. Tidak suka warna hitam. Suka sekali warna biru. Suka suara jangkrik dan bunga matahri yang tumbuh di halaman belakang rumahnya. Sangat membenci Bu Ana, guru sejarah yang selalu melap bekas kapur ditangannya ke bagian belakang roknya. Suka membayangkan bahwa dalam tiap tetes hujan ada makhluk kecil bernama Bubushakama, seperti peri kecil, tanpa sayap, berwajah bulat, hanya memiliki mata besar berwarna hitam, tanpa hidung, mulut dan telinga, bertugas menyetir butiran hujan agar mendarat tepat diatas lapangan softball, atap toko ikan milik Tuan Poole, atau hidung berbintik milik Shana. Ikut les biola, tapi sebenarnya sangat menyukai bermain piano tua milik almarhum neneknya yang diletakkan di basement. Menyukai semua film Charlie Chaplin koleksi ayahnya, yang mana hanya 4 buah, dan tidak mengetahui jika film Charlie Chaplin lebih banyak dari jumlah tersebut. Sangat membenci Doraemon, walaupun dia berwarna biru. Senang menghitung langkahnya dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah. Memiliki cita-cita mewarnai semua daun di Amazon dengan warna biru. Dan terakhir, tentu saja…”

“Dia selalu mimisan?”

“Yup. Dia SELALU mimisan…”

“Emang kenapa sih dia selalu mimisan? Wait…Pasti itu penyakit langka yang dideritanya sejak lahir…Mungkin sewaktu mengandung ibunya bekerja di reaktor nuklir dan sering terkena zat-zat radioaktif…”

“Hahahaha…Bisa jadi…Mungkin juga karena memang metabolisme tubuhnya tidak seperti anak-anak kebanyakan. Dia sering pingsan selama upacara. Jika terlalu lelah, dia mimisan. Jika marah, dia mimisan. Jika terlalu excited, dia mimisan. Jika malu, dia mimisan. Jika takut, dia mimisan. Jika terkejut, dia mimisan…”

“Jika ditonjok sama anak yang tubuhnya bulat besar, 4 kali lebih besar dari tubuhnya…”

“Dia  mimisan…Hehehehe…”

“Jadilah dia…”

“Anak laki-laki yang selalu mimisan…”

“Oh…Well…”

Cheesy ya?”

“Nggak sih…Cari makan yuk. Laper niih!!”

“Ini gimana ceritanya?”

“Terusin tar aja…” kata Zee sambil berdiri, menghadap cermin, merapikan rambutnya.

“Bakso Pak Narto?”

“Boleeeh…Tapi mandi dulu sih kamu!!!”

“Maleeeessshhh…Lagian gue belum ngerasa cukup kotor buat mandi sekarang…”

“Mau aku kotorin dulu???…”

“Hahahaha…Gak ah…Tar malah gak jadi makan…”

“Terserah lo deeeeh…Gue dah menawarkan yaaaaa…”

“Apa sih??? Hehehehe…”

Dion hendak mengambil kunci motor tapi keduluan Zee.

This time, I drive…”

“OK…”

Pintu kamar ditutup dari luar. Komputer tetap menyala. Hape Dion tertinggal di lantai kamar. Bergetar, LED menyala, ringtone berbunyi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Diam. Meninggalkan tiga baris tulisan di layar yang tak lagi menyala.

1 missed call

+6285866317455

11 July 2010  15:19

 

F I N

*catatan: – tulisan asli pernah di-posting di notes FB saya circa Oktober 2010

 

 

Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: