Fragmented

Graphic1

Aku berlari melewati perkarangan rumah dengan tidak sabar. Buru-buru kulepas kedua sepatuku dengan cara menginjak bagian belakangnya dan menendangnya sembarangan. Yang satu mendarat tepat di atas sepatu adikku sementara yang satu lagi melayang ke bawah rak sepatu. Tas sekolah yang penat kulemparkan ke atas kursi dan aku berjalan ke arah dapur seraya mengeluarkan bagian bawah baju seragamku dari celana.

“Mamang mana, Bu?” tanyaku pada Ibu yang sedang menggoreng ikan. Bau amis bercampur minyak melesak ke dalam butiran pasir yang menyatu dengan adonan semen pembentuk dinding dapur. Aku melongok dari balik bahu Ibu melihat dua ekor ikan kurisi yang hampir mengering di atas wajan.

“Lagi di belakang. Nyari cacing,” kata Ibu seraya membalikkan ikan di penggorengan.

Aku berbalik, berjalan menuju ke arah pintu yang terbuka di bagian samping dapur.

“Eh, mau ke mana kamu?”

“Nyamperin Mamang.”

“Ganti baju dulu! Terus makan!”

“Ck…”

Kuurungkan niatku untuk keluar ke halaman belakang dan berjalan menuju ruang tengah. Masih bisa kudengar Ibu berteriak dari arah dapur, “Tasnya jangan ditaruh di kursi!”. Aku meraih tas sekolahku dan meletakkannya di kamar. Lalu kubuka bajuku dan menggantungnya di gantungan baju. Celana merahnya masih kukenakan. Dengan bertelanjang dada aku kembali ke ruang tengah, mengambil piring dan mengisinya dengan dua centong nasi. Lalu aku kembali ke dapur dan ibu meletakkan sepotong ikan kurisi di atas nasiku. Aku kembali ke ruang tengah, duduk di atas kursi, mengangkat sebelah kakiku dan makan layaknya kuli bangunan. Perutku yang buncit kembang kempis mengiringi gerakan gerahamku yang mengunyah hidangan di siang yang panas itu. Tak sampai limabelas menit, piringku licin dan aku mencucinya lalu meletakkannya kembali ke dalam rak piring.

“Udah, Bu.”

“Ya sudah, sana.”

Nyaris berlari, aku keluar melewati pintu dapur menuju ke halaman belakang. Belum sampai semeter, kembali kudengar teriakan Ibu, “Pake sandal!”. Aku berbalik, mengenakan sandal dan melanjutkan niatku. Di halaman belakang Mamang sedang jongkok di bawah batang pisang. Kepalanya menunduk dan jari tanganya mengais tanah yang berada di sekitar telapak kakinya. Sebuah kaleng susu bubuk berukuran seperempat kilogram teronggok diam tak jauh dari kaki kirinya. Aku berdiri di belakang Mamang dengan posisi rukuk.

“Wah, cacingnya gemuk-gemuk!”

“Eh, kamu sudah pulang.”

Aku jongkok di sebelah Mamang, mengamati usahanya untuk menarik tubuh cacing dari dalam tanah gembur.

“Tapi dikit ya dapetnya.”

“Iya. Harusnya besok pagi-pagi kita nyarinya. Ini Mamang cuma iseng.”

Sebuah pesawat penumpang komersil melayang jauh tepat di atas kami, menyisakan suara gemuruh yang sayup-sayup. Aku langsung berteriak, “Pesawaaaaaat!!! Minta uaaaaaaang!!!” yang disambung dengan teriakan Ibu yang tak kalah kencangnya, “Jangan teriak-teriak!”

Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, berusaha keras untuk tidak tertawa. Mamang senyum. Aku cekikikan.

“Ayahmu belum pulang ya?”

“Belum. Sejam lagi kayaknya.”

“Ya sudah,” kata Mamang sambil berdiri dan meraih kaleng susu dengan tangan kanannya.

“Yaaaah… Kok udahan?”

“Mamang mau ke bengkel dulu. Besok pagi aja kita nyari cacingnya barengan.”

“Aku dibangunin?”

“Iya.”

“Horeeee!!!”

* * *

“Besok mau berangkat jam berapa, Yah?” Tanya Ibu sambil menyeka mulut Adik dengan serbet.

“Jam-jam sepuluhan paling. Ibu mau ke pasar ya?”

“Iya. Tapi Ibu berangkatnya pagian kok. Jam tujuhan gitu.”

“Adek mau ikut Ayah…”

“Adek besok ikut Ibu aja ke pasar. Terus siangnya kita ke tempat Tante Vina, lihat kelinci. Mau nggak?”

“Adek mau lihat kelinci aja…”

“Iya. Boleh. Besok, ya. Sekarang Adek makan dulu.”

Adik berusaha untuk menyuapkan sendok makannya ke arah mulut. Butir-butir nasi kembali menempel di sekitar dagunya. Ibu kembali menyeka mulut Adik menggunakan serbet.

“Motor kamu udah jadi, Pung?”

“Belum, Kak. Katanya Senin sore baru selesai.”

“Ya udah,” kata Ibu sambil menuangkan air putih ke dalam gelasnya. “Pake…”

“Ibu, Adek mau kentang lagi.”

Ibu mendekatkan mangkuk sup dan memindahkan beberapa potong kentang ke piring Adik. “Pake motor Ibu aja. Biar besok Ibu sama Adek naik angkot aja.”

“Nggak usah. Ibu pake motor aja besok. Kita pergi ke tambaknya  pake motor Ayah aja.”

“Bonceng tiga gitu? Emangnya nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.”

“Ya sudah kalo gitu.”

Makan malam kali ini menunya adalah sambel udang, sayur tumis jagung muda, sup kentang dan kornet buat Adik sama tahu goreng. Aku sudah menghabiskan 6 ekor udang dan sepotong tahu goreng. Tiba-tiba Ibu meletakkan dua sendok makan tumis jagung muda di piringku.

“Sayurnya juga dimakan dong.”

Aku kurang suka sayur. Tapi aku suka sekali udang. Sebenarnya aku suka hampir semua jenis makanan laut. Udang, cumi, ikan, kerang. Tapi aku kurang suka sayur.

“Ayah, besok kita bawa apa aja buat mancing?”

“Sebenernya kita besok bukan mau mancing. Kita besok mau najur.”

“Najur? Apa itu? Beda ya sama mancing?”

 “Beda. Kalo mancing pake joran. Kalo najur pake tajur. Tajur itu cuma potongan bambu kecil-kecil gitu, bisa bikin sendiri dan nggak perlu beli. Nggak kayak joran. Terus tajur itu nggak pake gulungan senar. Senarnya cuma diiket di ujung tajurnya aja. Ukuran tajur juga biasanya nggak sepanjang joran. Nah, nanti tajurnya bakal disebar di sepanjang pinggir tambak, ditancepin ke tanah gitu…”

“Tajurnya banyak ya berarti?”

“Iya. Mungkin ada sekitar duapuluhan gitu.”

“Kita yang bikin? Berarti besok harus nyari bambu juga?”

“Nggak usah. Ayah udah minta tolong disiapin tajurnya sama Pakde Tarmin.”

Pakde Tarmin itu penjaga kantor tempat Ayah bekerja. Jadi sebenarnya beliau bukan benar-benar keluarga kami. Hanya saja Ayah sering memanggilnya dengan sebutan Pakde. Pakde Tarmin juga dekat dengan keluarga kami. Kata Ibu, dulu pernah ada kejadian yang bikin Pakde Tarmin seperti punya hutang budi pada Ayah. Tapi Ibu tidak pernah menceritakan kejadian itu. Demikian juga dengan Ayah. Yang jelas sekarang Pakde Tarmin sudah seperti keluarga sendiri bagi kami.

“Besok kalian mau dibikinin bekal apa?”

“Udangnya masih ada kan, Bu?”

“Masih. Mau dibikinin bakwan udang?”

“Iya!”

“Boleh. Tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

“Sayurnya abisin dulu.”

Walau sedikit cemberut, aku buru-buru menghabiskan sayur yang ada di piringku.

“Udah, Bu.”

“Pinter.”

Ayah dan Mang Ipung juga sudah selesai makan. Ayah merokok di teras, sementara Mang Ipung menemaninya mengobrol sambil minum kopi. Aku membantu Ibu memberekan meja makan lalu menonton TV bersama Adik. Malam itu aku agak sulit untuk tidur. Mungkin karena aku terlalu bersemangat akan rencana kami besok. Setelah kurang lebih satu jam berbaring di atas tempat tidur, akhirnya aku terlelap dan bermimpi tentang sebuah kapal selam berwarna kuning.

* * *

Pagi itu aku menggenggam gelas berisi susu cokelat dan bermalas-malasan di depan TV. Mamang sudah menyelesaikan kegiatannya mencari cacing untuk umpan dan sekarang dia sedang lari keliling komplek. Adik duduk di sebelahku sambil memeluk Ara, boneka kesayangannya. Kami berdua sedang menonton kartun Born to Cook di TV. Ibu sedang menyiapkan sarapan, sementara Ayah sedang membersihkan rumput di halaman depan. Setengah jam kemudian kami sarapan nasi goreng kornet dan telur dadar sosis bersama. Lalu Ibu dan adik pergi ke pasar, sementara Ayah membaca koran sambil merokok di teras. Mamang menanam beberapa rumpun suplir di halaman samping, sementara aku kembali duduk di depan TV.

Satu jam kemudian Ibu dan Adik pulang dari pasar. Ibu segera menyiapkan bekal, membuat bakwan udang dan memasak capcay untuk bekal makan siang kami. Ibu juga menggoreng tempe dan merebus satu buah jantung pisang muda berukuran sedang. Tak lupa ibumembuat sambal terasi kesukaan Ayah. Ayah baru saja selesai mencuci motor, sementara aku dan Adik menemani Mamang yang sedang memperbaiki kandang ayam.

Hampir setengah sepuluh, Ibu memandikan Adik lalu memasukkan bekal ke dalam rantang. Rantang itu bersusun empat. Pada bagian bawah Ibu memasukkan capcay. Di atasnya Ibu memasukkan tempe goreng dan bungkusan plastik berisi sambal terasi. Di atasnya lagi Ibu meletakkan jantung pisang rebus. Dan pada bagian paling atas Ibu meletakkan potongan bakwan udang yang masih hangat.

Mamang baru saja selesai mandi dan mengenakan celana SMA yang dipotong selutut dan kaos oblong berwarna putih yang bertuliskan ‘Gerakan Disiplin Nasional’ pada bagian punggungnya.

“Ayah nggak mandi?” tanya Ibu

“Nggak usah deh. Nanggung.”

“Aku juga nggak mandi kalo gitu,” sahutku.

Ibu baru saja hendak membuka mulutnya namun Ayah buru-buru berkata, “Ya sudah. Nggak usah mandi nggak apa-apa.”

“Tapi ganti baju sana!” kata Ibu menambahkan.

Aku segera mengganti bajuku dan mengenakan celana pendek warna biru tua dan kaos berwarna kuning. Sementara Ayah mengenakan celana jeans yang dipotong selutut dan kaos putih berkerah dengan tulisan ‘PEMBINA’ di bagian punggungnya.

Mamang membawa rantang dan meletakkannya di teras rumah. Lalu ayah menyuruhnya membeli tiga botol air mineral berukuran besar di warung dekat rumah. Kaleng susu berisi cacing ditutup dan diletakkan di dalam kantung plastik berukuran sedang. Di dalam kantung plastik itu juga terdapat tiga gulung senar nylon, bungkusan kecil berisi mata pancing dan timah pemberat, satu buah gunting berukuran sedang, dan satu buah cutter berukuran besar.

Mamang datang membawa bungkusan plastik berisi tiga botol air mineral berukuran besar. Ibu lalu memasukkan tiga buah bungkusan daun pisang berisi nasi ke dalam kantung plastik itu. Ibu juga menyiapkan gulungan tikar kecil yang akan kami bawa.

“Ibu nanti mau pergi jam berapa?”

“Palingan sebentar lagi, Yah.”

“Hati-hati.”

“Iya.”

Ayah menyalakan Honda GL Pro tuanya dan memanaskan mesinnya sejenak.

“Ayo naik!”

Aku naik ke atas motor. Mamang menyerahkan kantung plastik berisi peralatan mancing kepadaku. Sementara dia membawa rantang dan kantung plastik berisi nasi dan air mineral.

“Ini tikernya gimana?”

“Sini aku aja yang pegang, Bu,” kataku.

Ibu meletakkan tikar ke atas pahaku.

“Udah?”

“Udah!”

“Kita jalan dulu ya, Bu.”

“Hati-hati.”

Ayah menggiring motornya keluar halaman. Ibu melambaikan tangannya, sementara Adik berdiri di dekat Ibu sambil memegang Ara. Motor dipacu dengan kecepatan sedang. Langit berwarna biru cerah dan udara terasa hangat. Sebutir keringat muncul di dahi sebelah kiriku. Meluncur pelan melewati pinggir pipi, menggantung di dagu, lalu jatuh tepat di atas semut hitam yang merayap pelan di kaosku.

* * *

Sekitar satu jam kemudian kami tiba di lokasi tambak yang terletak agak masuk ke wilayah hutan kecil, sekitar lima belas menit dari jalan raya. Ayah memarkir motornya di bawah pohon akasia dan kami langsung menurunkan bawaan. Dari kejauhan tampak sesosok laki-laki paruh baya yang setengah berlari menuju ke arah kami. Tangan kanannya tampak memeluk bilah-bilah bambu serta ranting pohon berukuran sedang dengan panjang sekitar satu sampai satu setengah meter.

“Pakde Tarmin!” teriak Ayah.

“Udah lama Pak?” tanya Pakde Tarmin dengan wajah sumringah.

“Baru aja kita nyampe. Itu apa?”

“Oh, lha ini Pak, batang bambu sama ranting yang buat dijadiin tajur.”

“Wah, ya sudah kalo begitu. Langsung kita bikin aja.”

Mamang membentang tikar kecil yang kami bawa dari rumah. Ayah langsung duduk di atas tikar sambil membongkar peralatan mancing yang kami bawa.

“Bentar Pak, saya tinggal dulu.”

“Lho? Mau ke mana Pakde?”

“Nganu, mau beli rokok.”

“Oh, sekalian aja kalo gitu. Kamu mau ngerokok nggak, Pung?”

Ini pertama kalinya Ayah menawarkan rokok pada Mamang. Yang ditawari terlihat sedikit terkejut malahan.

“Mau rokok apa? Samsu aja ya, joinan sama aku.”

“Boleh, Kak.”

“Nih, Pakde,” kata Ayah sambil menyerahkan dua lembar pecahan sepuluh ribuan. “Samsu sebungkus, sama rokok Pakde aja itu sekalian. Sisanya beliin cemilan aja.”

Pakde Tarmin mengambil uang yang diberikan Ayah.

“Mau beli di mana Pakde?”

“Itu, di warung pinggir jalan.”

“Wah, jauh. Pake motor saya aja ini,” kata Ayah seraya memberikan kunci motornya.

Pakde Tarmin mengambil kunci motor lalu segera berangkat.

“Kita pasang sekarang nih, Yah, senar sama mata pancingnya?”

“Nanti aja. Nunggu Pakde Tarmin.”

Sepuluh menit kemudian Pakde Tarmin kembali dengan membawa rokok dan sebungkus roti sobek. Kami pun duduk bersama di atas tikar, memasang senar dan mata pancing ke bilah bambu dan ranting yang dibawa Pakde Tarmin. Tidak sampai setengah jam, semua tajur sudah selesai dibuat.

“Kita pasang sekarang nih, Pakde?”

“Iya, Pak. Bentar lagi tengah hari soalnya.”

Kamipun berjalan ke arah tambak sambil membawa tajur yang siap dipasang. Tambak itu cukup besar. Aku tidak tahu luas persisnya. Yang jelas, tambak itu luas. Mungkin ukurannya tiga kali luas halaman rumah kami. Mungkin lebih. Di bagian sebelah kanan berdiri sebuah pondok kecil. Sebuah sepeda tua bersender di dinding pondok. Itu sepedanya Pakde Tarmin. Di sebelah kiri tambak terdapat dua petak kecil yang baru saja ditanami padi. Sementara di ujung tambak terdapat semak-semak dan hutan kecil.

“Kadang-kadang ada biawak nyasar keluar dari situ,” kata Pakde Tarmin sambil menunjuk ke arah semak-semak.

Kami mulai menancapkan tajur di tiap sisi tambak. Aku harus berhati-hati agar tidak terpeleset dan jatuh ke dalam tambak. Pada saat menancapkan tajur keempat, aku melihat seekor kodok berwarna cokelat. Tubuhnya besar, matanya bulat dan perutnya kembang kempis. Kodok itu lalu meloncat menjauhiku lalu menceburkan diri ke dalam tambak.

“Udah belum, Bang?”

“Satu lagi, Yah!”

Buru-buru kutancapkan tajur terakhir lalu berlari menghampiri Ayah di sisi yang berseberangan.

“Sudah terpasang semua.”

“Terus sekarang kita ngapain, Yah?”

“Kita tunggu. Makan siang dulu, yuk!”

“Ayo!”

“Ayo Pakde, kita makan siang bareng.”

“Saya bawa bekal kok, Pak. Itu, di pondok.”

“Ya sudah, bawa ke tempat kita aja. Kita makan siang bareng.”

“Baik, Pak.”

Aku menemani Pakde Tarmin mengambil bekalnya, lalu kami berdua berjalan menuju pohon akasia. Sesampainya di sana, Ayah dan Mamang sudah duduk di atas tikar sambil membongkar rantang yang berisi bekal kami.

Pakde Tarmin duduk dan ikut membuka rantang yang dibawanya. Rantang Pakde Tarmin berukuran lebih kecil dan hanya bersusun tiga. Satu berisi nasi, satu berisi tumis genjer, dan satu lagi berisi sambal teri campur kacang. Semua rantang berisi lauk dan sayur di letakkan di tengah. Mamang mengeluarkan bungkusan daun pisang yang berisi nasi dan memberikan masing-masing satu bungkus untuk aku dan Ayah.

“Wah, tumis genjer! Minta ya, Pakde!”

“Silahkan, Pak.”

“Ini loh Pakde, bakwan udang.”

“Iya. Terima kasih, Pak.”

Pakde Tarmin mengambil sepotong bakwan udang. Kami mulai makan sambil sesekali bercakap-cakap. Suara adzan Dzuhur sayup-sayup terdengar dari kejauhan.

“Tajurnya diangkat jam berapa, Pakde?”

“Jam-jam tigaan udah bisa, Pak.”

Aku menggigit bakwan udang yang kupegang dengan tangan kiriku. Potongan udangnya jatuh di atas tikar. Aku mengambil potongan udang itu lalu memasukkannya ke dalam mulut.

“Kalo dulu najur itu sebenernya gak di tambak, Pak.”

“Iya. Di rawa-rawa atau di sungai gitu kan, Pakde?”

“Iya. Tajurnya dipasang pagi-pagi. Terus sorenya diangkat.”

“Ini yang punya tambak Pakde ya?” tanya Mamang.

“Bukan. Ini yang punya orang cina gitu. Saya cuma ngurusin aja.”

“Tapi ini nggak apa-apa kita najur di sini?”

“Nggak apa-apa, Mas. Yang punya mbebasin kok. Saya aja kadang-kadang ngambil ikan dari sini.”

Tak berapa lama kemudian menu makan siang kami pun habis tak bersisa. Ayah duduk sambil merokok dan terlihat bercakap-cakap dengan Pakde Tarmin. Sementara aku dan Mamang sibuk memetik buah seri yang pohonnya tumbuh tak jauh dari pohon akasia tempat kami berteduh.

“Ayah, ini ntar ikannya di bawa pake apa?”

“Masukin ke kantung plastik bekas tempat nasi tadi aja.”

“Tapi nanti bolong loh, Pak. Saya ada nyimpen karung palstik bekas beras itu di pondok. Kalo mau, pake aja.”

“Oh, ya sudah.”

“Sebentar, saya ambilkan.”

“Nanti aja Pakde. Masih panas.”

“Ndak apa-apa.”

Bosan memetik buah seri, aku dan Mamang rebahan di atas tikar. Angin berhembus semilir dan suara jangkrik berbunyi konstan. Mataku kian berat hingga aku akhirnya tertidur.

* * *

“Bang, bangun!”

Aku merasakan tubuhku diguncang-guncang. Perlahan kubuka mataku dan aku melihat Ayah berdiri di sebelahku.

“Jam berapa ini?” tanyaku sambil mengucek-ngucek mata.

“Jam tiga lewat. Ayo, kita angkat tajurnya. Mamang sama Pakde udah duluan”

Aku bangun, menguap lebar, lalu berdiri. Masih setengah sadar, aku mengikuti Ayah yang berjalan menuju tambak. Di sana aku melihat Pakde dan Mamang sudah mengangkat sebagian tajur. Sebuah karung plastik berwarna putih teronggok tak jauh dari tempatku berdiri. Aku melihat ke dalamnya dan mendapati sekitar delapan ekor ikan nila berukuran sedang, menggelepar-gelepar tak berdaya. Tiba-tiba saja aku menjadi bersemangat dan berlari menuju tepian tambak.

“Coba angkat yang itu,” kata Ayah padaku.

Aku menarik batangan bambu yang dijadikan tajur. “Berat, Yah!”

“Itu udah ada ikannya berarti. Angkat aja.”

Aku mencopot sendalku dan mencoba untuk menarik tajur itu sekali lagi. Seekor nila tampak tersangkut di ujung senar, meronta-ronta seperti kesetanan.

“Ada ikannya!”

“Ditangkap dong!”

Aku menarik tajur dan mencoba meraih ikan itu dengan tanganku. Tubuhnya licin. Tapi akhirnya aku berhasil meletakkan tajur di dekat kakiku. Ikan itu kini terbaring di atas tanah. Pelan-pelan aku melepaskan kail yang tersangkut di mulutnya, lalu memindahkan ikan itu ke dalam karung plastik.

“Aku dapet satu!”

“Bagus! Terusin. Masih banyak itu yang belum diangkat.”

Tiba-tiba Mamang terpeleset dan tercebur ke dalam tambak. Ayah tertawa terbahak-bahak. Belum pernah aku melihat Ayah tertawa selepas itu. Saat mengangkat tajur keenam, aku juga tercebur ke tambak. Ternyata tambak itu tidak dalam. Airnya cuma sebatas leherku. Aku berjalan ke arah pinggir dan berusaha naik. Mamang membantuku sambil tertawa.

Hampir jam lima, semua tajur sudah terangkat. Karung plastik itu penuh berisi ikan. Baju dan celanaku basah. Kaki dan tanganku penuh noda lumpur. Ayah, Mamang, dan Pakde Tarmin tak jauh berbeda keadaannya. Tapi kami semua tersenyum puas. Ayah mendaratkan pantatnya di atas tanah, lalu menyalakan rokoknya.

“Lumayan ya,” katanya sambil menyerahkan bungkus rokok ke arah Mamang.

“Lihat deh, telapak kaki kamu,” kata Mamang.

Aku duduk di atas tanah dan melihat ke arah telapak kakiku. Banyak bekas merah dan terasa sedikit gatal. Anehnya tidak sakit, cuma agak terasa gatal.

“Itu sebenernya luka. Kena tunggul atau potongan kayu kecil di dasar tambak.”

“Tapi kok nggak sakit ya? Cuma gatal.”

“Iya. Soalnya kenanya di dalam air. Jadi nggak terasa sakit.”

Jari-jari tanganku pun penuh bekas merah. Mungkin terkena kail atau sirip nila. Dan rasanya sama. Cuma gatal. Tidak sakit.

“Pung, kamu beresin tikar sama rantang. Biar yang di sini aku sama Pakde yang beresin.”

Mamang beranjak dari duduknya, berjalan menuju ke arah pohon akasia. Sementara Pakde selesai mengumpulkan tajur dan mengikatnya jadi satu.

“Ini mau dibawa lagi, Pak?”

“Nggak usah. Pakde aja yang bawa.”

Aku membantu Pakde mengikat tajur ke atas sepedanya.  Ayah mengikat karung plastik berisi ikan lalu membuang puntung rokoknya ke arah semak-semak.

“Saya duluan, Pak.”

“Wah, hampir lupa,” kata Ayah sambil membuka kembali ikatan karung plastik. Diambilnya dua plastik bekas bungkusan nasi, dijadikannya satu, lalu diletakkannya sepuluh ekor ikan ke dalam plastik. “Ini buat Pakde.”

“Wah, makasih, Pak!”

“Sama-sama, Pakde.”

Pakde pun pamit. Dari kejauhan dia melambaikan tangannya sambil mengendarai sepeda tuanya. Ayah balas melambai sampai akhirnya Pakde hilang dari pandangan.

“Ayo kita pulang,” kata Ayah sambil mengangkat karung plastik berisi ikan.

Aku mengikuti Ayah berjalan menuju ke arah pohon akasia. Mamang sudah selesai membereskan rantang dan tikar. Kami lalu naik ke atas motor. Karung berisi ikan dipegang Mamang, sementara rantang, tikar, serta tas plastik berisi peralatan dipegang olehku.

“Udah?”

“Udah.”

Ayah mulai memacu motornya, keluar melewati jalan setapak menuju ke arah jalan raya. Sore itu indah. Angin berhembus pelan. Langit mulai terlihat memerah di sudut barat. Ayah memacu motornya dengan kecepatan sedang sambil bersiul. Aku tersenyum puas. Angin memain-mainkan ujung rambut yang menggantung di dahiku. Semua terlihat begitu berwarna. Terlihat cerah. Sapuan berwarna pelangi tiba-tiba saja muncul di sudut layar. Semua terlihat semakin cerah hingga akhirnya berubah menjadi putih menyilaukan. Terang dan hangat.

* * *

[SEQUENCE COMPLETED.  PLEASE REMOVE THE SUBJECT FROM THE DEVICE.]

Alat itu membuka perlahan. Dua orang staf berseragam putih membantuku duduk. Salah seorang dari mereka melepaskan kabel-kabel yang menempel pada tubuh dan kepalaku. Staf yang satu lagi memeriksa mataku menggunakan sebuah senter kecil. Dia lalu mengukur denyut nadiku sementara temannya memberikan suntikan di lengan kiriku.

Ini adalah ruang terapi. Alat yang sedang kududuki saat ini adalah alat khusus yang berfungsi untuk menanamkan memori spesifik sesuai pesanan klien. Metode ini cukup revolusioner dan menjadi perbincangan hangat selama beberapa tahun terakhir. Klinik ini dapat menanamkan memori spesifik ke dalam otak anda dan membuat anda merasa seolah-olah anda benar-benar mengalami kejadian itu di masa lalu anda. Memori yang ditanamkan ke dalam otak anda tidak akan ada bedanya dengan memori yang tercipta secara natural. Terasa begitu nyata. Sangat nyata.

“Bagaimana perasaan anda, Tuan?”

“Baik. Sedikit pusing.”

“Tampaknya semua normal,” kata salah satu staf pada temannya. Dia lalu mengangguk dan temannya meninggalkan ruangan.

“Sudah selesai?”

“Sudah, Tuan.”

Aku mencoba untuk berdiri. Kepalaku terasa masih sedikit pusing.

“Mari saya bantu, Tuan.”

“Tidak usah.”

Aku menggerak-gerakkan leherku sejenak lalu menunjuk ke arah pintu keluar.

“Seperti biasanya, Tuan. Langsung saja ke bagian kontrol.”

Aku berjalan keluar ruangan meninggalkan staf yang masih membereskan peralatan itu. Sesampainya di luar, aku langsung menuju ke bagian kontrol, sebuah ruangan lain yang lebih terlihat menyerupai kantor kecil. Di sana aku bertemu Dokter Maya.

“Pak Rinto. Silahkan,” kata Dokter Maya sambil tersenyum menjabat tanganku.

Aku duduk di hadapan Dokter Maya yang terlihat sibuk membaca laporan sambil sesekali menuliskan sesuatu pada lembar laporan.

“Hasilnya bagus. Seperti biasanya. Bagaimana perasaan anda?”

“Sedikit pusing. Seperti biasanya.”

“Saya buatkan resep saja ya, seperti biasanya. Nanti silahkan diambil di apotek.”

Dokter Maya menuliskan resep lalu menyerahkan secarik kertas kecil padaku.

“Sejauh ini proses implan memori berjalan lancar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Rabu depan saya harus menjalani implan memori lagi, Dok?”

“Iya. Sebentar, saya cek jadwalnya,” kata Dokter Maya sambil membalik-balik berkas yang ada di hadapannya. “Iya, Rabu depan rencananya adalah implan memori nomor 2670. Detailnya adalah tentang perkenalan anda dengan Indah, gadis kecil yang menjadi cinta pertama anda di bangku SMP.”

Aku terdiam sejenak.

“Kenapa Pak Rinto? Anda terlihat ragu.”

“Bisakah implan nomor 2670 itu dilewatkan saja? Maksud saya…”

“Anda tidak mau mendapatkan implan ini?”

“Ya. Begitulah.”

Dokter Maya diam sejenak. Jari-jarinya menggoyang-goyangkan pena yang digenggamnya.

“Baiklah jika itu yang anda mau. Lagipula ini uang anda,” kata Dokter Maya sambil tersenyum.

“Terima kasih.”

“Baiklah. Tampaknya hari ini cukup sekian. Anda bisa berganti pakaian dan mengambil barang-barang anda di loker. Terima kasih, Pak Rinto,” kata Dokter Maya sambil menjabat tanganku.

Aku berdiri dan melangkah keluar dari ruangan itu.

“Pak Rinto!”

Aku berbalik. Dokter Maya tampak menyusulku keluar ruangan. Dia menyerahkan secarik kertas padaku. “Resep anda,” katanya. Aku meraih kertas itu dan tersenyum.

“Terima kasih. Hampir saja aku lupa.”

“Sudah menjadi tugas kami Pak Rinto. Membuat anda mengingat sesuatu,” kata Dokter Maya sambil tersenyum.

Aku mengangguk. Kertas itu kugenggam dan aku melanjutkan langkahku menuju ruang loker. Aku tersenyum puas. Semua terlihat begitu berwarna. Terlihat cerah. Sapuan berwarna pelangi tiba-tiba saja muncul di sudut layar. Semua terlihat semakin cerah hingga akhirnya berubah menjadi putih menyilaukan. Terang dan hangat.

[SEQUENCE COMPLETED.  PLEASE REMOVE THE SUBJECT FROM THE DEVICE.]

– SELESAI –

Tagged

4 thoughts on “Fragmented

  1. Pipo Ledeng says:

    waduh masnya ini nganu, saya kagumnya sama tulisan sampean lho…. hhe hhe…. keren-keren, menginspirasi semua :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: