Visual Magis di Once Upon A Time in Anatolia

anatolia 1
Finally! Film yang sangat sangat sangat layak untuk ditonton dan merupakan film dengan cerita, karakter dan kemasan terbaik yang pernah saya tonton selama 6 bulan terakhir (tulisan ini dibuat circa Oktober 2012). Hampir 2 setengah jam yang tidak terbuang sia-sia dan 10 menit tanpa bisa berkata apa-apa seiring bergulirnya end credit title. It’s a really really tremendously beautiful masterpiece. Indeed!
Once Upon a Time in Anatolia adalah film Turki, karya sutradara Turki dan memasang aktor/aktris Turki. Menurut beberapa review di IMDb, sang sutradaranya film ini memang sudah terkenal dengan karya-karya fenomenalnya. Namun bagi saya, ini adalah perkenalan pertama saya dengan sang sutradara. Jika anda terbiasa menonton (dan mungkin menyukai) film-film Timur Tengah, atau menyukai karya-karyanya Abbas Kiarostami, atau menyukai cerita investigasi versinya Bong Joon Ho yang dahsyat itu, atau mungkin juga menyukai gaya-gaya visualnya Park Chan Wook di trilogy Oldboy, dijamin, anda akan sangat menikmati film ini.

Film Turki, layaknya kebanyakan film-film Timur Tengah lainnya, memiliki ciri khas yg sangat kental. Dialog. Saya memang belum terlalu banyak menonton film-film Timur Tengah, namun saya bersyukur karena telah sempat beberapa kali mencicipi karya-karya masterpiecenya Abbas. Di berbagai film produksi negara-negara Timur Tengah, digambarkan bahwa orang Timur Tengah itu hampir sama kayak orang Inggris. Mereka gemar sekali nyerocos. Selalu bicara. Ini justru jadi kekuatan di film-film Timur Tengah. Di film ini, anda akan banyak sekali menemukan dialog-dialog yg sangat trivia. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan inti cerita. Namun disini keasikannya. Karena terkadang diantara celotehan-celotehan yg sangat trivia ini kemudian tiba-tiba ada saja dialog yg nendang. Semacam shock therapy. Formula sama bisa ditemukan di karya-karyanya Abbas dan di Memories of Murder-nya Bong Joon Ho. Jadi saya berani mengambil kesimpulan, kemungkinan besar, menurut saya, di film ini, sang sutradara sangat dipengaruhi oleh karya dua sutradara tersebut diatas. Tema cerita yg tentang pencarian mayat korban pembunuhan akan mengingatkan anda pada Memories of Murder, sedangkan dialog yg trivia yg tiba-tiba bisa jadi sangat bermakna akan mengingatkan anda pada The Wind Will Carry Us-nya Abbas.

Aspek lain adalah visual atau kemasan. Film ini adalah film dengan cerita yang realis namun dikemas dengan kemasan yg sedikit surealis. Faktor pencahayaan dan beberapa adegan long shot sangat berperan dalam membangun aspek visual film ini sehingga pada beberapa bagian film yang ‘bercerita’ justru adalah aspek visualnya. It’s kind of modern fairytale. Dan layaknya dongeng, visual yang ditampilkan di film Ini sangat mesmerizing. Lupakan hebohnya visual efek di Avatar. Anda akan merasa 6 kali lebih puas melihat gambar-gambar sederhana namun berkesan sangat kuat yang tersaji di film ini. Pada beberapa adegan, mungkin ada baiknya jika anda sedikit mengabaikan dialognya, pertama karena seperti saya bilang, dialognya trivia (gak penting) dan kedua karena apa yang ditampilkan secara visual amat sangat sayang untuk dilewatkan. Ambil contoh adegan apel yang jatuh dari pohonnya yang diikuti dengan pergerakan kamera sampai akhirnya apel tersebut berakhir di parit kecil di bagian bawah lembah. Sementara dialog trivianya seolah-olah hanya menjadi backsound perjalanan sang apel. Atau adegan lain ketika anak perempuannya walikota mengantarkan teh pada rombongan polisi. Rangkaian adegan tanpa dialog ini justru amat sangat mistis dan ‘menegangkan’, apalagi ketika sang gadis menyerahkan sekaleng soda kepada adik tersangka. Splendid! Jika saja saya menonton film ini di bioskop, sudah pasti saya akan bertepuk tangan pada bagian ini. Apakah anda ingat dengan betapa artistiknya dinding kamar di film Oldboy? Atau betapa indahnya (kalau tidak salah) darah yang mengalir perlahan di sungai kecil yang karena begitu beningnya anda sampai bisa meilhat dasarnya di film Sympathy for Mr. Vengeance? Jurus yg sama digunakan di film ini. Adegan-adegan sederhana jadi tampak indah dengan teknik visual yg memukau dan eksekusi yang teramat sempurna. Bagaimana anda bisa melupakan lampu mobil yang menari-nari di sepanjang jalan Anatolia? Indah se-indah indahnya!

Terakhir, ceritanya. Layaknya Memories of Murder yg mengangkat tema investigasi dengan segudang letupan emosi di dalamnya, film ini pun mengambil tema yg nyaris sama. Kekuatan cerita film ini bukan pada misteri apakah mayatnya berhasil ditemukan atau apa motif dibalik tindakan kriminal ini, namun lebih kepada efek apa yang dibawa oleh kejadian ini pada orang-orang yang terlibat di dalamnya, bukan hanya pelaku, namun juga para polisi yang mengusut kasus ini. Jika di Memories of Murder hal ini mengambil rentang waktu yg cukup lama, di film ini efek tersebut muncul lebih cepat. Mengapa tersangka menangis sehabis dia mengambil teh yang ditawarkan anak perempuannya walikota? Mengapa sang dokter terlihat begitu kelelahan sehabis perjalanan mencari mayat? Mengapa sang jaksa terus menerus menceritakan tentang wanita yang meninggal tiba-tiba sehabis melahirkan? Bersiaplah menemukan kenyataan-kenyataan pahit dan mengejutkan di sepanjang film. Dan jangan lupakan endingnya! Ending terbaik, menurut saya, selama setahun terakhir. Klimaks yang begitu memukau yang akan membuat anda terdiam dan tak sanggup berkata apa-apa, bahkan untuk mengumpat sekalipun. Mengingatkan kita kembali bahwa manusia pada dasarnya hanyalah makhluk yang rapuh dan kejam yang bahkan bisa berkata pada manusia lain bahwa mereka adalah makhluk yang rapuh dan kejam. Bahwa pada dasarnya setiap manusia memiliki beban dalam hidupnya. Bahwa terkadang sebuah jawaban bukanlah jawaban atas apa yang dipertanyakan. Bahwa terkadang dalam pencariannya manusia bisa menemukan sesuatu yang sama sekali berbeda dari apa yang dia harapkan yang bisa mengubah dirinya dan juga manusia-manusia lain yang berada di sekitarnya. Sekian.

Dan anda harus menonton film ini. Harus!

 

P.S.: Tulisan asli pernah diposting di Facebook saya circa Oktober 2012.

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: