“Karena Rasa Adalah Segalanya” Ala Perfect Sense

perfect

Kemarin malam akhirnya berkesempatan nonton film ini. Dan sekarang, mumpung lagi mood, pengen saya review dikit lah. OK? OK? OK aja deh. Kalo gak OK, ntar gak boleh ikut pemilu loh…

CERITA
Film ini mengambil tema global disaster atau bencana berskala global yang mana yang jadi penyebab bencananya adalah epidemi (entah virus atau jenis penyakit menular lainnya, di filmnya sendiri memang nggak terlalu dibahas) yang mengakibatkan manusia kehilangan inderanya satu persatu, dimulai dari indera penciuman. Adapun sub plot di film ini adalah kisah romansa antara dua anak manusia, yg satu chef dan yg satu lagi epidemiologist. Sampai di sini saja film ini udah memberikan premis yang menarik. Masih ingat (dan kecewa) sama The Happening-nya Syahmalan? Atau tertarik dengan Contagion yang (menurut saya) keren itu? Nah, film ini sedikit banyak ngingetin saya sama konsep cerita The Happening namun dengan perspektif serta eksekusi yang lebih matang. Dan buat kamu kamu kamu yang mungkin terlalu ‘bosan’ sama kedataran cerita di Contagion (walaupun menurut saya, cerita film ini lumayan bagus. Pace terjaga dan cukup tegang), Perfect Sense bisa menghadirkan kemasan yang lebih dramatis dan mencekam. Intinya, ceritanya lumayan terpuji lah. Konfliknya keren dan nggak terjebak pada klise seperti film-film global disaster kebanyakan.

VISUAL
Cuaca Inggris yg suram-suram gimana gitu emang selalu cocok buat film-film bertema global disaster atau akhir jaman. Ingat 28 Days Later, kan? Nah, film ini juga mengambil setting di Inggris, sudah sepaket sama langit yg selalu mendung dan gambar dengan tone warna nyaris monokrom. Ini sedikit banyak sudah menunjang tema. Ngena banget deh. Terus lagi, sepertinya si sutradara banyak terinspirasi gaya visualnya Boyle waktu ngegarap Trainspotting dan gaya visualnya Wes Anderson. Kamu bakal nemuin banyak footage sepanjang film baik itu still photography atau potongan-pootongan gambar yg diedit cepat diimbuhi dengan narasi singkat/one liner yg seakan-akan ngedeskripsiin gambarnya. Bingung ya? Untuk lebih memahami deskripsi saya, solusi terbaik adalah menonton filmnya. Jadi buat sektor visual saya puas banget lah.

AUDIO
Ilustrasi musik mendukung. Apalagi pas adegan-adegan intens semacam ketika gejala kedua muncul (kelaparan yang muncul secara tiba-tiba dan orang-orang mulai melahap apa saja, saya ulangin, APA SAJA yang ada di hadapan mereka) atau pada saat ketika si chef mulai kehilangan suaranya dimana adegan demi adegan sangat bergantung pada sektor visual dan ilustrasi musik (adegan pas si cewe ngamuk di kantor dengan gambar fokus di hape yang tergeletak di atas meja sementara si cewe yang ngamuk di out of focus-in di background). Pemilihan string based instrument kayak biola atau cello sebagai instrumen untuk ilustrasi musik pun cukup tepat, bisa romantis banget, tragis banget, atau bahkan mencekam banget.

CASTING
Eva Green dan Ewan McGregor keren lah disini. Mungkin bisa disamakan sama penampilan Jim Carrey dan Kate Winslet di Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Depressnya dapet, emosinya kerasa, kemistri kejaga. Mereka bisa masuk banget di karakternya dengan cukup natural. Penampilan mereka di ending film sukses bikin film ini masuk ke daftar film dengan ending terbaik versi saya (entahlah kalau versi On the Spot, saya kurang tahu).

OVERALL
Mungkin banyak yg salah mengira bahwa Perfect Sense ‘hanyalah’ film romance biasa diliat dari cover DVD atau posternya (termasuk saya pada awalnya). Well, sebenernya, Perfect Sense menawarkan perspektif baru akan so-called ‘akhir dunia’. Meteor and alien are so 90’s, dude. It’s 20’s, where everything ends not with a bang but with a whisper. Memperhatikan narasi si Eva Green di sepanjang film bakal ngasih kamu gambaran cukup jelas tentang film ini. Bayangin kamu nggak bisa nyium, nggak bisa ndenger, nggak bisa ngomong. Trus apa yang tersisa? Apa hah?! APA?! Oh, ternyata masih ada cinta. Masih ada kehidupan yang terus berjalan. People will survive. With their own way. Restoran tetep buka. Pengamen tetep main biola. Polisi tetep ngasih tiket tilang. Depress. Sekaligus optimis. Endingnya sengaja dibikin ngambang, nggak kayak film-film bertema global disater lain dimana manusia (terutama orang Amerika) selalu bisa survive dari meteor, banjir bandang, atau bahkan serangan alien. Kalo kamu suka Contagion, kamu mungkin bakal suka film ini. Desperately romantic.

P.S.: Tulisan asli pernah dimuat di akun FB saya circa Januari 2013.

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: