Stempel, Kerang, dan iPod Dalam The Way

Graphic1

Seorang laki-laki Belanda yang ingin menurunkan berat badannya, seorang wanita Kanada yang ingin berhenti merokok, seorang penulis Irlandia yang mengalami writer’s block dan seorang bapak yang ingin ‘mengantarkan’ anak laki-lakinya sampai ke tempat tujuan akhir, bertemu dalam suatu perjalanan ziarah (pilgrimage) yang dikenal dengan nama “El camino de Santiago” atau “The Way of Saint James”. Quite a plot, eh? Yup, road movie yang satu ini cukup menarik dan layak dimasukkan dalam list road movie terpuji. Tidak seperti Little Miss Sunshine yang cenderung dark comedy menjurus satire atau This Must Be The Place yang cenderung depresif namun indah, The Way lebih bernuansa inspirational, touching dan sangat emosional. Balutan score yang mendayu-dayu dengan nuansa ambience yang kental semakin memperkuat karakteristik film ini. Beberapa scene akan sangat potensial membuat mata anda sedikit basah. Namun begitu, ada beberapa scene yang juga bisa menghadirkan humor mujarab dalam porsi tepat (seperti pada scene ketika Tom baru saja ingin memulai perjalanannya, keluar hotel dan menuju ke arah kanan. Sedetik kemudian peziarah lain malah melintas menuju ke arah kiri. Dan Tom mengikuti mereka dari belakang). Pendalaman karakter memang agak kurang, namun sudah cukup baik dan tidak terlihat dipaksakan, walau tentu saja, sebenarnya masih bisa lebih dieksplor. Hubungan interpersonal antara keempat orang itu juga berlangsung natural dengan titik-titik klimaks yang cukup proporsional. Film ini, dengan nuansa drama yang sangat kental ingin menyampaikan bahwa, love is the biggest power in the universe (yup, sangat sangat klise dan typical film drama. Namun disajikan dengan baik dan tidak berlebihan) dan being religious has nothing to do with any, I mean any, religion (walau pada akhirnya manusia tetap akan memerlukan satu dari berbagai agama yang tersedia sebagai pegangan hidupnya). Film yang akan sangat menghibur bagi anda yang suka traveling, losing your (so-called) religion, dan sedang dalam pencarian makna hidup (whatever it means) atau sedang berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri. Satu hal lagi yang patut diapresiasi adalah, bagaimana mengangkat sebuah tradisi atau ritual dari sebuah kultur atau budaya ke dalam pita seluloid, yang menurut saya cukup berhasil, tidak membosankan, dan menarik. Akhir kata saya sangat merekomendasikan film ini dan mengucapkan, “Buen camino…”

P.S.: Tulisan asli pernah dimuat di akun FB saya circa September 2012

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: