(Cerita #01) Lapar

lapar

Keempat orang itu masing-masing bernama Tio, Angga, Husni, dan Linggar. Mereka adalah kru kapal yang selamat dari bencana besar yang terjadi dua pekan yang lalu. Badai ganas meluluhlantahkan kapal mereka dan mengirimkan semua isi kapal ke dasar laut. Tidak ada yang selamat kecuali keempat orang itu. Mereka mengapung di lautan selama dua belas hari hingga akhirnya sekoci yang mereka tumpangi terdampar di bibir pantai sebuah pulau kecil. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih melekat di tulang, keempat orang itu berusaha keluar dari sekoci. Sesekali mereka terjatuh dalam perjalanan menuju ke arah tengah pulau. Hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari apapun yang bisa mengisi perut kosong mereka. Mereka minum air kelapa, memakan labu liar, dan memanggang beberapa ekor tupai. Seminggu berlalu. Bantuan tak kunjung datang. Keempat orang itu mulai kebingungan.

Pulau itu sangat kecil. Angga pernah sekali memutari pulau dan dia hanya butuh waktu tiga jam untuk sampai ke titik awal perjalanannya. Sebulan berlalu. Buah kelapa semakin sedikit. Tupai tidak pernah lagi terlihat. Hanya tersisa dua buah labu liar dan seekor burung kenari yang ditangkap Linggar kemarin sore. Keempat orang itu mulai memutar otak.

“Kita bisa memancing ikan,” kata Tio akhirnya.

“Ya. Ide bagus,” sahut Husni.

Mereka mulai mengumpulkan ranting kering dan mengubahnya menjadi gagang pancing sederhana. Sebagai ganti senar, mereka menggunakan serat ilalang yang dipilin dan disambung. Untunglah di sekoci itu ada sebilah parang. Benda itu menjadi sangat berguna bagi mereka. Pada sore hari, mereka sudah memiliki empat pancing yang siap dipakai.

“Umpannya apa?” tanya Husni.

“Serangga. Ada banyak di semak-semak sebelah sana,” jawab Tio.

Keesokan paginya, keempat orang itu berjalan menuju ke arah barat pulau. Di sana banyak batu-batu besar yang agak sedikit menjorok ke arah laut. Menurut Tio, itu adalah lokasi yang paling tepat untuk memancing di pulau ini.

Satu jam berlalu. Kemudian empat jam. Kemudian enam jam. Akhirnya matahari turun ke peraduannya. Tak satu ekor ikanpun mereka dapatkan hari itu.

“Tenang. Masih ada hari esok,” kata Tio berusaha menyemangati ketiga orang lainnya.

Angga meringis sambil mengelus perutnya. Linggar diam saja, melayangkan pandangannya ke tengah laut. Tatapannya kosong.

Esok harinya mereka tak kunjung mendapatkan hasil. Empat hari berlalu, mereka tak kunjung mendapat ikan. Lalu seminggu berlalu. Mereka tetap tidak mendapat ikan. Wajah mereka mulai terlihat lusuh. Mata mereka mulai sayu. Tubuh mereka mulai melemah.

Hari kesembilan, keajaiban datang. Pancing Tio bergerak-gerak liar. Tio berusaha mengendalikan pancingnya. Keringat membulir di dahinya. Giginya saling beradu. Dengan satu tarikan, pancing Tio patah jadi dua. Tio terperangah.

“Lihat! Di sana!” teriak Angga.

Linggar dan Husni langsung memalingkan wajah mereka ke arah yang ditunjuk Angga. Sementara Tio masih berlutut di atas karang. Nafasnya memburu.

“Apa itu?” tanya Husni.

“Entahlah. Itu seperti…”

“Itu manusia!” teriak Angga.

Husni dan Linggar saling berpandangan. Tanpa mereka sadari, Tio bangkit dan langsung berlari ke arah bibir pantai. Tak berpikir panjang, ketiga orang lainnya mengikuti Tio.

Sesampainya di tujuan, keempat orang itu memperlambat gerakan mereka. Tio yang masih memegang parang berlutut di dekat sesosok tubuh yang terbaring di atas pasir.

“Dia masih hidup?” Tanya Husni.

“Sepertinya aku mengenali wajahnya…” gumam Linggar.

Tio menampar-nampar pipi orang yang terbaring di atas pasir itu. Tiba-tiba saja orang itu terbatuk. Percikan air keluar dari mulutnya. Kelopak matanya bergerak-gerak perlahan.

“T…Tio…”

Husni dan Angga saling berpandangan.

“Ah, aku ingat! Dia awak kapal seperti kita! Namanya Beni!”

Tio membantu Beni bangun. Beni duduk di atas pasir. Ditekannya hidung sebelah kanannya dan dihembuskannya cairan yang mengganjal lewat lubang hidung sebelah kiri.

“Bagaimana kamu bisa sampai di sini?” Tanya Tio.

“Ceritanya panjang,” jawab Beni dengan suara serak. “Nanti aku ceritakan,” sambungnya sambil berdiri secara perlahan.

“Sepertinya itu tidak mungkin,” kata Tio. Jemarinya terlihat kian erat melingkar di sekeliling gagang parang.

“Kenapa tidak?” Tanya Beni kebingungan.

“Karena kami lapar,” jawab Tio pendek. Suaranya nyaris tak terdengar. Tatapan matanya tajam.

Nafas Beni tercekat di kerongkongannya. Mulutnya membuka pelan hendak berkata. Namun semuanya sudah terlambat.

 

FIN

#30Foto30Cerita

Sebuah proyek kecil yang (mungkin agak) ambisius. Foto diambil dari akun Instagram saya.

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: