(Cerita #02) Sepatu Baru Nisa

sepatu baru nisa

Nisa mengambil kotak itu dari lantai. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Koridor kosong. Nisa mundur selangkah lalu menutup pintu apartemennya. Dia lalu meletakkan kotak itu di atas meja dan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Saat itu masih pukul setengah enam pagi. Nisa memandangi kotak itu lalu mengosok-gosok bibirnya dengan jempol tangan kanannya.

Kotak itu berukuran sedang, kira-kira sebesar kotak sepatu. Warnanya hitam polos tanpa detail apapun. Di bagian atas kotak tertempel sehelai sticky notes bertuliskan ‘Selamat ulang tahun, Nisa…’ tanpa nama pengirim. Nisa mencopot sticky notes itu dan melipatnya kecil-kecil. Ini pasti kerjaan si Runi, pikirnya. Perlahan Nisa membuka kotak itu. Di dalamnya terlihat lapisan kain halus berwarna putih. Nisa mengangkat kain pelapis itu perlahan dan meletakkannya di atas meja. Matanya sedikit membesar melihat isi kotak. Flat shoes. Warnanya hitam mengkilat dengan aksen pita yang juga berwarna hitam. Terlihat mahal. Nisa mengeluarkan sepatu itu dari kotak dan memandangnya lama-lama. Akhirnya dia memutuskan untuk mencoba mengenakan sepatu itu di kakinya. Ternyata ukurannya pas. Sangat pas. Nisa masih memandangi sepatu itu sambil menggerak-gerakkan pergelangan kakinya. Dia beranjak dari sofa dan melangkah ke arah cermin. Di depan cermin, Nisa berpose layaknya seorang model. Dia lupa kalau saat itu dia masih mengenakan piyama berwarna biru muda. Yang ada di pikirannya hanyalah sepatu yang baru saja didapatkannya. Entah dari siapa.

Nisa meraih handphone yang berada di dekat tumpukan majalah. Dengan sekali tekan, gambar sepatu itu berpindah ke layar handphone-nya. Dia kemudian mengunggah foto itu ke akun Instagram-nya. Nisa menyertakan caption berbunyi ‘my brand new shoes’. Nisa tersenyum kecil. Sesaat kemudian Nisa tersadar. Dipandanginya jam yang menempel di dinding apartemen. Sedikit bergegas, Nisa melepaskan sepatu itu dan meletakkannya di lantai. Nisa kemudian mandi dan bersiap-siap berangkat ke kantor.

***

Bis mulai bergerak perlahan. Nisa membetulkan posisi duduknya. Dia menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. Dia merasa sedikit tidak nyaman. Mungkin karena sedari tadi beberapa orang melihat dengan tatapan aneh ke arahnya. Dua orang perempuan yang duduk  di depannya bahkan saling berbisik sambil melayangkan pandangan ke arah kaki Nisa. Nisa cuek. Pasti mereka iri melihat sepatu baruku, pikir Nisa.

Liat apa, Mbak?” tanya Nisa ketus.

“Ah, nggak…” jawab salah satu dari perempuan itu. Mereka saling berpandangan lalu tertawa cekikikan.

Nisa tak peduli. Dia mengambil handphone dari dalam tasnya dan langsung melihat ke arah layar. 34 notifikasi baru. 34 orang menyukai foto yang diunggah Nisa tadi pagi. Senyum Nisa merekah. Sepatu barunya memang mempesona. Terdorong oleh rasa bangga yang memenuhi dadanya, Nisa memutuskan untuk mengambil foto sepatunya sekali lagi. Kali ini dari angle yang sedikit berbeda. Tak sampai lima detik, foto itu sudah terpampang di akun Instagram-nya. Nisa tak lupa menyertakan caption berbunyi ‘black shoes shine’.

Bis berhenti bergerak. Nisa mengangkat kepalanya dan memasukkan handphone-nya ke dalam tas. Dia lalu berdiri dan beranjak keluar dari bis beserta penumpang lainnya. Di pintu bis, dia berpapasan dengan salah seorang petugas shelter. Petugas itu tersenyum padanya. Nisa mengangguk kecil.

“Sehat, Neng?” kata petugas itu sambil masih tetap tersenyum.

Raut muka Nisa berubah drastis. Ada apa dengan orang-orang pagi ini, pikirnya seraya mempercepat langkahnya meninggalkan shelter.

***

Nisa nyaris melemparkan tasnya ke atas meja kerjanya. Dia kemudian duduk di kursi kerjanya yang berada di kubikel berukuran enam meter persegi. Nisa memangku dagunya dengan tangan kirinya. Alisnya berkerut. Mulutnya cemberut. Dari pintu masuk kantor sampai ke kubikelnya, Nisa kembali harus menghadapi tatapan-tatapan aneh dari orang-orang. Beberapa orang bahkan tertawa saat melihatnya. Ada juga yang saling berbisik layaknya dua orang perempuan di dalam bis tadi. Nisa kesal. Bingung. Sangat kesal. Dia sudah kehilangan mood hari ini.

Nisa mengambil tasnya dan meletakkannya di laci bawah meja kerjanya. Tas itu lalu diambilnya lagi, mengeluarkan handphone, meletakkan handphone di atas meja, lalu kembali meletakkan tas itu di laci bawah meja kerjanya. Nisa berdecak jengkel. Alisnya masih berkerut. Tangan kanannya meraih handphone dan matanya mulai bergerak perlahan. 128 notifikasi baru! 128 orang menyukai foto yang diunggahnya sewaktu dia berada di dalam bis! Ada empat komentar. Masing-masing berisi pujian. Kerut di dahi Nisa menghilang berganti dengan senyuman dan mata yang berbinar. Nisa membalas komentar-komentar itu dengan ucapan ‘terima kasih’. Nisa kemudian kembali mengambil foto sepatu barunya dan kembali mengunggahnya ke akun Instagram-nya. Kali ini disertai caption berbunyi ‘at cubicle’.

“Lagi ngapain kamu?”

Nisa menoleh ke belakang.

“Runi! Tau nggak sih?! Aku…”

“Aku mau nanya,” potong Runi dengan nada bicara lumayan serius. Nisa terdiam.

Nanya apa?”

“Kamu gila ya?”

“Ih, Runi apaan sih?”

“Kamu nggak ngerasa aneh apa?”

“Aneh apanya?” Nisa balik bertanya sambil melihat ke arah tubuhnya sendiri.

Runi memalingkan wajahnya. Dia tampak sedikit kesal. “Nisa, aku tau kamu tuh emang sedikit aneh orangnya. Kita temenan udah lama. Aku tau kok kamu suka rada absurd. Cuma ya kalo sampe ke kantor gak pake sepatu, itu udah kebangetan, Nis!”

“Apa?!”

Runi masih mengoceh. Namun suaranya tak terdengar oleh Nisa. Nisa hanya menatap ke arah layar handphone-nya. Menatap foto sepatu yang baru saja diunggahnya. Menatap 309 notiifikasi baru yang mengabarkan bahwa 309 orang menyukai foto yang baru saja diunggahnya ke akun Instagram-nya.

FIN

#30Foto30Cerita

Sebuah proyek kecil yang (mungkin agak) ambisius. Foto diambil dari akun Instagram saya.

Tagged , , ,

2 thoughts on “(Cerita #02) Sepatu Baru Nisa

  1. Patricia says:

    happy belated birthday!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: