(Cerita #03) Toolbox

toolbox

Mobil itu tipe wagon. Chevy Bel Air, keluaran 1955. Warna catnya merah marun dengan atap berwarna putih. Pengendaranya seorang wanita berusia tigapuluhan. Cantik. Wajahnya putih bak porselin. Wanita itu mengenakan kacamata hitam dan sehelai scarf bermotif bunga yang melingkar di lehernya. Bibirnya dilapisi lipstik berwarna merah menyala. Sebatang rokok menthol terselip di sana, terbakar perlahan dan menebarkan asap yang terbang tersapu angin jam empat sore. Tangan kanan wanita itu menggengam kemudi mobil sementara tangan kirinya menggantung di samping pintu mobil. Kukunya yang berbalut nail polish warna merah terlihat sedikit berkilat ditimpa cahaya matahari yang sesekali muncul dari balik awan berbentuk cupcake. Mobil itu tipe wagon dan dipacu dengan kecepatan 80 kilometer per jam.

Wanita cantik itu bernama Lucy. Dia baru saja pulang dari pusat kota. Rumahnya memang terletak di daerah pinggiran, kira-kira dua jam dari pusat kota. Biasanya Lucy pergi ke pusat kota hanya untuk berbelanja kebutuhan bulanan rumah tangganya. Namun kali ini ada alasan khusus yang mengharuskannya pergi ke pusat kota. Suami Lucy sedang berada di kantor saat Lucy meninggalkan rumah. Lucy meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Dia bahkan tidak sempat mengangkat seprei putih yang dijemurnya tadi pagi. Lucy meninggalkan rumah pukul sebelas siang. Sekarang sudah pukul empat sore dan Lucy sedang berada di dalam mobil yang membawanya pulang menuju rumah. Kira-kira setengah jam lagi Lucy akan tiba di rumah. Dia akan mengangkat seprei yang dijemurnya tadi pagi, membuat secangkir teh chamomile, duduk di beranda, dan menikmati indahnya matahari sore. Setidaknya begitulah rencana Lucy.

Namun tampaknya rencana Lucy harus mengalami sedikit perubahan. Mobil wagon yang dikendarainya tampak melambat dan kemudian menepi di pinggir jalan. Kini mobil itu diam tak bergerak meski mesinnya masih mengeluarkan suara. Lucy mematikan mesin mobil lalu membuka pintu mobil. Dia lalu keluar dari mobil dan berdiri di samping mobil. Lucy menoleh ke kanan. Tak ada satupun kendaraan yang terlihat. Lucy menoleh ke kiri. Tetap tak ada satupun kendaraan yang terlihat. Lucy memandangi arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya lalu melihat ke arah ban depan mobil yang kini tampak kehilangan tiga per empat volume udara di dalamnya. Lucy berdecak pelan lalu menghela napas. Dia kemudian berbalik dan bersandar pada bagian samping mobil. Dia merogoh saku coat lalu mengeluarkan kotak rokok dan korek api. Lucy mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, menyalakan korek api, menyulut rokok, menghisapnya dalam-dalam, menengadahkan kepalanya, lalu menghembuskan asap rokok perlahan ke udara.

“Sial…” gumam Lucy pelan.

Belum habis setengah, batang rokok itu dilemparkan Lucy ke tanah lalu diinjaknya dengan kakinya yang dibalut sepatu high heels berwarna hitam mengkilap. Lucy membuka kacamata hitamnya dan melemparkannya ke atas jok mobil. Dia lalu berjalan ke arah belakang mobil dan membuka pintu bagasi mobil. Matanya bergerak-gerak pelan seperti sedang mencari sesuatu. Akhirnya dia menemukan apa yang sedang dicarinya. Lucy menarik benda itu keluar lalu menutup pintu bagasi. Dia lalu kembali ke tempat dimana dia tadi berdiri, di samping mobil. Dengan sekali gerakan, Lucy menjatuhkan benda yang diambilnya dari bagasi mobil ke atas tanah. Sebuah kotak perkakas berwarna merah. Kotak itu mengeluarkan suara cukup keras saat bersentuhan dengan tanah. Lucy membungkukkan badannya lalu membuka kotak perkakas itu. Sesaat kemudian, Lucy kembali menegakkan tubuhnya dan menghela napas panjang. Jika ada satu hal yang tidak bisa dilakukannya di dunia ini, hal itu adalah mengganti ban mobil yang bocor.

Lucy hanya memandangi beragam peralatan yang saling berdesakan di dalam kotak perkakas itu. Semua peralatan itu tampak asing baginya. Apa yang harus kulakukan, pikir Lucy. Sekali lagi dia membungkukkan badannya. Tangannya bergerak perlahan membongkar isi kotak perkakas. Lucy kemudian mengambil sebuah kunci pas dan menempelkan ujungnya ke baut yang ada di velg mobil. Terlalu kecil. Diletakkannya kembali kunci pas itu ke dalam kotak perkakas. Lucy kembali membongkar-bongkar isi kotak perkakas, berusaha mencari peralatan yang dibutuhkannya untuk mengganti ban mobilnya yang bocor. Lucy tiba-tiba sadar bahwa dia sebetulnya membutuhkan peralatan lain agar dia bisa mengganti ban mobil. Sebuah dongkrak. Itulah yang dibutuhkannya saat ini.

Lucy kembali membuka pintu bagasi mobil. Dia memindah-mindahkan beberapa barang yang berada di dalam bagasi untuk menemukan dongkrak yang dibutuhkannya. Dia bahkan mengangkat kaki suaminya yang sudah terkulai tak berdaya, berharap dongkrak yang dicarinya tertindih di bawah kaki suaminya. Namun sayang, Lucy tidak menemukan dongkrak di dalam bagasi mobil itu. Lucy membetulkan posisi kaki suaminya lalu menutup pintu bagasi. Membanting lebih tepatnya. Wajahnya kini terlihat lelah. Dahinya mulai sedikit basah oleh keringat. Lucy kembali menghela napas panjang. Kali ini dia bahkan membasuh keringat di dahinya dengan punggung telapak tangan kirinya.

Lucy berjalan menghampiri kotak perkakas yang ditinggalkannya di dekat ban depan mobil. Tiba-tiba dia mendengar suara. Lucy menoleh ke belakang. Ternyata pintu bagasi mobil terbuka dengan sendirinya. Lucy menghampiri bagian belakang mobil dan menutup pintu bagasi mobil. Sedetik kemudian pintu itu terbuka lagi dengan sendirinya. Lucy kembali membanting pintu bagasi. Pintu bagasi kembali terbuka. Lucy kesal. Dibantingnya pintu bagasi itu berkali-kali hingga akhirnya dia menyerah. Lucy membungkukkan badannya. Tangannya bertumpu pada lututnya. Napasnya terengah-engah. Suara itu terdengar lagi. Pintu bagasi kembali membuka dengan sendirinya.

Kesabaran Lucy habis. Nyaris berlari, didatanginya kotak perkakas dan diambilnya sebatang kunci inggris. Dia kemudian kembali ke bagian belakang mobil dan membuka pintu bagasi. Napasnya kian memburu. Sorot matanya liar. Dengan sekali ayunan, kunci inggris itu mendarat tepat di kepala suaminya yang sudah tak bernyawa. Lucy mengangkat tangan kanannya dan sekali lagi mendaratkan kunci inggris itu di kepala suaminya. Lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.

“Ini semua kesalahanmu!…” kata Lucy sambil memukul.

“ Jika saja…” masih memukul.

“Kau tidak tidur dengan…”

Memukul.

“Perempuan jalang itu…”

Memukul.

“Aku tidak perlu berusah-susah mendatangi kantormu hari ini!”

Memukul.

“Aku tidak…”

Memukul.

“Akan menemukan meja kerjamu…”

Memukul.

“Yang kosong!”

Lucy masih menghantamkan kunci inggris ke kepala suaminya yang mulai terbelah. Air matanya terurai deras. Suaranya bergetar hebat.

“Dan aku…”

Memukul.

“Tidak perlu menemukanmu sedang…”

Memukul.

“Bersama perempuan jalang itu di…”

Memukul.

“Hotel!”

Memukul.

“Dan aku tidak perlu…”

Memukul.

“Membunuh kalian berdua!”

Memukul.

“Dan… dan aku…”

Kunci inggris itu terlepas dari genggaman Lucy dan terjatuh di atas tanah. Lucy memungutnya dan kembali mengantamkan kunci inggris itu ke kepala suaminya.

“Dan aku tidak perlu mengalami…”

Memukul.

“Semua kesulitan ini!”

Memukul.

“Kau sendiri tahu…”

Memukul.

“Aku tidak bisa mengganti ban mobil…”

Memukul.

“Sendiri…”

Memukul.

“Dan kau…”

Memukul.

“Kau hanya berbaring di…”

Memukul.

“Sini!”

Memukul.

“Sementara…”

Memukul.

“Sementara aku harus…”

Memukul.

“Membongkar isi kotak perkakasmu…”

Memukul.

“Kotak perkakasmu yang sialan itu!”

Memukul.

“Aku…”

Memukul.

“Sudah…”

Memukul.

“Muak…”

Memukul.

“Dengan…”

Memukul.

“Semua…”

Memukul.

“Ini!”

Memukul.

Lucy terduduk. Tangan kanannya terlumuri oleh noda merah yang masih mengental. Lucy perlahan-lahan memutar posisi duduknya lalu bersandar di bagian belakang mobil. Kunci inggris yang sedari tadi digenggamnya jatuh ke tanah tepat di samping kaki kanannya. Wajah Lucy tampak benar-benar lelah sekarang. Sinar matanya tampak redup. Mungkin karena terhalang oleh butir-butir air yang masih bersarang di antara helaian bulu matanya. Dia merogoh saku coat lalu mengeluarkan kotak rokok dan korek api. Lucy mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, menyalakan korek api, menyulut rokok, menghisapnya dalam-dalam, menengadahkan kepalanya, lalu menghembuskan asap rokok perlahan ke udara.

“Sial…” gumam Lucy pelan.

 

FIN

#30Foto30Cerita

Sebuah proyek kecil yang (mungkin agak) ambisius. Foto diambil dari akun Instagram saya.

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: