(Cerita #04) Kusut

kusut

14:06

Gemerincing lonceng kecil terdengar saat Lia membuka pintu toko buku itu dengan sedikit tergesa. Gemerincing yang sama kembali terdengar saat Lia menutup pintu. Lia membuka jaket panjangnya yang sedikit basah lalu menggantungnya di dekat pintu. Di luar masih hujan. Lia mengacak-acak rambutnya, berusaha untuk menghilangkan sisa-sisa air yang menempel di sana. Kasir toko buku menatap Lia cukup lama. Lia membalas tatapan itu dengan senyuman. Sambil merapikan rambutnya, Lia melangkah ke arah rak buku di bagian kiri toko.

Toko buku itu berukuran cukup kecil. Koleksinya tidak terlalu banyak. Interiornya tampak kuno. Vintage. Meski begitu, atmosfir di dalamnya terasa sangat nyaman. Hangat. Seperti pelukan seorang kekasih di musim semi. Tidak banyak orang yang memilih untuk membeli buku di toko itu. Kebanyakan orang akan memilih toko buku modern dengan koleksi yang lebih up to date. Meski demikian, toko buku itu tetap memiliki peminat, terutama orang-orang yang mencari buku-buku tua atau buku-buku langka yang susah didapat di toko buku biasa.

Lia berdiri di depan rak berlabel ‘Misteri’. Matanya bergerak perlahan, meloncat dari satu sampul buku ke sampul buku lainnya. Sesekali tangannya terlihat bergerak menghampiri sebuah buku, seperti ingin mengambil namun tangan itu kemudian bergerak menjauh. Lia kemudian menyentuh-nyentuh bibirnya dengan ujung jari telunjuknya. Kali lain alisnya terlihat berkerut dan lidahnya berdecak pelan.

“Suka novel misteri, ya?”

Lia menoleh ke arah kanannya. Seorang laki-laki berdiri tak jauh dari tempatnya berpijak. Tangan laki-laki itu menggenggam sebuah buku berjudul ‘Do Androids Dream of Electric Sheep?’. Laki-laki itu berusia sekitar 26 atau 27 tahun. Panampilannya cukup rapi. Berkacamata. Mengenakan kemeja berwarna biru muda. Aroma parfumnya segar. Setidaknya begitulah yang dipikirkan Lia saat itu.

“Suka novel sains fiksi, ya?” Lia balik bertanya.

Laki-laki itu tersenyum. “Lumayan,” jawabnya.

“Aku sedang mencari ‘Curtain’…”

“Agatha Christie?”

“Ya. Sepertinya ada di rak paling atas,” kata Lia sambil memandang ke arah rak paling atas.

“Biar kuambilkan,” kata laki-laki itu seraya mendekat ke arah Lia. Laki-laki itu hanya tersenyum saat mengetahui bahwa Lia sedikit bergerak mundur. “Ini,” katanya sambil menyerahkan buku pada Lia.

“Terima kasih…”

“Robby. Kamu boleh memanggilku Robby,” kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangan kanannya.

“Lia,” jawab Lia sambil menjabat tangan Robby.

“Kamu sering ke sini?”

“Kadang-kadang. Aku suka suasana toko buku ini. Nyaman. Kamu?”

“Sama. Koleksi buku?”

Lia tertawa. “Tidak. Aku hanya… Pembaca kambuhan.”

Giliran Robby yang tertawa. “Pembaca kambuhan. Aku suka istilah itu.”

Lia melihat jam tangannya.

“Ada janji?”

“Iya. Aku harus bertemu seorang… Teman.”

Robby terdiam sesaat. “Buku itu jadi kamu beli?”

“Ini? Jadi. Kenapa?”

“Boleh aku lihat sebentar?”

Lia sedikit bingung. Namun dia tetap menyerahkan buku itu pada Robby.

Robby menyobek plastik yang menyegel buku itu. Lia tampak sedikit terkejut. Tangannya bergerak ingin mengambil buku itu namun diurungkannya niatnya ketika melihat Robby menuliskan sesuatu di lembar pertama buku.

“Ini,” kata Robby sambil menyerahkan buku itu pada Lia. “Itu nomor telepon aku. Aku harap kapan-kapan kita bisa bertemu lagi dan ngobrol lebih banyak. Sambil menikmati secangkir kopi, mungkin?”

Lia melihat tulisan yang baru saja dibubuhkan Robby di lembar pertama buku yang akan dibelinya.

“Sebaiknya kamu pergi sekarang. Temanmu pasti sudah menunggu,” kata Robby sambil tersenyum. “Aku masih mau melihat-lihat ke lantai atas,” sambungnya sambil menunjuk ke arah tangga.

Robby berlalu tanpa memperdulikan Lia yang masih berdiri mematung. Lia baru tersadar saat gemerincing lonceng kecil berbunyi diiringi masuknya dua orang perempuan ke dalam toko buku kecil itu. Tampaknya hujan sudah reda.

***

14:01

Di luar hujan. Anton tampak sedikit kesal karena harus terjebak di toko buku kecil itu. Dia sudah mendapatkan buku yang dicarinya sejak dua puluh menit yang lalu, sebuah novel sains fiksi berjudul ‘Do Androids Dream of Electric Sheep?’. Gara-gara hujan, Anton terpaksa harus menghabiskan waktunya di toko buku itu. Dia berpindah dari satu rak buku ke rak buku lainnya. Rasa bosan tergambar jelas di wajahnya.

Pintu toko terbuka, menebarkan gemerincing loceng kecil ke seluruh penjuru toko. Anton memalingkan wajahnya. Seorang perempuan baru saja masuk toko dengan tergesa-gesa. Sepertinya dia kehujanan. Perempuan itu membuka jaket panjangnya dan menggantungnya di dekat pintu. Sambil melangkahkan kakinya ke arah rak di bagian kiri toko, perempuan itu tampak sedikit merapikan rambutnya yang terlihat agak basah.

Anton beranjak dari tempatnya berdiri. Matanya masih mengikuti gerakan perempuan yang baru saja masuk ke dalam toko. Perempuan itu kini berdiri di depan rak berlabel ‘Misteri’. Sesekali tangannya bergerak seperti hendak mengambil buku yang ada di hadapannya. Perempuan itu juga berkali-kali menyentuh bibirnya dengan ujung jari telunjuknya. Dia pasti bingung menentukan pilihan, pikir Anton. Anton mendekat, berdiri tak jauh di sisi kanan perempuan itu.

“Suka novel misteri, ya?”

Perempuan itu menoleh, melabuhkan pandangannya ke wajah Anton. Kemudian matanya bergerak menatap buku ‘Do Androids Dream of Electric Sheep?’ yang berada di genggaman Anton. Perempuan itu berusia sekitar 23 atau 24 tahun. Penampilannya biasa, namun terlihat cukup menarik. Rambutnya sebahu dan dibiarkan terurai. Dia mengenakan dress berwarna hijau toska yang dibalut cardigan putih.

“Suka novel sains fiksi, ya?” perempuan itu balik bertanya.

Anton tersenyum. “Lumayan,” jawabnya.

“Aku sedang mencari ‘Curtain’…”

“Agatha Christie?”

“Ya. Sepertinya ada di rak paling atas,” kata perempuan itu sambil memandang ke arah rak paling atas.

“Biar kuambilkan,” kata Anton seraya mendekat ke arah perempuan itu. Anton hanya tersenyum saat mengetahui bahwa perempuan itu sedikit bergerak mundur. “Ini,” katanya sambil menyerahkan buku pada perempuan itu.

“Terima kasih…”

“Anton. Kamu boleh memanggilku Anton,” kata Anton sambil mengulurkan tangan kanannya.

“Dhea,” jawab perempuan itu sambil menjabat tangan Anton.

“Kamu sering ke sini?”

“Kadang-kadang. Aku suka suasana toko buku ini. Nyaman. Kamu?”

“Sama. Koleksi buku?”

Dhea tertawa. “Tidak. Aku hanya… Pembaca kambuhan.”

Giliran Anton yang tertawa. “Pembaca kambuhan. Aku suka istilah itu.”

Dhea melihat jam tangannya.

“Ada janji?”

“Iya. Aku harus bertemu seorang… Teman.”

Anton terdiam sesaat. “Buku itu jadi kamu beli?”

“Ini? Jadi. Kenapa?”

“Boleh aku lihat sebentar?”

Dhea sedikit bingung. Namun dia tetap menyerahkan buku itu pada Anton.

Anton menyobek plastik yang menyegel buku itu. Dhea tampak sedikit terkejut. Tangannya bergerak ingin mengambil buku itu namun diurungkannya niatnya ketika melihat Anton menuliskan sesuatu di lembar pertama buku.

“Ini,” kata Anton sambil menyerahkan buku itu pada Dhea. “Itu nomor telepon aku. Aku harap kapan-kapan kita bisa bertemu lagi dan ngobrol lebih banyak. Sambil menikmati secangkir kopi, mungkin?”

Dhea melihat tulisan yang baru saja dibubuhkan Anton di lembar pertama buku yang akan dibelinya.

“Sebaiknya kamu pergi sekarang. Temanmu pasti sudah menunggu,” kata Anton sambil tersenyum. “Aku masih mau melihat-lihat ke lantai atas,” sambungnya sambil menunjuk ke arah tangga.

Anton melangkahkan kakinya meninggalkan Dhea yang masih berdiri mematung. Dhea baru tersadar saat gemerincing lonceng kecil berbunyi diiringi masuknya dua orang perempuan ke dalam toko buku kecil itu. Tampaknya hujan sudah reda. Dhea berjalan menuju kasir lalu membayar buku yang baru saja dibelinya. Dia mengambil jaket panjangnya dari gantungan, mengenakannya, lalu berjalan keluar dari toko buku menuju café tempat dia dan temannya akan bertemu.

***

15:49

“Kamu terlambat.”

“Iya. Maaf. Tadi aku mampir ke toko buku,” kata Gilang seraya manarik kursi lalu duduk di hadapan Indri.

“Oya? Aku juga baru saja dari toko buku. Kamu beli apa?”

“Ini,” jawab Gilang sambil menunjukkan sebuah novel berjudul ‘Do Androids Dream of Electric Sheep?’. “Kamu?”

Indri mengeluarkan novel Agatha Christie dari tasnya dan menunjukkannya ke Gilang. Seorang pelayan menghampiri meja mereka.

“Pesan apa, Tuan?”

“Kopi.”

Pelayan itu pergi meninggalkan meja. Gilang mengambil buku yang berada di hadapan Indri lalu membalik-balik halamannya dengan cepat.

“Aku tidak tahu kalau kamu suka novel misteri.”

Indri tertawa. “Aku juga tidak tahu kalau kamu suka novel sains fiksi.”

Pelayan kembali ke meja mereka lalu meletakkan secangkir kopi di hadapan Gilang. Gilang menambahkan satu sendok gula ke dalam gelas kopinya.

“Tadi di toko buku… Aku bertemu seorang laki-laki.”

“Oya? Aku juga bertemu seorang perempuan.”

Indri tersenyum. “Siapa nama perempuan itu?”

“Lia… Atau Dhea, ya? Sepertinya Lia. Laki-lakimu, siapa namanya?”

“Entahlah. Aku lupa. Mungkin Robby. Atau Anton. Dia memberikan nomor teleponnya kepadaku.”

“Oya? Aku juga memberikan nomor teleponku pada perempuan yang kutemui di toko buku tadi. Aku menuliskannya di lembar pertama buku yang dibelinya.”

“Ya Tuhan…”

“Kenapa?”

“Laki-laki itu juga melakukan hal yang sama,” kata Indri sambil menunjuk buku yang masih dipegang Gilang. Gilang membuka buku itu dan menemukan sederetan angka tertulis di lembar pertama.

“Ini?” Tanya Gilang.

Indri mengangguk.

“Sudah kamu coba hubungi?”

“Entahlah. Aku merasa sedikit aneh sekarang.”

“Ini. Coba kamu hubungi nomor itu,” kata Gilang sambil menyodorkan buku itu pada Indri.

Indri mengambil ponsel dari tasnya dan langsung menekan tombol angka. Ditempelkannya ponsel itu di telinga kanannya. Jemarinya bergerak ritmis mengetuk-ngetuk permukaan meja. Terdengar nada sambung. Selisih sepersekian detik, terdengar nada dering yang berasal dari ponsel Gilang. Gilang merogoh sakunya, mengambil ponsel, dan melihat ke arah layar. Alisnya berkerut.

“Ini nomor kamu?” kata Gilang sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Indri.

Mata Indri membesar. Seketika jarinya menekan tombol pemutus pembicaraan. Ponsel yang digenggamnya terjatuh ke atas meja. Indri menutup mulutnya yang menganga dengan tangan kirinya.

“Sekarang aku benar-benar ketakutan. Ini benar-benar aneh. Pasti laki-laki tadi temanmu. Ini tidak lucu, Gi…”

Gilang tersenyum. “Mungkin ini cuma kebetulan. Mungkin laki-laki itu salah menuliskan nomor teleponnya. Mungkin…”

“Tapi Gi…”

“Sudahlah, sebaiknya kamu pulang sekarang. Aku ada janji dengan klien setengah jam lagi,” kata Gilang sambil melirik jam tangannya. “Kamu pulang saja. Berendam. Minum teh hangat. Membaca buku yang tadi kamu beli. Tak usah memikirkan kejadian hari ini. Oke?” Gilang beranjak dari kursinya. Indri masih terdiam.

“Ayo,” ajak Gilang sambil tersenyum.

Indri menatap Gilang cukup lama. Akhirnya dia tersenyum kecil. Indri berdiri lalu berjalan bersama Gilang keluar dari café.

“Bagaimana? Sudah tenang?”

“Lumayan.”

“Nanti malam aku akan mampir ke tempatmu.”

Indri mengangguk sambil tersenyum.

“Sepertinya kita harus berpisah sekarang. Aku ke arah sana,” kata Gilang sambil menunjuk ke arah kanan.

“Dan aku ke sana,” kata Indri sambil menunjuk ke arah kiri.

“Sampai nanti.”

Indri tersenyum lagi. Dia melambaikan tangannya sambil mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Gilang yang masih berdiri di depan café. Gilang membalas lambaian Indri lalu membalikkan badannya, melangkah melewati jendela café. Tiba-tiba matanya tertuju ke meja tempat mereka bertemu tadi. Sesuatu tertinggal di situ. Gilang menghentikan langkahnya lalu berbalik masuk ke dalam café. Sesampainya di meja tempat mereka tadi bertemu, Gilang mengambil sesuatu dari atas meja. Novel yang baru saja dibeli Indri. Setengah berlari, Gilang keluar dari café dan menyusul Indri. Untunglah perempuan itu belum terlalu jauh.

“Maaf…”

Perempuan itu menoleh. “Ya?”

“Bukumu tertinggal di meja café,” kata laki-laki itu sambil menunjuk ke arah café.

“Oh. Ya. Terima kasih,” kata perempuan itu sambil mengambil buku yang disodorkan oleh laki-laki yang berada di hadapannya. “Kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya perempuan itu sambil menatap wajah laki-laki itu.

Laki-laki itu tersenyum. “Aku rasa tidak. Namaku Johan,” kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya.

“Aku Inggrid,” kata perempuan itu sambil menjabat tangan laki-laki itu.

“Keberatan jika aku temani?”

“Tidak,” jawab perempuan itu sambil tersenyum.

Kini keduanya berjalan beriringan. Sesekali terdengar percakapan antara keduanya yang dibumbui dengan sedikit tawa di sana sini.

“Jadi, kamu suka novel misteri?”

 

FIN

#30Foto30Cerita

Sebuah proyek kecil yang (mungkin agak) ambisius. Foto diambil dari akun Instagram saya.

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: