(Cerita #05) Berdua Saja

berdua saja

“Aku nggak mau semuanya berakhir kayak gini…”

Suara Alena sedikit tersamarkan oleh gemuruh ombak yang memecah tepian pantai. Ada setitik getir menggantung di akhir kalimat yang baru saja meluncur dari mulut mungilnya. Tangan Alena masih menggenggam cangkang kerang yang diberikan Gunawan 10 menit yang lalu. Cangkang kerang yang menjadi tanda perpisahan mereka. Gunawan akan mengakhiri hubungannya dengan Alena. Ini adalah pertemuan terakhir mereka. Esok Gunawan akan berangkat ke ibukota dan menuntut ilmu di sana.

Gunawan menggengam tangan Alena. Pandangannya menatap jauh ke tengah laut, menampar balik ombak yang berkejaran ke arah tepi.

“Aku juga sebenernya nggak mau kayak gini, Na. Tapi aku nggak punya pilihan lain. Kita nggak punya pilihan lain. Selain mengakhiri semua ini.”

Alena menunduk, menatap kepingan cangkang kerang yang berada di antara telapak tangannya dan telapak tangan Gunawan.

“Besok kamu berangkat jam berapa?”

“Sekitar jam sepuluh.”

Alena terdiam lagi. Angin menerbangkan rambutnya hingga menutupi separuh wajahnya yang tampak muram.

“Kamu masih muda, Na. Kamu masih bakal ketemu banyak laki-laki lain yang mungkin lebih baik dari aku.”

“Jangan bilang gitu, Gun. Aku jadi tambah sedih.”

“Maaf. Maaf. Maksud aku…”

“Ya. Aku tahu, Gun. Aku tahu. Tapi aku maunya sama kamu…”

Tangis Alena pecah. Butir air mata mengalir pelan di kedua pipinya. Gunawan tak bisa berbuat banyak kecuali menggenggam tangan Alena lebih erat.

“Tidak apa-apa, Gun. Kamu benar,” kata Alena sambil menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya. “Aku harus kuat. Aku harus bisa menerima semua ini.”

Gunawan merangkul Alena. Kepala Alena jatuh di dada Gunawan. Angin masih berhembus sedikit kencang, mengibarkan ujung rok Alena ke arah kanan.

“Aku sayang kamu, Gun…”

“Aku juga sayang ka…”

“GUNAWAN! ALENA! MAKAN SIANG DULU!”

Gunawan menoleh ke belakang. Tangannya buru-buru turun dari pundak Alena.

“Iya, Ma! Sebentar!”

Gunawan memandang Alena sambil tersenyum. Alena tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Kedua anak itu lalu bergandengan tangan, berlari membelah pasir menjauhi tepi pantai. Suara yang memanggil kedua nama mereka tadi adalah milik Bu Sastro, ibu Gunawan. Piknik kali ini cukup spesial. Pak Ardi, teman dekat keluarga Gunawan yang juga ayah dari Alena, bertandang ke rumah mereka kemarin lusa. Kedua keluarga ini sudah lebih dari dua tahun tidak bertemu. Dulu mereka sempat bertetangga cukup lama. Namun ketika Alena masuk SD, keluarga pak Ardi terpaksa pindah karena Pak Ardi ditugaskan untuk berdinas di kantor yang baru.

“Ayo makan dulu. Mama sama papa udah selesai dari tadi,” kata Bu Sastro sambil memberikan piring berisi nasi pada Gunawan. “Alena mau seberapa nasinya?”

“Dikit aja tante,” jawab Alena.

“Kalian ngapain sih tadi?” Tanya Bu Ardi.

Alena dan Gunawan saling berpandangan. Wajah mereka memerah. Alena tak kuasa menahan tawa. Gunawan membuat isyarat dengan menempelkan jari telunjuk di bibirnya.

“Kita tadi main drama-dramaan gitu deh, Ma,” seru Alena masih sambil tertawa.

Kali ini giliran Bu Ardi yang saling berpandangan dengan suaminya. Pak Ardi hanya tersenyum lalu mengeluarkan kotak rokok dari saku bajunya.

“Anak-anak jaman sekarang…” selorohnya sambil menyalakan rokok.

 

FIN

#30Foto30Cerita

Sebuah proyek kecil yang (mungkin agak) ambisius. Foto diambil dari akun Instagram saya.

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: