The Drugs Don’t Work in Soderbergh’s Side Effects

Graphic1

Guru kimia saya di SMA pernah mengatakan bahwa obat-obatan pada dasarnya adalah ‘racun yang baik’. Dengan dosis yang tepat, obat-obatan dapat meringankan gejala suatu penyakit tertentu. Selain itu, obat-obatan juga harus digunakan secara benar. Mengkonsumsi obat maag tentu saja tidak akan dapat menyembuhkan gejala flu. Obat-obatan juga memiliki efek samping yang berbeda-beda. Pusing, tremor, dan mengantuk adalah beberapa efek samping umum yang bisa dihasilkan dari berbagai jenis obat-obatan yang beredar secara bebas di pasaran.

Ada berbagai fakta yang cukup menarik tentang obat-obatan, terutama di negara-negara maju seperti Amerika atau di negara-negara ‘miskin’ di Afrika (atau bahkan Indonesia). Di satu sisi, obat-obatan memiliki fungsi yang sangat mulia, menyembuhkan si sakit. Namun di sisi lain, produksi serta distribusi obat-obatan adalah lahan bisnis yang penuh konspirasi, korupsi, dan kepentingan sepihak. Setidaknya seperti itulah yang pernah diangkat di The Constant Gardener, salah satu film yang menurut saya cukup layak untuk mengupas gambaran bisnis obat-obatan dengan latar salah satu desa terpencil di Kenya.

Steven Soderbergh sebelumnya pernah menggarap Contagion, sebuah film yang (menurut saya) cukup sukses mengangkat tema penyebaran virus baru serta upaya pembuatan dan pendistribusian vaksin untuk virus tersebut. Kepiawaian Soderbergh dalam meramu elemen medis/sains dengan faktor kepentingan golongan/bisnis di Contagion sepertinya menjadi pondasi yang cukup kuat bagi sutradara ini untuk menggarap film terbarunya, Side Effects, sebuah film yang juga sedikit banyak mengangkat tentang seluk beluk bisnis obat-obatan di Amerika serta berbagai konflik yang ditimbulkan oleh obat-obatan, baik sebagai produk medis maupun sebagai produk bisnis.

Fokus cerita Side Effects tertuju pada keempat tokoh utama yang wajahnya ikut menghias poster film ini. Pasangan suami istri Martin Taylor (Channing Tatum) dan Emily Taylor (Rooney Mara) sekilas terlihat seperti pasangan muda kebanyakan. Film dibuka dengan bebasnya Martin dari penjara yang disambut dengan hangat oleh sang istri. Namun kebahagiaan ini tidak bertahan lama karena Emily mulai menunjukkan gejala-gejala depresi. Puncaknya, Emily menabrakkan mobil yang dikendarainya ke dinding tempat parkir yang berujung pada pertemuannya dengan Dr. Jonathan Banks (Jude Law), seorang psikiater yang sekilas tampak memiliki karir cemerlang. Atas saran Dr. Banks, Emily diminta untuk mengkonsumsi obat baru yang bernama Ablixa. Dr. Banks juga sempat bertukar pendapat dengan psikiater yang pernah menangani Emily, Dr. Victoria Siebert (Catherine Zeta-Jones) untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi Emily. Seiring berjalannya film, masalah demi masalah baru mulai timbul yang kemudian membawa perubahan besar pada kehidupan keempat tokoh utama tersebut. Apakah benar Emily menderita depresi? Ataukah perilakunya merupakan efek samping dari obat anti depresan yang dikonsumsinya? Mengapa Dr. Banks menyarankan Emily untuk mengkonsumsi Ablixa? Apa peran Dr. Siebert dalam ‘masalah psikis’ yang dialami Emily? Bersiaplah menemukan jawaban-jawaban yang mungkin akan sedikit mengejutkan.

Side Effects adalah tipe film dengan plot berlapis. Pada seperempat bagian pertama, anda mungkin akan berpikir bahwa ini adalah film ‘biasa’ tentang seseorang yang kecanduan obat anti depresan atau tentang efek samping obat anti depresan (yang mana juga disugestikan oleh judul film ini). Namun ketika film bergulir pada seperempat bagian kedua, anda mulai disuguhkan pada detail-detail yang mungkin akan membuat anda mulai meragukan asumsi anda sebelumnya. Detail-detail mengejutkan terus ditampilkan pada seperempat bagian berikutnya. Dan saat anda berpikir bahwa anda tahu bagaimana film ini akan berakhir, anda akan kembali dikejutkan dengan akhir cerita yang cukup brilian. Kekuatan terbesar film ini memang terletak pada plotnya. Film ini berusaha untuk mengangkat hubungan antara seorang wanita pengguna obat anti depresan, bisnis obat-obatan di dunia medis, hukum, kejahatan yang sempurna, serta seorang psikiater yang berusaha untuk mempertahankan karir dan nama baiknya. Sepanjang film ini, anda mungkin akan ikut tenggelam dalam pertanyaan ‘what the fuck is going on?’ seperti halnya saya. Mungkin juga tidak.  Untuk lebih memahami plotnya, mungkin ada baiknya jika anda mengetahui sedikit mengenai ‘double jeopardy’. Bukan elemen penting, namun setidaknya dapat sedikit membantu anda dalam mengikuti alur cerita di film ini.

Dari segi visual, kemampuan Soderbergh untuk merangkai gambar-gambar bernuansa urban tidak perlu diragukan lagi. Begitupun dengan pemilihan palet warna yang cukup mengangkat atmosfer film yang ‘dingin’ dan sedikit ‘gelap’. Pemilihan beberapa latar atau lokasi dengan gaya arsitektur modern juga merupakan salah satu daya tarik Side Effects dari segi visual. Ilustrasi musik yang minimalis juga ikut memperkuat kesan ‘dingin’ yang ingin ditampilkan oleh film ini. Sebagai film dengan genre crime/thriller, sisi teknis saya anggap cukup memuaskan. Sementara itu, segi casting dan akting juga cukup layak mendapat pujian, terutama akting Jude Law sebagai psikiater dan Rooney Mara sebagai ‘penderita’ depresi.

Jika anda tertarik dengan film yang mengangkat isu obat-obatan atau film bertema hukum, atau anda menyukai tipe-tipe film dengan plot yang lumayan kompleks, Side Effects adalah pilihan yang tepat untuk anda. Kabarnya, film ini juga merupakan film terakhir sutradara Steven Soderbergh. Jadi, bagi anda yang menyukai karya-karya sang maestro, seperti halnya saya, Side Effects akan menjadi salam perpisahan yang cukup manis untuk anda.

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: