What Does It Feel Like to Become the Last Life in the Universe

Graphic1

Tadi sore, ketika rinai hujan sedang turun dengan khusyuknya (kalau kata si Agni, ini adalah ‘Hujan Korea’), saya menyempatkan diri untuk menonton sebuah film berjudul Last Life in the Universe. Dan ternyata, di luar dugaan saya, film ini bagus sekali. Setidaknya begitulah menurut saya. Berikut adalah sedikit kesan saya mengenai film ini.

Saya pertama kali mengetahui tentang film ini ketika saya secara iseng mencari informasi mengenai film berjudul Survive Style 5+ di mesin pencari Google. Hasil dari pencarian tersebut kemudian menampilkan beberapa rekomendasi film lainnya yang, menurut mesin pencari yang bersangkutan, turut dicari oleh orang-orang yang mencari Survive Style 5+ di mesin pencari tersebut. Salah satunya adalah film ini, Last Life in the Universe. Saat pertama kali melihat poster film ini terpampang di layar monitor, saya langsung merasa tertarik. Saya kemudian membuka halaman IMDb film ini dan membaca sinopsisnya secara sepintas lalu. Saya semakin tertarik dan memutuskan untuk mengunduh film ini lewat situs berlogo kapal bajak laut yang ternama itu. Setelah menunggu dua hari lamanya, akhirnya saya bisa menonton film ini tadi sore.

Pada intinya, Last Life in the Universe menceritakan tentang interaksi antara kedua tokoh utamanya yang mengambil setting di Thailand. Tokoh pertama bernama Kenji. Dia adalah laki-laki Jepang yang menetap di Thailand. Kenji bekerja sebagai penjaga perpustakaan. Penampilanya rapi (kecuali rambutnya yang kadang terlihat agak kurang tertata dengan baik). Apartemennya dipenuhi oleh buku. Banyak sekali buku. Kenji adalah laki-laki pendiam. Dia sangat menyukai keteraturan dan kebersihan (kemungkinan besar Kenji menderita OCD. Bukan. Bukan metode diet ternama itu melainkan Obsessive Compulsive Disorder). Menariknya, Kenji juga memiliki dorongan untuk bunuh diri (suicidal tendencies) yang cukup besar. Anda bisa melihat beberapa usaha bunuh dirinya yang selalu digagalkan oleh dering bel apartemen atau suara alarm jam di film ini. Dia selalu menggunakan sumpit yang dibawanya sendiri setiap kali makan. Suatu kejadian yang cukup menakjubkan mempertemukan Kenji dengan seorang perempuan Thailand bernama Noi. Karakter Noi sangat bertolak belakang dengan Kenji. Perempuan ini sedikit urakan, cuek, dan pemalas. Noi juga seorang perokok dan penghisap ganja yang konsisten. Gaya bicaranya blak-blakan. Meskipun Noi memiliki wajah yang cantik, kecantikannya seolah-olah tertutupi oleh kepribadiannya yang kurang menyenangkan dan penampilannya yang terlampau serampangan. Sejak pertemuan mereka, Kenji memutuskan untuk menetap di rumah Noi. Kapal pecah lebih tepatnya. Piring kotor berserakkan di mana-mana, buku-buku dan majalah terbaring tak berdaya di lantai, dan ada banyak sekali puntung rokok di hampir setiap sudut rumah. Namun suasana rumah itu menjadi berubah sejak Kenji tinggal di sana (perubahan ini digambarkan secara cukup dramatis di salah satu scene dengan bantuan special effect yang tidak terlalu berlebihan). Demikian pula karakter mereka. Kehidupan tampak berjalan lebih baik bagi kedua karakter ini. Obrolan mereka kian intim. Ada canda dan gelak tawa. Namun semua itu tidak bertahan lama karena ada sesuatu tentang masa lalu Kenji yang tidak diketahui oleh Noi. Apakah yang disembunyikan Kenji? Siapakah dia sebenarnya? Apakah mereka akan terus bersama? Temukan jawabannya di film ini, salah satu film dengan ending terbaik versi saya selama setahun terakhir.

Dari sisi teknis, Last Life in the Universe saya anggap memiliki kekuatan yang cukup besar di semua lini. Kredit terbesar saya sematkan pada DoP yang berhasil menciptakan rangkaian-rangkaian gambar sederhana yang menakjubkan. Pergerakan kamera, angle, serta komposisi gambar tersaji nyaris tanpa cela. Selain deretan gambar yang sangat capture-as-wallpaper-able, kekuatan lain film ini terletak pada ilustrasi musiknya. Nada-nada minimalis bernuansa ambient semakin memperkuat jalinan cerita yang tersaji di film ini. Sedikit banyak, ilustrasi musik di Last Life in the Universe mengingatkan saya akan komposisi-komposisi karya Zeke Khaseli. Penokohan sangat memuaskan, mengalir natural dengan syahdunya. Dialog-dialog yang tercipta pun terkesan apa adanya. Hangat dan believable. Alur cerita berjalan agak lambat namun jauh dari kesan membosankan. Oya, satu hal yang cukup menarik. Judul film baru muncul ketika film telah bergulir selama 34 menit. Bagi saya, Last Life in the Universe sangat layak untuk dimasukkan ke dalam daftar film ‘galau’ terpuji, bersanding dengan ‘Lost in Translation’ dan ‘What Time Is It There?’. Banyak detail-detail yang sangat sayang untuk dilewatkan. Jika anda menyukai tipe-tipe film yang bisa membuat anda merasa bahagia dan ‘kosong’ pada saat yang bersamaan, film ini sangat saya rekomendasikan. Sandingkan film ini dengan cuaca dingin atau langit mendung, secangkir coklat hangat, dan selimut tebal. Tidak ada salahnya menyiapkan tissue jika anda termasuk orang yang mudah tersentuh. Nikmatilah indahnya menjadi Last Life in the Universe.

See you at the next sign…

P.S.: ‘Hujan Korea’ adalah istilah yang dicetuskan Agni untuk menggambarkan hujan yang berpotensi besar membuat perasaan menjadi gundah gulana, layaknya hujan yang sering muncul di film-film drama korea.

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: