Terbiasa dengan yang Kurang Sempurna

Dulu, ketika kos di Jogja, tepatnya di seputaran Pogung Dalangan, salah satu teman kos saya punya ritual yang sedikit menarik tiap paginya. Saya mengetahui ritual ini saat saya secara tidak sengaja tertidur di kamarnya setelah menemani sang teman mengerjakan tugas kuliah berupa desain logo produk semalaman. Pagi harinya, sang teman terbangun lalu langsung melangkah gontai menuju kamar mandi. Sementara itu, saya bangun dan langsung menyeduh kopi sachetan dan menyalakan sebatang rokok. Ketika sang teman kembali ke kamar, dia mengambil sepotong batang bambu berukuran panjang kira-kira 25 sentimeter dari balik tumpukan majalah di atas meja, membuka jendela kamar, lalu meletakkan batang bambu tersebut sebagai penahan antara daun jendela dengan kusen. Saya sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya menanyakan alasan teman saya meletakkan potongan batang bambu tersebut dalam posisi seperti itu.

“Itu jendelanya udah gak ada cantelannya. Jadinya pake batang bambu gitu buat nahan biar nggak nutup.”

Begitulah penjelasan singkat teman saya sebelum akhirnya dia ikut menyeduh kopi sachetan dan menyalakan komputer Pentium 4-nya.

Bagi saya hal ini cukup menarik. Saya kemudian jadi teringat kepada salah satu pintu di rumah saya waktu itu, tepatnya pintu kamar mandi. Pintu kamar mandi rumah saya harus diangkat sedikit agar dapat tertutup dalam posisi yang benar. Proses menutup pintu dengan cara diangkat sedikit ini juga pernah saya temui di rumah kontrakan salah seorang teman. Ada juga pintu yang hanya bisa dikunci bila saat memutar kunci disertai dengan memberikan sedikit tekanan pada pintu atau sedikit menarik pintu ke arah luar. Belum lagi dengan kaki meja atau kaki kursi yang lebih pendek dibanding ketiga kaki lainnya sehingga memaksa sang pemilik meja atau kursi untuk mengganjalnya dengan kertas halaman majalah yang dilipat berkali-kali.

Mungkin di rumah kalian atau di kamar kos kalian atau di rumah kontrakan kalian, kalian juga bisa menemukan hal serupa. Benda-benda yang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya atau benda-benda yang membutuhkan sedikit modifikasi atau tindakan tertentu agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya yang anehnya tetap kalian pergunakan disertai dengan ritual-ritual tertentu. oya, saya juga sempat bertanya kepada teman saya yang jendela kamarnya diganjal potongan batang bambu itu tentang mengapa dia tidak membeli cantelan jendela saja lalu memasang cantelan tersebut pada jendela kamarnya. Toh, harganya tak seberapa dan proses pemasangannya pun cukup mudah.

“Gak usahlah. Gini aja udah bisa dan gak ada masalah kok.”

Begitu jawab teman saya sembari tersenyum lalu menghisap rokok Djarum Super kesukaannya. Ya. Alasan yang sama mungkin dengan pintu kamar mandi yang harus selalu sedikit diangkat sebelum bisa tertutup rapat. Mungkin saya terlalu malas memperbaiki pintu kamar mandi tersebut. Atau mungkin saya telah terbiasa hidup dengan hal-hal yang kurang sempurna lalu mentolerir hal-hal yang kurang sempurna tersebut dan tidak keberatan menjalankan ritual-ritual sederhana. Ah, yang penting masih bisa dipake. Ah, tidak perlu sampai diperbaiki. Ah, sudah sore, mungkin saya sebaiknya mandi.

See you at the next sign…  

One thought on “Terbiasa dengan yang Kurang Sempurna

  1. Said says:

    Apik tenan iki mz :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: