Burhan Kecelakaan dan Rahasia Alam Semesta

94 km/jam. Motor tua Burhan dipacu membelah malam. Tak ada satu spesies kendaraanpun yang terlihat di jalan pada saat itu. Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat duabelas menit. Hitam pekat menyelimuti udara yang terbelah oleh sinar lampu depan motor tua milik Burhan. Burhan duduk di atas jok dengan posisi sedikit condong ke depan. Kedua telapak tangannya mencengkeram karet keras pelapis stang motor. Santai namun mantap. Angin berlarian di antara jaket jeans yang membalut tubuh kurusnya. Burhan tidak mengenakan helm. Anak rambutnya menari-nari seperti hendak lepas dari batok kepalanya. Kadang ke arah belakang, kadang sedikit serong ke arah kiri. Kaca mata yang dikenakannya sedikit berembun. Namun Burhan tidak terlalu peduli.  Dua puluh meter di depannya, sebongkah balok kayu berukuran sedang teronggok melintang di tengah jalan, tepat sehabis tikungan. Tidak ada yang tahu bagaimana balok kayu itu bisa sampai terbaring di sana. Tidak Burhan, tidak juga saya. Apalagi kalian.

Kejadian berikutnya sebaiknya kalian bayangkan dalam bentuk adegan slow motion. Burhan yang terlambat menyadari eksistensi balok kayu tersebut, berusaha untuk meredam laju motor tuanya. Usaha yang cukup sia-sia. Ban depan motor tuanya bersentuhan mesra dengan permukaan balok kayu. Ban belakang terangkat, melepaskan butir-butir tanah yang sudah melekat sejak dua hari yang lalu. Pantat Burhan perlahan bergerak menjauh dari jok motor. Sadar akan kemungkinan yang bakal terjadi, Burhan melepaskan genggamannya dari stang lalu menempelkan kedua telapak tangannya tepat di atas ubun-ubunnya. Saat Burhan melayang bebas di udara, seekor musang mengendap-endap di semak-semak yang memadati tepi jalan, berdiam menatap tubuh Burhan yang melambung. Burhan tidak mengetahui keberadaan musang ini. Tapi saya mengetahuinya. Kalian juga, karena saya baru saja menceritakannya pada kalian.

Tetap bayangkan adegan berikut ini dalam gaya slow motion. Kamera bergerak perlahan ke atas tubuh Burhan dan menangkap senyum aneh yang tercipta di wajahnya. Sorot mata Burhan tampak ramah, penuh keteduhan. Kaca mata yang dikenakannya terlepas lalu terjatuh ke atas aspal beberapa detik yang lalu, melahirkan pecahan-pecahan kristal yang terserak ramai. Beberapa bulir keringat tampak berkejaran saling menyusul di permukaan dahinya. Bibir Burhan bergerak perlahan. Sepertinya dia hendak mengatakan sesuatu. Baiklah. Kalian bisa mengembalikan adegan berikut ke dalam kecepatan putar normal. Inilah yang digumamkan Burhan kala itu.

“Seharusnya macaroni schotel tadi dipanggang pada api sedang selama 40 menit. Bukan 25 menit. Mungkin itu sebabn…”

Gumanan Burhan terhenti sampai di situ. Wajahnya mendarat di atas permukaan aspal bagai segumpal daging giling yang dituangkan ke atas permukaan wajan. Senyum itu, senyum aneh itu, masih menghiasi bibirnya. Matanya berkedip perlahan. Sedikit basah. Cairan lain mulai mengalir di dahinya. Warnanya merah. Kental. Bergerak tersendat ke arah pipi. Burhan terdiam cukup lama sebelum akhirnya dia mengerang tertahan, mencoba untuk mengangkat tubuhnya dengan bertumpu pada kedua belah tangannya. Akhirnya, setelah berusaha cukup keras, dia berhasil terduduk di tengah jalan. Sendirian. Burhan menoleh ke arah kiri, memandang motor tuanya yang terbaring lesu di atas jalan. Lampu depan masih menyala meski kacanya sedikit retak. Ban depan motor berputar pelan, menyisakan suara derit yang memecah kesunyian. Asap lembut berdansa perlahan keluar dari bagian mesin motor. Burhan tertunduk dan menghela nafas. Darah segar menetes di atas permukaan aspal, dekat kaki Burhan. Tiba-tiba handphone yang berada di saku jaketnya berbunyi.

Burhan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku jaket, mengeluarkan handphone, lalu menatap layarnya yang sedikit tergores. Foto seorang wanita terpampang tepat di tengah layar. Nilasari. Itulah nama yang tertera di bagian bawah foto itu. Burhan mendekatkan jempolnya ke arah layar handphone lalu menempelkan benda itu ke telinga kanannya.

“Halo?” kata suara di seberang sana.

Burhan terdiam. Bibirnya bergerak seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun yang keluar dari mulutnya hanyalah suara yang menyerupai sendawa.

“Burhan? Kamu di situ? Kamu sudah pulang?”

Burhan masih terdiam. Kali ini mulutnya mengeluarkan suara seperti mendesis. Mungkin dia mulai merasakan perih yang disebabkan oleh luka di kepalanya.

“Persalinannya sudah selesai, Burhan. Anaknya… Anaknya perempuan. Sehat. Dan cantik. Anak kita, Burhan!”

Burhan tersenyum kecil. Napasnya keluar teratur. Wajahnya tampak tenang. Begitu tenang. Terlalu tenang.

“Aku belum kasih nama. Aku menunggumu. Apa sebaiknya ak…”

“Flora…” kata Burhan akhirnya. Suaranya samar. Mungkin di tenggorokannya bersarang ludah bercampur darah.

“Flora?”

“Ya. Flora. Bianglala Flora Yasawara…”

Suara di seberang tak terdengar. Kesunyian kembali tercipta. Burhan memainkan butir-butir pasir di permukaan jalan dengan telunjuk kirinya. “Baiklah jika itu maumu. Nama yang bagus…” kata suara di seberang akhirnya. “Cepat ke sini, ya…”

“Ya…” jawab Burhan singkat.

Lalu terdengar nada putus. Lalu lampu motor tua Burhan padam. Lalu ada kesunyian yang begitu panjang. Lebih panjang dari biasanya.

FIN

Tagged ,

4 thoughts on “Burhan Kecelakaan dan Rahasia Alam Semesta

  1. Waduh… semoga cerita ini benar fiksi adanya😐
    omong-omong penggunaan diksi dan pembawaan interpretasi yang ciamik, terutama saat adegan slow motionnya…

  2. Daniel Papendang says:

    lucu mz, makasih hiburannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: