Selamat Malam

lupa

Rudi baru saja selesai menggosok gigi, keluar dari kamar mandi sembari menarik gagang pintu hingga pintu kamar mandi menutup sempurna. Waktu menunjukkan pukul setengah duabelas lewat empat menit. Rudi menyeka mulutnya dengan handuk seraya melemparkan pandangannya ke arah tempat tidur, ke arah istrinya, Vina, yang sedang bersandar di bantal, memegang tepi novel dengan kedua tangannya, dan menatap lurus ke arah lembaran kertas penuh tulisan. Rudi kemudian meletakkan handuk di gantungan, meraih iPad yang tergeletak di meja, berjalan menuju bagian samping tempat tidur, menyusun bantal dalam posisi tegak, lalu merebahkan tubuh ke atas tempat tidur, bersandar pada bantal layaknya Vina yang berada di sampingnya, yang masih tenggelam dalam halaman demi halaman novel yang sedang dibacanya. Rudi menoleh sejenak ke arah Vina, membuka mulutnya seperti hendak mengatakan sesuatu, namun kemudian menutupnya kembali, memandang layar iPad, dan mulai menggerakan jarinya di atas layar.

Sembilan menit berlalu tanpa disadari. Belum ada satu percakapanpun yang tercipta di antara keduanya. Sebenarnya Rudi bisa saja bercerita tentang klien yang ditemuinya tadi siang. Atau tentang satpam kantor yang baru saja membeli motor baru. Vina pun sesungguhnya bisa saja bercerita tentang resep baru yang dicobanya tadi sore. Atau tentang lukisan baru yang tiba di galeri tadi siang. Namun tidak. Keduanya saling berdiam diri. Vina menikmati novelnya, sementara Rudi tampak masih menggerak-gerakkan jarinya di atas layar iPad. Kaki kanan Rudi bergeser perlahan mendekati kaki kiri Vina. Belum sempat bersentuhan, kaki kiri Vina membuat sebuah gerakan kecil, menjauh dari kaki kanan Rudi. Kaki kanan Rudi berhenti bergerak lalu kembali ke posisi semula secara perlahan. Rudi menghela napas kecil, nyaris tertahan. Vina membalik halaman novelnya seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Rudi mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk menatap layar iPad lalu memandang bingkai foto kecil yang terletak di meja kecil di samping tempat tidur, tepat di sebelah jam tangannya. Ada gambar dua orang di sana, di tengah bingkai foto kecil itu. Rudi masih ingat, waktu itu kencan pertama mereka, dia dan Vina, sekitar delapan tahun yang lalu. Waktu itu musim panas. Mereka menghabiskan hari bersama di taman, memberi makan merpati, melihat angsa di danau buatan, menikmati roti isi di atas rumput hijau. Di foto itu, Rudi tampak merangkul Vina dari belakang. Keduanya tersenyum hangat laksana serpihan cahaya mentari di langit sore yang jernih. Rudi masih ingat. Delapan tahun yang lalu. Senyum kecil tercipta di wajahnya. Senyum yang terlihat begitu kosong.

“Kamu inget nggak…” kata Rudi seraya menoleh ke arah Vina yang masih menenggelamkan diri dalam novel yang digenggamnya. Senyum Rudi berganti menjadi sepotong garis lurus. Matanya tampak mengiba. Namun Vina tidak melihat tatapan itu. Dia masih dirangkul oleh kata-kata yang tertulis di halaman novel.

Rudi meletakkan iPad di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, tepat di sebelah jam tangannya, tepat di hadapan bingkai foto kecil yang dilihatnya sekilas. Rudi kembali menahan helaan napasnya, berusaha agar istrinya tidak sampai mendengar helaan napas itu.

“Tidur, yuk,” kata Vina akhirnya sambil menyelipkan pembatas buku lalu menutup novel yang berada di genggamannya, meletakkan novel itu di atas meja kecil di samping tempat tidur, lalu mematikan lampu meja. “Selamat malam,” bisiknya nyaris lirih sembari merebahkan tubuh, memunggungi suaminya.

Rudi menoleh sejenak. Menatap punggung istrinya yang tak lagi bergerak. “Selamat malam,” bisiknya tak kalah lirih sambil mematikan lampu meja dan membaringkan tubuh, memunggungi istrinya.

Waktu menunjukkan pukul duabelas lewat duapuluh lima menit. Vina menghela napas tertahan, berusaha agar helaan napasnya tidak sampai terdengar oleh suaminya. Perlahan dipejamkan matanya yang tampak sedikit basah.

Waktu kini menunjukkan pukul duabelas lewat empatpuluh dua menit. Suasana kamar sunyi senyap. Malam yang sama seperti biasanya. Yang akan terus berulang keesokan harinya. Entah sampai kapan.

 

FIN

Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: