Tolong Dong

Jadi…

Terus terang saya agak bingung memulai tulisan yang satu ini karena sesungguhnya saya agak kurang yakin dengan konteks serta faedah tulisan ini nantinya. Namun seperti ada yang mengganjal jika tidak dituliskan, mengingat ide tulisan ini sudah bercokol di otak sejak pertengahan Januari yang lalu. Intinya, saya hanya ingin sedikit semacam membahas, curhat lebih tepatnya, mengenai ‘budaya’ meminta, menerima, serta memberikan pertolongan. Untuk itu, saya akan menceritakan beberapa kejadian yang pernah saya alami. Sekadar bercerita saja.

Kejadian pertama terjadi sekitar tahun 2002, saya agak lupa tepatnya kapan. Waktu itu saya kebetulan numpang belajar di Fakultas Peternakan salah satu universitas besar di Jogja. Mengapa saya sampai bisa numpang belajar di sana? Jawaban singkatnya adalah, “Mumpung. Mumpung keterima di universitas keren walau program studi tidak sesuai dengan minat”. Demikianlah. Saya akhirnya berhenti masuk kelas pada akhir 2003. Ok. Balik ke kejadian yang saya maksud tadi. Jadi waktu itu saya ngekos di seputaran kawasan Pogung Dalangan. Sementara gedung kampus Fakultas Peternakan terletak di kawasan Karangmalang, nyaris mencapai Gejayan. Saya terbiasa berjalan kaki dari kos ke kampus dan dari kampus ke kos. Suatu hari, ketika selesai menghadiri jadwal kuliah sore, saya pulang ke kos dengan berjalan kaki, seperti biasanya. Sesampainya di kawasan pertigaan hutan lindung teknik yang mengarah ke Pogung, saya tiba-tiba semacam ‘dihadang’ oleh seorang ibu tua. Tidak terlalu tua sebenarnya. Singkatnya, ibu itu meminta tolong kepada saya untuk mengeluarkan sedikit uang sebagai ongkos bis ke Surabaya. Beliau bilang ingin pulang ke Surabaya namun tidak memiliki ongkos. Cara ibu itu meminta tolong tergolong cukup sopan menurut saya. Pun saya tidak merasa terganggu. Saya sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Maaf, Bu. Saya juga sedang tidak punya uang.” Ibu tua itu tersenyum lalu pamit, berjalan ke arah yang berlawanan dengan langkah kaki saya. Waktu itu saya tidak bohong karena memang di dompet saya hanya ada dua lembar uang seribuan. Di lain pihak, bila toh ternyata waktu itu saya memiliki uang sejumlah yang diminta oleh ibu itu, saya rasanya tidak akan memberikan uang saya kepada ibu itu. Alasannya? Beberapa bulan yang lalu, bapak pemilik kos saya terdahulu pernah mengatakan kepada saya untuk tidak memberikan uang pada orang-orang yang saya temui di jalan dan (mungkin) mengaku-aku akan pulang kampung dan butuh ongkos. “Di Jogja banyak yang begitu, mas. Kita ndak boleh terlalu percaya.” Begitu kata beliau. Mungkin ini semacam ‘common sense’. Bahwa di kota besar saya harus (sedikit) berhati-hati dalam memberikan pertolongan. Mungkin juga saya memang terlalu sayang dengan uang saya.

Baiklah. Kejadian kedua. Terjadinya sekitar tahun 2009 (atau 2010). Lagi-lagi saya agak lupa tepatnya kapan. Waktu itu jam menunjukkan pukul 12 malam. Kurang lebih demikian. Saat itu saya menetap di sebuah kos-kosan di kawasan Jogokaryan dan kebetulan memiliki sebuah motor seken Honda Legenda 2. Singkat kata, waktu itu saya keluar kos, pada sekitar jam 12 malam tersebut. Saya lupa tepatnya alasan saya keluar. Mau beli makan kalau tidak salah ingat. Sayapun memacu motor saya melewati pom bensin Jogokaryan lalu masuk ke Jalan Menukan. Jalan sudah lumayan sepi waktu itu. Tidak seberapa jauh dari perempatan, motor saya mati. Ternyata bensinnya habis. Sementara pom bensin Jogokaryan sudah tutup. Akhirnya saya turun dari motor dan mulai mendorong motor saya, berusaha untuk menemukan warung yang mengecer bensin. Belum seberapa jauh saya mendorong motor, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara sapaan dari belakang. Saya menoleh dan melihat seorang pria paruh baya yang menaiki motor Honda Supra. Wajahnya tidak terlihat begitu jelas karena suasana agak gelap waktu itu. Singkat kata, pria tersebut menawarkan bantuan untuk mendorong motor saya sampai menemukan warung pengecer bensin. Suara pria itu terdengar ramah. Dan lagi-lagi saya tidak merasa ‘terancam’. Setelah berbasa-basi sejenak, saya akhirnya mengatakan, “Makasih, mas. Ndak usah. Ndak apa-apa saya dorong aja.” Pria itupun akhirnya pamit setelah sebelumnya berusaha untuk tetap menawarkan bantuan dan menyatakan bahwa dia tidak keberatan yang lagi-lagi saya tolak sambil tersenyum. Sekali lagi ini semacam ‘common sense’. Di kota besar sebaiknya saya berhati-hati dalam menerima bantuan, apalagi dari orang yang tidak dikenal, pada saat atau waktu yang riskan (larut malam misalnya). Saya tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan memilih untuk menolak bantuan secara halus. Mungkin saya memang tidak memerlukan bantuan dari orang lain (yang tidak saya kenal) ketika sedang menghadapi masalah atau kesulitan.

Jika mengingat kedua kejadian itu, saya jadi semacam sedih. Sedih terhadap diri sendiri. Sedih terhadap orang lain. Sedih dengan anggapan serta pandangan banyak orang, termasuk saya. Bagaimana jika ibu itu memang benar-benar ingin pulang dan tidak punya ongkos? Bagaimana jika pria itu memang berniat tulus untuk membantu? Kejadian-kejadian seperti ini bisa terjadi di mana saja, di kota kecil atau desa sekalipun. Meski memang tak bisa dipungkiri, tinggal di kota besar akan menyebabkan anda memiliki lebih banyak peluang untuk bersinggungan dengan kejadian-kejadian semacam ini. Berhati-hati itu penting. Memang. Saya tidak memungkirinya. Saling tolong menolong itu penting. Tentu saja. Sebagai manusia kita harus berusaha untuk saling menolong. Namun kenyataannya, kehidupan bermasyarakat (akhir-akhir ini) telah menciptakan semacam anggapan tersendiri. Bahwa yang meminta tolong bisa saja ‘membahayakan’ dan bahwa menawarkan pertolongan bisa saja dianggap sebagai ‘ancaman’ oleh beberapa orang (mungkin oleh sebagian besar orang). Mungkin sebagian dari kalian pernah merasakan apa yang saya rasakan. Kecewa karena ditolak secara halus saat menawarkan pertolongan, menolak bantuan secara halus hanya semata karena yang menawarkan bantuan adalah orang asing, atau menolak memberikan pertolongan secara halus karena ‘common sense’ berkata tidak. Meminta pertolongan, menawarkan pertolongan, serta menerima pertolongan ternyata tidaklah semudah yang saya bayangkan. Terkadang saya merasa terlalu malu untuk minta tolong. Terkadang saya terlalu banyak berpikir untuk menerima pertolongan dari orang lain. Terkadang saya terlalu takut untuk menolong orang lain. Mungkin ada bagusnya. Tapi mungkin juga tidak. Entahlah.

Lalu ada kejadian ketiga. Setelah hampir lebih dari 10 tahun menumpang hidup di Jogja, saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Sejenak beristirahat, mungkin. Atau entahlah. Kembali ke rumah terasa asing pada awalnya. Seperti menetap di lingkungan baru yang tidak lagi saya kenal. Saya dipaksa untuk kembali beradaptasi. Singkat kata, waktu itu saya sudah sekitar satu tahun menetap di rumah. Suatu siang, saya mendapati ember besar yang digunakan untuk menampung air untuk memasak berada dalam kondisi nyaris kosong. Sayapun segera membawa dua galon kosong ke depot air minum isi ulang. Sesampainya di sana, saya menunggu proses pengisian galon sembari merokok. Tiba-tiba saya dipanggil oleh seorang bapak tua yang meminta tolong untuk menaikkan galon ke atas motornya. Beliau bilang, beliau tidak kuat mengangkat galon itu. Saya sempat terkejut beberapa saat. Bapak ini tidak mengenal saya, namun dia tidak segan untuk meminta tolong. Dan entah mengapa saya merasa sedikit bahagia. Saya langsung menaikkan galon itu ke atas motornya. Demikianlah. Mungkin karena pertolongan yang dibutuhkan oleh bapak itu bukanlah berwujud uang atau materi sehingga akhirnya saya merasa tidak berkeberatan membantu. Mungkin juga karena bapak itu memang benar membutuhkan pertolongan, bukan semata untuk mencari ‘keuntungan’ dari orang lain. Ya. Sepertinya saya masih harus belajar lebih banyak lagi tentang memberi, meminta, serta menerima pertolongan.

Kira-kira seperti itu tadi pikiran yang sempat mengganjal selama beberapa bulan belakangan. Seperti pikiran-pikiran saya yang lainnya, tidak terlalu penting sebenarnya. Sekadar berpikir, kemudian dituliskan, lalu mungkin dilupakan. Terlalu banyak ‘entahlah’ dan stok ‘ya sudahlah’ pun masih menumpuk. Sekian dulu.

 

See you at the next sign…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: