(Cerita #06) Edmond

edmond

Namanya Edmond. Nama yang terlalu keren mungkin untuk ukuran seorang OB. Edmond datang ke kota ini sekitar dua belas tahun silam. Waktu itu usianya baru sepuluh tahun. Dia tidak memiliki orang tua dan saudara. Dia juga tidak memiliki kerabat, teman, atau orang yang dikenalnya di kota ini. Dua belas tahun yang lalu, Edmond melangkahkan kakinya turun dari bis dan langsung berjalan menuju warung yang terletak di dalam kawasan terminal. Dia lalu memesan sepiring nasi, lengkap dengan oseng tempe, sejumput tumis kangkung, dan sepotong telur dadar tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Itu adalah makan siang pertama Edmond di kota ini. Ibu pemilik warung menatapnya agak curiga saat itu. Setiap pertanyaan yang dilontarkan sang ibu tidak pernah dijawab oleh Edmond. Anak laki-laki itu hanya menatap sang ibu sambil sedikit tersenyum lalu melanjutkan menikmati makan siangnya hingga akhirnya piring di hadapannya hanya menyisakan beberapa potong cabe dan sedikit noda minyak. Edmond lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan tiga lembar uang dua ribu yang sudah lusuh, lalu memberikan uang tersebut kepada ibu pemilik warung. Ibu pemilik warung menerima uang itu dengan agak sedikit enggan. Bukan karena uang itu demikian lusuhnya, namun karena jumlahnya yang sedikit kurang bila dijadikan penebus menu makan siang yang disajikannya untuk Edmond. Meski demikian, sang ibu tak urung menerima uang itu dan tidak berkomentar apa-apa. Edmond kembali tersenyum tipis lalu berbalik meninggalkan warung berikut sang ibu yang masih berdiri mematung. Sebelum pergi, Edmond tak lupa mengucapkan terima kasih pada ibu pemilik warung. Itu adalah kata-kata pertama yang keluar dari mulut Edmond di kota ini.

Keesokan harinya, Edmond mendapatkan pekerjaan pertamanya di kota ini. Dia menjadi loper koran. Tempat kerjanya adalah perempatan lampu merah tak jauh dari terminal. Entah bagaimana dia bisa mendapatkan pekerjaan itu. Tak seorangpun yang tahu. Edmond bekerja sebagai loper koran hingga usianya menginjak tigabelas tahun. Dia kemudian berhenti menjadi loper koran karena mendapat tawaran pekerjaan di Dinas Kebersihan Kota. Jangan tanya bagaimana dia bisa mendapatkan pekerjaan ini. Tak seorangpun yang tahu. Edmond bekerja di Dinas Kebersihan Kota hingga usianya menginjak delapanbelas tahun. Dia kemudian berhenti bekerja di Dinas Kebersihan Kota karena mendapat tawaran pekerjaan di Rumah Sakit Umum Daerah sebagai OB. Tidak ada yang tahu bagaimana Edmond bisa sampai mendapat tawaran untuk bekerja sebagai OB di Rumah Sakit Umum Daerah. Edmond bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah hingga sekitar beberapa bulan yang lalu.

Sebagai OB, tugas Edmond cukup mudah, setidaknya demikianlah yang pernah dia katakan sendiri. Dia cukup membersihkan apa yang perlu dibersihkan, merapikan apa yang perlu dirapikan, menyediakan minuman dan makanan untuk karyawan rumah sakit, mengambilkan dokumen yang perlu diambil dari ruang lain, memfotokopi apa yang perlu difotokopi, membelikan apa yang diminta oleh karyawan lain untuk dibelikan, membuang sampah, mencuci piring dan gelas, merawat tanaman, dan memindahkan perabotan rumah sakit yang perlu dipindahkan. Di antara sekian banyak OB yang bekerja di rumah sakit, Edmond dikenal sebagai yang paling pendiam. Meski sebagian besar karyawan rumah sakit tahu siapa itu Edmond, namun tak ada seorangpun yang benar-benar mengenalnya. Baik, lurus, tidak bertingkah, pendiam, penyendiri, serta rajin adalah beberapa komentar yang kerap dikeluarkan oleh karyawan rumah sakit menyangkut Edmond. Namun ketika ditanya di mana Edmond tinggal atau apa yang dilakukan Edmond ketika tidak sedang bekerja di rumah sakit, sebagian besar karyawan rumah sakit akan tertawa, sebagian yang lain akan diam kebingungan, sementara sebagian yang lain akan langsung mengalihkan pandangan ke arah layar telepon genggam masing-masing. Di antara sesama OB pun Edmond bukanlah sosok yang menonjol namun cukup sering dibicarakan karena minimnya informasi mengenai dirinya. Tidak ada seorangpun yang betul-betul berteman dengan Edmond dan tidak ada pula yang benar-benar menjadi musuhnya. Ada beragam komentar tentang Edmond yang beredar di antara sesama OB. Antara ada dan tiada, kata Rudi. Agak sedikit kikuk, tambah Imam. Terlihat baik tapi sepertinya agak menjaga jarak dari semua orang, kata Yoga. Yang penting kerjanya bagus, timpal Supri. Edmond perlahan menjelma menjadi mitos. Makhluk yang keberadaannya tak dapat disangkal namun seringnya tak disadari oleh orang lain.

Tahun kedua Edmond bekerja sebagai OB di rumah sakit ditandai dengan kegemaran barunya yang pertama kali diketahui oleh beberapa OB lain secara tak sengaja. Edmond ternyata gemar duduk di atas tangki penampung air berwarna oranye yang terletak di bagian belakang rumah sakit sembari menikmati hisap demi hisap rokok kreteknya. Tak ada yang tahu bagaimana dia bisa sampai di atas sana. Rutinitas ini biasa dilakukannya menjelang senja, selepas jadwal kerjanya berakhir, ketika langit bersaput noda merah yang berasal dari matahari yang mulai bersembunyi malu di peraduan. Biasanya, Edmond akan mengakhiri ritual ini ketika langit sudah benar-benar gelap lalu pulang ke rumahnya yang terletak entah di mana. Awalnya, beberapa orang akan terlihat sedikit kaget mendapati Edmond yang duduk dengan santainya di atas tangki air. Beberapa yang lain bahkan menatapnya dengan heran. Ada juga yang bertanya, apa yang sedang dilakukannya di atas sana, yang tentu saja hanya dibalas Edmond dengan senyum tipisnya. Selang beberapa bulan, orang-orang mulai terbiasa. Beberapa bahkan tidak lagi peduli. Ada yang bahkan tidak lagi menyadari keberadaan Edmond di atas tangki air besar berwarna oranye itu.

Hari demi hari berlalu. Rumah sakit ramai seperti biasanya. Obrolan terjadi di sana sini. Terkadang terdengar teriakan kesakitan atau raungan tangis penuh kesedihan. Pasang surut aktivitas memaksa orang-orang untuk tak lagi terlalu mempedulikan kondisi sekitar. Tidak ada yang menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda. Ada seseorang yang tak lagi terlihat di rumah sakit itu. Entah sejak kapan, tak ada yang tahu pasti. Ketika mereka sadar, mereka mulai memberikan komentar. Berbagai spekulasi muncul. Namun tidak ada yang benar-benar bisa memberikan penjelasan yang memuaskan. Hingga akhirnya semua orang tak lagi benar-benar peduli. Kembali ke rutinitas masing-masing.

***

Siang itu, Fanny, karyawan bagian keuangan, sedang menikmati menu makan siangnya bersama sahabatnya Tantri, petugas laboratorium, di kantin rumah sakit. Awalnya, mereka membicarakan tentang betapa gantengnya dokter spesialis anak yang baru saja dipindahkan dari luar kota. Lalu mereka mambahas tentang acara televisi. Lalu mereka membicarakan perihal Edmond. Seperti karyawan lainnya, mereka berdua tidak benar-benar tahu kapan tepatnya Edmond tak lagi terlihat di lingkungan rumah sakit.

“Mulai Oktober kayaknya.”

“Ah, gak mungkin. Kayaknya Oktober aku masih ngeliat dia duduk di atas tangki air kayak biasanya.”

“Oh iya, ngomong-ngomong soal tangki air, kamu merhatiin gak sih kalo sekarang ada yang sedikit beda sama tangki air itu?”

“Tangki air? Beda? Beda apanya?”

“Tulisannya. Harusnya kan ‘Tedmond’. Tapi dua minggu yang lalu aku perhatiin tulisannya sekarang malah ‘Edmond’. Nggak pake ‘T’…”

Fanny terdiam. Tantri perlahan-lahan memain-mainkan makanan yang ada di piringnya dengan sendok yang digenggamnya.

“Aku udah punya nomor dokter spesialis anak yang baru itu, lho…” kata Fanny akhirnya.

“Oya? Mana? Aku mau dong…”

FIN

#30Foto30Cerita

Sebuah proyek kecil yang (mungkin agak) ambisius. Foto diambil dari akun Instagram saya.

Catatan kaki: Sebuah usaha agak sedikit terpaksa namun penuh keikhlasan untuk meneruskan proyek yang entah bagaimana nasibnya ini sebagai suatu sarana dst dst…

Tagged , , ,

10 thoughts on “(Cerita #06) Edmond

  1. wisnuuu says:

    Tp, Mz, uang dua ribu baru terbit tahun 2009, dua belas tahun lalu belum ada..

  2. DD_ismantyo says:

    Gimana kalau endingnya, Edmond tewas tercebur di tangki air, mz? Hhe hhe

  3. masdon~ ih tau gak Dokter Rudi, yang ganteng dan kutuan itu lho…

  4. angelinanoah says:

    tapi tangkinya warna kuning je~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: