(Cerita #07) Tanah Kosong di Belakang Rumah Kami

padang rumput

Di belakang rumah kami ada sepetak tanah kosong. Tanah kosong ini berjarak sekitar sepuluh meter dari halaman belakang rumah kami dan membentang cukup luas, kira-kira bisa dibangun lima atau enam rumah berukuran sedang di sana. Namun alih-alih rumah, tanah kosong itu hanya ditempati oleh gerombolan perdu, beberapa kaleng bekas minuman ringan, serta plastik bekas pembungkus makanan kecil yang biasa dijumpai di toko kebutuhan sehari-hari. Mungkin juga ada beberapa ekor kodok yang hidup di tanah kosong itu. Atau mungkin serangga-serangga berbentuk mengerikan. Atau mungkin ular. Atau mungkin tikus. Sekitar seratus meter ke arah Utara dari tanah kosong itu terdapat sebuah hutan kecil. Tentu ada lebih banyak makhluk hidup yang tinggal di hutan itu. Tupai, misalnya. Atau mungkin babi hutan. Atau mungkin serigala. Atau mungkin harimau.

Aku senang menghabiskan waktu di tanah kosong di belakang rumah kami sepulangnya aku dari sekolah. Di rumah, aku hanya tinggal dengan ayahku, seorang pria paruh baya yang bekerja sebagai buruh di pabrik baja di kota kami. Aku tidak punya ibu. Kata ayah, ibu pergi meninggalkan rumah sewaktu aku berusia satu tahun untuk bekerja di luar negeri. Karena aku masih kecil, aku memilih untuk mempercayai cerita itu begitu saja dan tidak pernah bertanya-tanya tentang ibu kepada ayah. Ketika aku pulang sekolah, ayah biasanya masih berada di pabrik. Aku sering merasa bosan jika harus menghabiskan waktu di rumah sendirian. Makanya aku lebih memilih bermain di tanah kosong di belakang rumah kami. Di sana, di tanah kosong itu, aku bisa mengejar capung yang terbang rendah di antara gerombolan perdu, mengumpulkan daun dengan bentuk-bentuk yang tak biasa, atau menggali pasir seolah-olah sedang mencari harta karun. Berada di tanah kosong itu memang hampir sama membosankannya dengan berada di dalam rumah tanpa memiliki seorang temanpun. Namun di tanah kosong itu aku bisa bebas berkeliaran ke mana saja tanpa harus terbatas oleh dinding, tidak seperti halnya ketika aku berada di dalam rumah. Makanya aku lebih memilih menghabiskan waktu di sana, di tanah kosong di belakang rumah kami, dibandingkan di dalam rumah.

Ayah sering memperingatkan agar aku jangan terlalu sering bermain di tanah kosong di belakang rumah kami. “Nanti kamu digigit ular,” begitu katanya. Namun aku kurang percaya dengan apa yang dikatakannya. Aku belum pernah melihat seekor ularpun melata di tanah kosong di belakang rumah kami. Meskipun memang mungkin ada seekor atau dua ekor ular yang hidup di sana, namun aku belum pernah menjumpai hewan itu secara langsung. Walau aku gemar menghabiskan waktu di tanah kosong di belakang rumah kami, aku belum pernah menjelajah hingga masuk ke dalam hutan kecil yang berada tak jauh dari sana. Bukan karena aku tak mau, melainkan karena aku merasa takut dan belum siap dengan apa yang mungkin akan kutemukan di dalam hutan kecil itu. Bisa saja aku bertemu dengan babi hutan seukuran bak mandi atau harimau dengan gigi seukuran pisau dapur. Mungkin nanti, bila tubuhku sudah sedikit lebih besar dan aku sudah cukup kuat untuk mematahkan rahang babi hutan dengan kedua tanganku, aku akan memperluas wilayah petualanganku ke dalam hutan kecil yang terletak tak jauh dari tanah kosong di belakang rumah kami.

***

Siang itu, seperti juga siang-siang lainnya, aku pulang dari sekolah dan mendapati rumah dalam keadaan kosong. Ayah selalu meninggalkan kunci cadangan di bawah pot bunga krisan yang teronggok di sebelah kanan pintu depan rumah kami. Aku mengangkat pot bunga itu sedikit, mengambil kunci, membuka pintu depan, masuk, lalu menutup kembali pintu dari dalam rumah. Aku meletakkan tas di kursi belajar di dalam kamar tidurku, mengganti baju seragam sekolah dengan kaos oblong dan celana pendek, lalu segera bergegas menuju ruang makan. Aku kemudian mengambil sedikit nasi dari rice cooker, menjejalkannya ke atas permukaan piring makan, lalu meletakkan sepotong ikan kakap yang dimasak asam pedas di bagian kiri piring. Tak lupa aku menyiramkan kuah yang berwarna merah kekuningan di atas nasi yang masih mengepul hangat. Aku duduk di kursi ruang tengah, menyalakan TV, dan mulai menyantap makan siangku. Sekitar limabelas menit kemudian aku sudah menyelesaikan makan siangku. Aku beranjak ke dapur untuk mencuci tangan dan piring bekas makanku, mengambil sepotong nanas dari dalam kulkas, lalu setengah berlari keluar dari pintu dapur menuju ke tanah kosong di belakang rumah kami. Seperti biasa, tak ada apapun di sana kecuali gerombolan perdu yang bergoyang-goyang pelan tertiup angin, beberapa ekor kadal berwarna cokelat berukuran sebesar telapak tanganku, dan enam buah tutup botol minuman soda yang sudah agak berkarat. Satu jam kemudian aku sedang asik menggali tanah dekat gerombolan perdu di bagian kanan tanah kosong di belakang rumah kami. Aku menggunakan sebuah sendok yang aku temukan tak jauh dari gerombolan perdu itu. Sendok itu sudah bengkok dan berkarat dan aku menggerak-gerakannya sembari menirukan suara mekanik seolah-olah aku sedang mengoperasikan sebuah mesin pengeruk. Belum terlalu dalam menggali, sepertinya aku merasa sendok itu mengenai sesuatu, sesuatu di dalam tanah. Aku mendekatkan wajahku ke galian kecil yang tercipta di tanah di hadapanku. Dahiku mengernyit. Sesuatu yang berada di dalam tanah itu terlihat seperti kuku yang masih menempel pada sebatang jari. Jari tangan manusia.

***

Sore itu, seperti juga sore-sore lainnya, ayah pulang dari pabrik dan mendapati aku sedang membaca komik di lantai teras rumah. Aku sedikit kaget waktu menyadari bahwa ayah sudah berada di sampingku. Tangan kiriku bahkan sampai menyenggol gelas susu yang kuletakkan di lantai, menyebabkan gelas itu sedikit berputar bagai kehilangan keseimbangan.

“Kamu sakit? Kok wajahmu agak pucat?” Tanya ayah.

Aku memandang wajah ayah sesaat, menggeleng pelan, lalu kembali menatap halaman komik di hadapanku sembari mengunyah biskuit. Ayah lalu berdiri, mengelus rambutku lalu melangkah masuk kedalam rumah. Untunglah ayah tak merasa curiga dan meneruskan pertanyaannya sehingga aku tidak perlu menceritakan apa yang baru saja kutemukan di tanah kosong di belakang rumah kami tadi siang.

***

Malam itu aku terbangun karena tiba-tiba merasa sangat haus. Udara memang agak sedikit pekat malam itu menyebabkan bagian punggung baju tidurku agak sedikit basah oleh keringat. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan melihat jam weker yang terletak di atas meja di samping tempat tidur. Pukul dua lewat sebelas. Pelan-pelan aku berjalan menuju dapur, membuka kulkas, lalu menenggak susu cokelat langsung dari kotaknya. Samar-samar aku melihat kilatan cahaya lewat jendela dapur. Cahaya itu berasal dari tanah kosong di belakang rumah kami. Aku mendekatkan wajahku ke jendela dapur, berusaha untuk melihat lebih jelas sumber cahaya tersebut. Di sana, di tanah kosong di belakang rumah kami, aku melihat sebuah lampu minyak yang diletakkan di atas tanah. Lalu ada seorang pria yang sedang berlutut di dekat gundukan tanah. Seorang pria yang sangat kukenal. Seorang pria yang tinggal bersamaku di rumah ini lebih dari sembilan tahun. Lalu ada seonggok tubuh yang terbaring di tanah. Tubuh manusia. Lalu ada sebatang sekop yang ditancapkan di dekat gundukan. Lalu pria itu menyeret onggokan tubuh itu dan menjatuhkannya ke dalam lubang yang baru saja digalinya. Lalu pria itu mengambil sekop dan mulai menimbun lubang dengan gundukan tanah. Lalu aku menjauh dari jendela dapur. Lalu aku kembali ke kamar. Lalu aku menutup wajahku dengan selimut hingga mukaku menjadi hangat karena terkena hembusan napasku sendiri.

***

Esok siangnya, aku pulang ke rumah dari sekolah dan kembali mendapati rumah dalam keadaan kosong. Namun siang ini akan sedikit berbeda dari siang-siang lainnya. Aku membuka pintu depan, masuk ke dalam rumah, dan menutup pintu dari dalam. Aku menuju kamar tidurku, mengganti baju seragam sekolah dengan celana pendek dan kaos oblong, lalu berjalan menuju ruang makan. Aku menghabiskan makan siangku secepat mungkin, tempe goreng dan perkedel kentang. Setelah habis, aku mencuci piring dan tanganku, mengambil sepotong semangka dari dalam kulkas, lalu menatap tanah kosong di belakang rumahku lewat jendela dapur. Tidak seperti siang-siang lainnya, siang itu aku lebih memilih untuk kembali ke kamarku. Aku membuka lemari pakaian lalu mengambil tas ransel yang terletak di bagian bawah lemari. Aku juga mengambil beberapa helai pakaian lalu memasukkannya ke dalam tas ransel. Tak lupa aku juga memasukkan senter, radio saku, selotip berukuran besar, sebungkus keripik kentang, tiga buah buku cerita dan sebuah komik, crayon, botol minum, dua botol air minum dalam kemasan, geretan, dua kaleng leci awetan, satu kaleng sarden, satu bungkus roti isi keju, uang yang kuambil dari celengan yang kukumpulkan selama lebih dari dua tahun, empat helai kantong plastik kosong, dua buah baterai, empat strip plaster untuk luka, kaus kaki, topi, dua buah apel hijau, sebungkus kacang, dan pisau lipat swiss army. Kini tas ransel itu terlihat menggelembung. Aku mengangkat tas ransel itu dan menyandangnya di punggungku setelah sebelumnya aku mengenakan jaket berwarna biru tua yang merupakan hadiah ulang tahunku yang ke delapan. Aku keluar kamar lalu duduk di kursi dapur, mengenakan sepatu, lalu keluar lewat pintu dapur. Aku memandang tanah kosong di belakang rumah kami dengan perasaan yang sedikit berbeda. Entah mengapa, aku sekarang menjadi kurang tertarik untuk menghabiskan waktuku di sana sepulang sekolah. Aku berjalan pelan melintasi tanah kosong di belakang rumah kami menuju ke arah hutan kecil yang terletak sekitar seratus meter ke arah Utara dari tanah kosong itu. Setelah berjalan sekitar limabelas menit, aku sampai di tepi hutan. Aku menarik napas dalam-dalam, menoleh ke belakang sejenak, lalu kembali melangkahkan kakiku. Kini aku berada di dalam hutan. Keadaan di sana ternyata tidak semengerikan yang aku bayangkan. Aku terus melangkah masuk ke dalam hutan hingga tanpa terasa aku sudah berada sekitar duaratus meter dari perbatasan antara hutan kecil itu dengan tanah kosong di belakang rumah kami. Tiba-tiba aku mendengar suara gemerisik yang berasal dari arah belakangku. Aku membalikkan tubuhku dan mendapati seekor babi hutan berukuran sebesar bak mandi sedang berlari cepat menuju ke arahku. Aku bersiap-siap untuk menghindar, namun terlambat. Moncong babi hutan itu mendarat tepat di perutku. Napasku sesak. Aku merasakan sesuatu menyentuh dinding ususku. Seketika aku jatuh terjerembab ke tanah. Babi hutan itu masih menyodok-nyodokkan moncongnya ke arah perutku. Aku berusaha menahan moncongnya dengan kedua tanganku. Samar-samar, aku melihat cairan yang keluar deras dari bagian kanan perutku. Warnanya merah. Pandanganku semakin gelap. Saat itulah aku ingat kalau aku belum menutup pintu dapur ketika meninggalkan rumah tadi.

FIN

#30Foto30Cerita
Sebuah proyek kecil yang (mungkin agak) ambisius. Foto diambil dari akun Instagram saya.

Tagged , , ,

4 thoughts on “(Cerita #07) Tanah Kosong di Belakang Rumah Kami

  1. kerenn…
    mampir balik!!

  2. AF says:

    Sad..😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: