Sihir

18 Juni 1992

Siang itu tak ada bedanya dengan siang-siang yang sudah lalu. Terik matahari bergumul mesra dengan suara tonggeret yang memekik pekat. Angin berhembus sepoi, menambahkan sedikit corak lembut pada hangatnya udara. Di teras rumah yang berukuran luas sekitar empat kali tiga meter, seorang bocah sedang duduk di lantai, khusyuk menari-narikan krayon di atas permukaan kertas buku gambarnya. Teras itu terlihat cukup nyaman. Lantainya dilapisi keramik berwarna putih dengan aksen guratan halus berwarna kebiruan. Beberapa pot tanaman hias berukuran kecil tampak tersusun rapi pada bagian samping kiri teras.

“Udah selesai nggambarnya?” Tanya seorang wanita muda yang datang dari dalam rumah membawa segelas es jeruk berwarna kuning menyala. Bongkahan-bongkahan kecil es yang berada di dalam gelas saling beradu dengan dinding gelas menciptakan sebentuk nada yang sedikit samar. Bulir-bulir bening tampak berkejaran turun di dinding bagian luar gelas. Wanita muda itu meletakkan gelas berisi es jeruk di lantai lalu duduk di samping sang bocah yang masih asyik menatap halaman buku gambarnya.

“Itu gambar apa?”

“Monster,” jawab sang bocah acuh tak acuh.

“Kok nggak serem?”

“Iya. Soalnya ini monster baik. Dia suka membantu orang menyeberang jalan,” jawab sang bocah lagi.

“Lho, ada ya monster baik?” Tanya sang wanita muda sambil sedikit tersenyum.

“Ya ada,” jawab sang bocah pendek.

“Udah dulu nggambarnya. Ini es jeruknya diminum dulu.”

Sang bocah berdecak pelan. Meski wajahnya terlihat kesal, tak urung digenggamnya gelas berisi es jeruk itu lalu mulai menuangkan isinya ke dalam mulut kecilnya. Selesai minum, bocah itu menyeka mulutnya dengan menggunakan punggung telapak tangannya.

“Adik mau nggambar lagi?”

“Iya.”

“Padahal Mama mau ngajak Adik main.”

“Main apa?” Tanya sang bocah sambil meraih batang krayon berwarna hitam.

“Main sulap.”

Bocah itu meletakkan krayon yang digenggamnya. Sorot matanya tidak lagi memancarkan ketidakpedulian. “Adik mau main sulap!” Serunya girang.

“Ya udah. Mama minta kertasnya selembar ya,” kata sang wanita muda seraya membuka buku tulis kepunyaan sang bocah. Kertas itu lalu disobeknya menjadi dua bagian. Lalu disobeknya lagi hingga menjadi empat bagian. Lalu disobeknya lagi hingga menjadi delapan bagian. Sementara sang bocah menatap setiap gerak-gerik sang wanita muda dengan seksama.

“Adik bantuin Mama, ya. Kertasnya disobek kecil-kecil sampai jadi kayak gini.”

“Hm,” gumam sang bocah sambil mengangguk dalam.

Beberapa saat kemudian, selembar kertas telah berubah menjadi potongan-potongan kecil berukuran tidak lebih besar dari butiran beras. Sang wanita muda lalu mengambil penggaris mika kepunyaan sang bocah dan mulai menggosok-gosokkan penggaris itu di rambutnya. Sang bocah menatapnya keheranan.

“Kenapa?” Tanya sang wanita sambil tersenyum. “Adik juga mau?” Tanyanya lagi sembari menyodorkan penggaris mika ke arah sang bocah.

Sang bocah mengambil penggaris mika itu lalu mulai menggosok-gosokkannya di rambutnya.

“Udah. Cukup. Sekarang coba deketin penggarisnya ke potongan kertas. Deketin aja pelan-pelan.”

Sang bocah mendekatkan penggaris mika sekitar tiga jari di atas potongan kertas. Potongan-potongan kecil kertas mulai bergerak perlahan. Seperti menari. Lalu satu demi satu meloncat ke atas, melekat pada permukaan penggaris mika.

“Waaaaaaaaah,” sang bocah berseru takjub. Senyum lebar tercipta di mulut mungilnya.

Bocah itu bernama Burhan. Usianya baru menginjak enam tahun. Potongan kertas yang terbang melekat pada permukaan penggaris mika adalah ‘pertunjukan sulap’ pertama yang disaksikannya dalam kehidupannya. Wanita muda itu ibu kandung Burhan. Empat hari setelah ‘pertunjukan sulap’ itu, beliau meninggal dunia karena kecelakaan.

***

26 Oktober 2022

Waktu mengubah segalanya, termasuk Burhan. 30 tahun yang lalu Burhan adalah seorang anak kecil yang memiliki minat besar terhadap segala jenis ‘sihir’ dan ‘sulap’. Dia merasa takjub ketika mengetahui bahwa api bisa diciptakan dengan menggunakan lempengan es batu. Dia juga merasa takjub ketika mengetahui bahwa sabun dapat digunakan untuk menggerakkan batang korek api yang mengapung di atas permukaan air. Tapi itu dulu. Kini Burhan bukan lagi seorang anak kecil yang benaknya dipenuhi oleh rasa ingin tahu. Burhan yang sekarang adalah seorang pegawai swasta yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi terbesar di kota ini. Burhan memulai karirnya di perusahaan asuransi ini sejak empat belas tahun yang lalu sebagai agen penjualan. Sekarang dia bertugas memeriksa kondisi keuangan perusahaan. Tugas yang cukup berat memang. Namun sebanding dengan upah yang diterimanya dari perusahaan tempatnya bekerja. Burhan sekarang punya karir yang cukup bagus, memiliki seorang istri yang cantik, punya rumah yang cukup layak untuk dipamerkan ke sanak saudara, serta terjauh dari segala masalah keuangan.

Sepintas kehidupan Burhan terlihat baik-baik saja. Namun sesungguhnya ada sesuatu yang telah dan sedang terjadi. Mungkin kehidupan memang seperti itu. Terlihat tenang di permukaan, namun keruh pada bagian dasar. Waktu mengubah segalanya, termasuk Burhan. Dia tidak lagi merasa tertarik pada segala sesuatu yang berbau ‘sihir’. Entah sejak kapan dia menjadi seperti itu, dia pun tak tahu. Dia tak ingat. Padahal, di sekitarnya banyak sekali ‘sihir’ dan ‘pertunjukan sulap’. Namun Burhan tak lagi merasa takjub akan ‘sihir’ serta ‘pertunjukan sulap’ itu. Dia tak merasa takjub ketika mengetahui bahwa di rekening atasannya ada dana sebesar 861 miliar yang tak jelas asal usulnya. Dia juga tak merasa takjub ketika mengetahui bahwa dana itu sudah hilang keesokan harinya. Dia tak merasa takjub ketika mengetahui Ridwan, rekan kerjanya yang baru bekerja selama empat bulan tiba-tiba bisa membeli sebuah mobil mewah seharga 1,4 miliar. Kontan. Burhan juga tak merasa takjub ketika akhirnya mengetahui bahwa istrinya sudah mengandung selama enam bulan, meskipun dia ingat betul bahwa terakhir kali dia menggauli istrinya adalah sekitar dua tahun yang lalu. Ya. Semua itu ‘sihir’. ‘Pertunjukan sulap’. Burhan kecil mungkin akan merasa sangat antusias dengan semua ‘sihir’ tersebut. Tidak demikian dengan Burhan yang sekarang. Dia tak lagi merasa takjub. Dia tak lagi merasakan apa-apa.

***

Seperti biasa, hari itu Burhan pulang ke rumahnya menjelang senja. Langit agak mendung. Mungkin sebentar lagi akan hujan. Burhan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ruang makan. Istrinya menyambut kedatangannya dengan senyuman lebar.

“Aku bikin peach cake,” kata istri Burhan seraya mencium pipinya.

Burhan diam saja, mengendorkan ikatan dasinya lalu duduk di kursi makan, menatap ke arah istrinya yang kembali asyik menghias cake di meja makan.

“Kamu mau kopi?”

“Nggak usah. Aku bentar lagi mau keluar. Mau cari angin sebentar.”

“Oh. Ya udah.”

Hening.

Burhan beranjak dari duduknya lalu mencium pipi istrinya. “Aku pergi dulu.”

“Loh, nggak ganti baju?”

“Nggak.”

“Nggak cium dedek dulu?” Tanya istrinya lagi seraya mengelus-elus perutnya yang mulai sedikit membesar.

Burhan berbalik, menatap istrinya sesaat, lalu menempelkan bibirnya di perut istrinya.

“Cepat pulang, ya. Jangan kebanyakan cari angin. Ntar masuk angin,” seloroh istrinya sambil tersenyum.

Burhan tersenyum enggan, melangkah meninggalkan ruang makan, keluar lewat pintu depan.

Suasana rumah kembali senyap. Tak beberapa lama kemudian, hujan turun dengan derasnya diiringi angin kencang.

***

Burhan keluar dari mobilnya dengan tergesa, berusaha menghindari tembakan air hujan yang dilancarkan dari langit yang telah menghitam. Tak urung bajunya tetap basah ketika akhirnya dia sampai di depan pintu sebuah bar kecil di pusat kota. Tidak seperti bar-bar lain di kota itu, bar yang satu ini relatif sepi pengunjung. Itulah yang membuat Burhan sedikit menyukai tempat ini.

Burhan membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan dengan pencahayaan temaram. Pandangannya dilemparkan ke setiap penjuru bar. Dua orang pria yang sepertinya seumuran dengannya terlihat sedang duduk di salah satu meja. Keduanya sedang bercakap-cakap sembari menikmati dua botol bir. Di meja pojok ada sekumpulan anak muda mengenakan seragam basket. Sepertinya mereka baru saja pulang latihan, atau mungkin baru saja usai bertanding. Burhan berjalan menuju meja di dekat jendela, tempat favoritnya bila mengunjungi bar ini. Perlahan dihempaskannya tubuhnya ke atas sofa yang sedikit terasa penat. Tak beberapa lama kemudian, seorang pelayan berpenampilan lesu mendatangi mejanya.

“Kamu lagi. Pesan apa?” Tanya sang pelayan acuh tak acuh.

“Biasa,” jawab Burhan pendek.

Pelayan itu berbalik, berjalan menuju meja bar, mengambil sebotol bir dingin dari dalam lemari pendingin, lalu kembali ke meja Burhan. Diletakkannya botol bir itu tepat di hadapan Burhan.

“Terima kasih.”

Pelayan itu hanya menatap Burhan dengan dingin lalu kembali ke balik meja bar.

Burhan baru saja akan meneguk birnya ketika pintu bar terbuka dengan tiba-tiba. Seorang wanita muda masuk ke dalam bar dengan pakaian basah. Sepertinya dia kehujanan, pikir Burhan. Wanita itu tampak berusaha menghalau sisa-sisa air hujan yang menempel di rambut sebahunya dengan telapak tangannya. Lalu menebarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Lalu melangkah menuju meja di mana Burhan sedang duduk memperhatikan setiap gerak-geriknya. Lalu bertanya pada Burhan, “Aku boleh duduk di sini?”

Lalu hujan tiba-tiba saja berhenti.

“Silakan saja,” jawab Burhan pendek.

Wanita itu duduk di hadapan Burhan, melambai ke arah pelayan, lalu mengambil sekotak rokok dari dalam tas yang dibawanya. Dia lalu menyodorkan kotak rokok ke arah Burhan. Burhan menggeleng pelan lalu meneguk birnya.

Wanita itu tertawa. Tawa yang cukup menarik, pikir Burhan. Giginya putih dan rapi. Bibirnya merah dan terlihat segar. Garis-garis di sekitar kelopak matanya terlih –

“Bir anda, nona,”

Suara dingin sang pelayan membuyarkan lamunan Burhan. Burhan terkejut tatkala mendapati bahwa sang pelayan sedang menatapnya dengan tatapan menghakimi. Entah mendapat kekuatan dari mana, Burhan justru balik menatap sang pelayan dengan tatapan yang tak kalah ketusnya.

“Terima kasih,” jawab sang wanita dengan suara lirih yang terdengar gurih.

“Kau tahu, nona, anda sebaik –“

“Hey! Nona ini sudah bilang terima kasih!” Sergah Burhan

“Wow, tenanglah semuanya,” kata sang wanita sambil sedikit tertawa dan menggerak-gerakkan kedua tangannya seakan-akan sedang berusaha untuk menenangkan jemaat.

Sang pelayan kembali menatap Burhan. Burhan memberikan tatapan dingin. Sang pelayan mendengus kesal, kembali ke balik meja bar. Burhan tersenyum kecil penuh kemenangan.

“Ada apa dengan wanita tua itu?” Tanya sang wanita sedikit berbisik sambil tertawa kecil.

“Entahlah,” jawab Burhan pendek. Kali ini dia tersenyum.

Wanita itu tertawa lalu meneguk birnya. Burhan ikut meneguk birnya. Dia kemudian mulai memperhatikan setiap detail dari penampilan wanita yang duduk di hadapannya. Wanita itu berpenampilan menarik. dia mengenakan bodycon midi dress berwarna hitam dengan potongan yang simpel namun terlihat elegan dipadu dengan jaket kulit hitam. Rambutnya sedikit bergelombang. Sensual. Make up-nya halus dan terlihat natural. Dadanya lumay –

“Sejak kapan?”

Angan-angan Burhan buyar. Dia tampak kebingungan. “Eh, maaf?”

“Sejak kapan kamu berhenti merokok?”

“Oh. Entahlah. Sebelas, duabelas tahun yang lalu mungkin. Sejak –“ Burhan sebenarnya ingin mengatakan bahwa dia berhenti merokok sejak berkenalan dan lalu berpacaran dengan wanita yang saat ini menjadi istrinya. Namun dia mengurungkan niatnya. “Sejak aku mulai pindah ke kota ini,” katanya akhirnya.

“Wah. Lumayan lama juga, ya.”

“Ya.”

Mereka lalu mulai mengobrol tantang berbagai hal ringan. Hal-hal umum yang tidak bersifat pribadi. Hal-hal trivial yang bisa dilupakan dengan mudah kapan saja mereka mau.

“Kamu sering datang ke sini?”

“Tidak juga. Hanya sesekali. Kamu?”

“Ini pertama kalinya aku datang ke bar ini,” kata sang wanita sambil menggoyang-goyangkan botol bir yang digenggamnya. Wanita itu menatap Burhan cukup lama. Burhan salah tingkah. “Oya, aku Winda,” ujarnya kemudian seraya menyodorkan tangan ke arah Burhan.

“Burhan,” jawab Burhan sambil menjabat tangan sang wanita.

Wanita itu tersenyum. Burhan menunduk menatap permukaan meja.

Hening.

“Kamu penyihir, ya?” Tanya Burhan tiba-tiba.

“Hah? Gimana?” Wanita itu balik bertanya, sedikit tertawa.

“Eh, maaf. Aku kira kamu penyihir. Kamu tahu, maksud saya, kamu bisa melakukan trik sulap?”

Wanita itu tertawa lagi. “Uhm… Aku tahu beberapa trik sulap,” katanya sambil tersenyum.

“Bisakah kamu tunjukkan?”

“Bisa saja,” jawab wanita itu lagi. “Tapi tidak di sini,” sambungnya sambil tertawa kecil.

Hening lagi.

“Burhan… Bisakah kita… pergi ke tempat lain? tempat yang lebih… personal?”

Nafas Burhan tercekat. Ada sensasi hangat yang mengalir di rongga dadanya. Burhan sebenarnya ingin mengatakan bahwa dia telah berkeluarga. Namun yang keluar dari mulutnya justru, “Mobilku di luar. Kita bisa pergi sekarang bila kamu mau.”

Wanita itu tersenyum lalu berdiri. Ditariknya tangan Burhan dan mereka berjalan menuju pintu, meninggalkan bar dan pelayan yang baru saja menjatuhkan gelas ke atas lantai hingga pecah berhamburan.

***

“Ini apartemen kamu?”

“Bukan. Punya bos,” jawab Burhan seraya memutar kunci lalu membuka pintu. Dia menoleh menatap wajah wanita itu. “Panjang ceritanya,” sambungnya.

Mereka masuk ke dalam apartemen. Burhan menutup pintu. Wanita itu menebarkan pandangannya ke setiap jengkal interior apartemen.

“Kamar mandinya di mana?”

“Di sana,” jawab Burhan.

Wanita itu melangkahkan kakinya ke arah yang ditunjukkan oleh Burhan. Sementara Burhan melangkahkan kakinya menuju kamar tidur. Dia lalu duduk di tepi tempat tidur dan menyalakan TV. Suara shower terdengar samar-samar dari arah kamar mandi. Burhan menekan tombol remote TV berkali-kali, pindah dari satu saluran ke saluran lain. Suara shower terdengar berhenti. Tak beberapa lama kemudian, wanita itu muncul di pintu kamar, mengenakan handuk putih yang membalut tubuhnya. Rambutnya terlihat masih sedikit basah. Mulut Burhan ternganga tanpa disadarinya.

Wanita itu berjalan mendekat ke arah Burhan. Burhan melemparkan remote TV ke atas tempat tidur, meleset, lalu remote TV itu terjatuh ke atas lantai. Wanita itu duduk di sebelah Burhan sambil memilin-milin ujung rambutnya. Burhan menelan ludah. Pandangannya dilemparkannya ke arah layar TV. Wanita itu berdiri, bergeser tepat di hadapan Burhan, menghalangi pandangannya dari layar TV. Burhan merasakan sebutir keringat meluncur pelan di dahinya.

Wanita itu menanggalkan handuk yang membungkus tubuhnya. Handuk putih itu terjatuh pelan di dekat kaki Burhan. Wanita itu lalu duduk di pangkuan Burhan, menghadapkan tubuh bagian depannya cukup dekat ke wajah Burhan. Burhan merasakan napas hangatnya yang berbalik mengenai wajahnya sendiri. Wanita itu lalu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Burhan. Dia lalu menempelkan bibirnya ke bibir Burhan. Perlahan. Lembut. Burhan memejamkan matanya. Tenggelam. Hanyut.

Malam kemudian berlalu dengan desah yang memburu, erangan yang tertahan, urat yang meregang, dan keringat yang bermekaran.

***

Burhan menggeliatkan tubuhnya, membuka matanya perlahan. Cahaya matahari masuk diam-diam dari jendela, berenang di antara tirai yang sedikit terbuka, menciptakan siluet lamat-lamat tubuh seorang wanita yang tampak sedang sibuk memulaskan bedak di permukaan wajahnya.

“Jam berapa ini?” Tanya Burhan dengan suara sedikit serak seraya menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung telapak tangan.

“Sudah bangun?” Wanita itu malah balik bertanya. “Jam tujuh kurang sedikit,” sambungnya. Kini wanita itu menggoreskan ujung lipstick berwarna merah di permukaan bibirnya.

Burhan duduk di atas tempat tidur, memeluk kedua lututnya layaknya seorang anak kecil yang sedang menunggu ibunya berdandan. Wajahnya tampak bercahaya. Segaris senyum tipis tercipta di lekuk bibirnya. Matanya teduh dan terlihat sedikit berbinar.

“Kamu kenapa? Bahagia amat kayaknya?” Tanya sang wanita yang baru saja selesai berdandan. Sang wanita lalu mengambil dompet Burhan yang diletakkan di atas meja lalu menggoyangkan-goyangkan dompet itu sambil menatap Burhan seolah-olah sedang menunggu persetujuan darinya.

“Ya, ambil saja,” sahut Burhan sembari tersenyum.

Wanita itu membuka dompet, lalu mengambil beberapa lembar uang, lalu memasukkan uang yang baru saja diambilnya ke dalam tas, lalu berjalan ke arah tempat tidur, lalu duduk di tepi tempat tidur, tepat di hadapan Burhan.

“Terima kasih, ya. Untuk trik sulap semalam,” kata Burhan lirih. Bibirnya masih tersenyum tipis. Matanya masih berbinar.

Wanita itu tertawa kecil, mendekatkan wajahnya ke wajah Burhan, lalu mencolek ujung hidung Burhan. “Tadi malam itu bukan trik sulap, sayang. Itu profesionalisme,” bisik sang wanita. Dia lalu melihat jam tangannya dan buru-buru bangkit dari tempat tidur, merapikan bajunya dengan tangan, lalu mengambil tas yang diletakkannya di atas meja.

“Kamu pergi? Sekarang?” Tanya Burhan. Suaranya memelas ibarat suara anak kecil yang akan ditinggal ibunya menghadiri arisan.

“Iya. Ada meeting sama klien satu jam lagi.”

“Lalu bagaimana dengan trik sulap yang kamu janjikan?”

“Oh. Iya,” kata wanita itu seraya menghampiri Burhan. Dia menunduk lalu mengecup kening Burhan. “Sudah. Sebentar lagi tubuhmu akan berubah menjadi kupu-kupu. Banyak sekali kupu-kupu,” kata wanita itu sambil tertawa kecil. Burhan tersenyum. Wanita itu berjalan ke arah pintu.

“Apakah kita akan bertemu lagi?” Tanya Burhan.

Wanita itu menoleh. “Entahlah. Bila memungkinkan,” jawabnya sambil tersenyum. Dia lalu membuka pintu kamar, melambaikan tangannya, lalu menutup pintu dari luar.

Burhan masih terduduk di atas tempat tidur. Suasana kamar hening seketika.

Burhan turun dari tempat tidur dengan perlahan lalu berjalan ke arah balkon. Dia bersandar pada pagar balkon, menatap gedung-gedung yang angkuh, menatap bilah-bilah sinar matahari pagi, menatap jauh ke bawah. Bibirnya masih tersenyum. Matanya masih berbinar.

Sesaat kemudian balkon kosong.

Lalu terdengar pekikan.

***

Halaman apartemen ramai oleh manusia. Beberapa adalah penghuni apartemen yang keluar dari kamar mereka. Beberapa lagi adalah petugas dari kepolisian. Salah seorang dari mereka tampak memiliki jabatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Pria itu tampak berkali-kali memberikan instruksi pada bawahannya.

“Jangan lupa mengumpulkan keterangan dari pihak keamanan apartemen,” kata pria itu pada bawahannya. “Hubungi forensik,” tambahnya kemudian.

Pria itu lalu menoleh pada seorang wanita yang sedang bersandar di mobilnya. Wajah wanita itu tampak pucat. Seulas senyum aneh tampak tercipta di bibirnya yang terbalut lipstick merah.

“Nona…”

“Winda. Panggil saja Winda.”

“Nona Winda. Anda yang menelpon polisi?”

“Bukan. Bukan saya. Satpam apartemen.”

Pria itu mengeluarkan kotak rokok dari saku kemejanya, mengambil sebatang, menyelipkannya di bibir, lalu menyulut ujungnya. Disodorkannya kotak rokok itu pada sang wanita. Sang wanita mengambilnya dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Anda bersama pria itu semalaman?”

“Iya. Sampai tadi pagi. Saya baru saja keluar dari kamarnya dan tiba di lobby ketika…”

“Pria itu tidak menunjukkan sikap yang mencurigakan? Mungkin dia berkata sesuatu? Atau…”

“Tidak. Tidak. Dia sama sekali tidak mencurigakan. Mungkin dia terlihat sedikit murung. Tapi kurasa itu biasa saja. Setiap orang di kota ini selalu terlihat sedikit murung, kan?”

“Bisa jadi,” gumam sang pria. Dia menghisap rokoknya dalam-dalam. “Jadi ketika pria itu melompat dari balkon, anda sudah berada di lobby?”

“Iya.”

“Lalu?”

“Lalu tubuhnya terhempas di halaman apartemen.”

“Lalu?”

Wanita itu terdiam cukup lama. Matanya tampak agak kosong. Rokok yang bersarang di antara jari telunjuk dan jari tengahnya luluh menjadi sesaput asap yang dihalau angin, berkelok-kelok seperti sungai di tengah hutan.

“Lalu tubuhnya berubah menjadi kupu-kupu begitu menyentuh halaman apartemen,” kata wanita itu lirih. “Banyak sekali kupu-kupu,” sambungnya tak kalah lirih.

Pria itu kembali menghisap rokoknya. “Seperti sulap,” gumamnya.

“Seperti sulap,” ulang sang wanita.

Seekor kupu-kupu terbang rendah lalu hinggap di bahu sang wanita. Pria yang berdiri di sebelahnya memalingkan wajahnya menatap sang wanita yang tampak tak menyadari keberadaan hewan kecil itu. Pria itu lalu mengalihkan pandangannya pada sang kupu-kupu. Pria itu mendekatkan wajahnya, berusaha untuk melihat lebih jelas.

Kepala kupu-kupu itu berukuran cukup kecil. Namun sang pria dapat melihat dengan mata telanjang. Sebait senyum tercipta di sana. Di kepala sang kupu-kupu.

FIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: