Pemuda yang Tidak Pernah Mengumpat

Burhan membuka kunci layar gawainya dengan cara menggerak-gerakkan jarinya, membentuk suatu pola yang terkesan acak pada layar. Dia kemudian mengecek kotak pesan dan menemukan delapan belas pesan yang belum dibaca. Burhan kembali menggerakkan jarinya pada layar gawai, menghapus kedelapan belas pesan tersebut satu persatu, bahkan sebelum membacanya. Dia lalu memasukkan kembali gawainya ke dalam saku kemeja, menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu terbatuk pelan setelahnya.

Sore itu, seperti biasa, Burhan duduk sendirian di depan meja bar setelah setengah jam sebelumnya dia meninggalkan tempat kerjanya, sebuah kantor kecil penyedia jasa travel yang letaknya tak begitu jauh dari bar yang sekarang disinggahinya. Pemuda itu mengangkat gelasnya, mencurahkan tetes-tetes terakhir minuman yang dipesannya ke kerongkongannya, lalu meletakkan kembali gelas yang sudah kosong ke atas meja. Diambilnya tiga lembar uang dari dompet lalu diletakkannya di dekat gelas. Burhan menganggukkan kepalanya pada penjaga bar sembari bangkit dari duduknya. Penjaga bar membalas anggukan itu dengan seulas senyum tipis yang saking tipisnya bahkan seekor lebah pun tidak akan mampu menerjemahkan gerakan bibir itu sebagai senyuman. Seperti biasa, Burhan meninggalkan bar tepat pada pukul setengah enam sore. Ketika melangkahkan kakinya keluar melewati pintu bar, sebuah truk sampah tiba-tiba saja tergelincir dari jalan, mengirimkan sebelah roda depannya masuk ke dalam selokan.

***

Berdasarkan cerita bapaknya, Burhan mendapatkan namanya dari nama seorang kolega di tempat bapaknya dulu bekerja. Masih berdasarkan cerita bapaknya, Burhan dilahirkan secara normal tanpa kekurangan satu apapun. Kabarnya juga, Burhan tak jauh berbeda dengan anak-anak lain. Kendati demikian, ada satu hal yang membedakan Burhan dengan teman-temannya. Sedari kecil, Burhan terkenal tidak pernah mengumpat. Bahkan hingga dia beranjak remaja, dia tak kunjung mengeluarkan satu umpatan pun dari mulutnya. Begitu juga halnya ketika dia sudah mulai menginjak usia dewasa. Burhan dikenal oleh orang-orang di sekitarnya sebagai seorang pemuda yang tidak pernah mengumpat. Selebihnya, dia tak berbeda dengan pemuda-pemuda lain.

Padahal, sedari kecil Burhan sudah begitu akrab dengan yang namanya umpatan. Burhan masih ingat betul umpatan pertama yang didengarnya. Mungkin umpatan itu bukanlah umpatan pertama yang pernah didengarnya. Namun umpatan itu adalah umpatan pertama yang diingatnya dan dia tidak mampu lagi mengingat umpatan-umpatan lain yang didengarnya sebelum mendengar umpatan itu.

Waktu itu usianya sekitar empat setengah tahun. Dia sedang berjalan pulang bersama ibunya dari warung. Burhan menggenggam tangan kiri ibunya sementara tangan kanan ibunya menenteng kantong plastik berisi dua buah wortel, satu buah kubis, lima buah kentang berukuran sedang, empat batang daun bawang, bawang merah, bawang putih, cabai besar, dan sekaleng daging cincang. Tiba-tiba saja, dari arah belakang, sebuah sepeda motor melintas kencang, nyaris menabrak ibunya. Plastik belanjaan yang dipegang ibunya terlepas dan isinya berhamburan di atas jalan. Burhan masih ingat ekspresi ibunya saat itu. Matanya melotot, urat lehernya mengeras, dan mulutnya menganga lebar. Lalu Burhan mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang tidak dilupakannya hingga sekarang.

“Hei! Dasar kurang ajar! Monyet tidak tahu diunt—“

Ibunya tidak pernah menyelesaikan kalimat terakhir itu. Wajah ibunya tiba-tiba saja berubah pucat. Napasnya memburu. Tangannya memegang dadanya. Burhan tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Ibunya tiba-tiba saja terjatuh dan tak bergeming. Orang-orang lalu mulai berdatangan.

“Cepat panggil ambulans!” teriak seorang pemuda yang mengenakan kemeja berwarna kuning tua.

“Sepertinya serangan jantung,” bisik seorang wanita kepada temannya.

“Sudah terlambat. Ibu ini tampaknya sudah tak bernyawa,” kata seorang bapak berkumis tebal.

Orang-orang masih berkerumun di sekitar tubuh ibunya sementara Burhan memunguti belanjaan yang tercecer di jalan lalu memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik satu persatu. Tidak ada yang mempedulikan Burhan atau mengajaknya bicara.

Setelah selesai memasukkan semua belanjaan ke dalam kantong plastik, Burhan lalu langsung berjalan pulang sendirian sambil membawa plastik berisi dua buah wortel, satu buah kubis, lima buah kentang berukuran sedang, empat batang daun bawang, bawang merah, bawang putih, cabai besar, dan sekaleng daging cincang.

***

Burhan berjalan melintasi truk sampah yang tergelincir dari jalan tepat ketika supir truk membuka pintu truk dengan gerakan yang cukup dramatis. Supir itu bertubuh gempal. Kulitnya agak hitam dengan tangan yang ditumbuhi cukup banyak bulu berukuran cukup panjang. Wajahnya kasar, dihiasi kumis lebat lengkap dengan brewok yang tak kalah lebatnya. Ternyata truk itu tergelincir karena sang supir mengerem mendadak akibat mobil di depannya mengerem mendadak. Supir truk melompat ke atas aspal, menghampiri pengemudi mobil yang baru saja keluar dari mobil yang dikendarainya.

“Anjing! Bisa nyetir nggak, sih?! Goblok! Untung gua sempet nge—“

Burhan tidak mendengar kelanjutan kalimat itu karena suara sang supir tiba-tiba tersamarkan oleh suara klakson metromini yang dibunyikan dengan durasi yang lumayan panjang.

Burhan sendiri sebenarnya tidak pernah tahu mengapa dia tidak pernah mengeluarkan satu umpatan pun hingga saat ini. Bukan atas dasar kesopanan dan tata karma, tentu saja. Burhan tidak pernah peduli dengan yang namanya tata karma. Sepertinya ada dua alasan yang cukup mendasar mengapa Burhan tidak pernah mengumpat. Pertama, Burhan tidak pernah tahu kapan dia harus mengeluarkan umpatan. Memang ada banyak momen dalam hidupnya yang seharusnya bisa dimanfaatkan Burhan untuk mengeluarkan umpatan. Namun dia tidak pernah lekas menyadarinya dan momen-momen itu akhirnya berlalu begitu saja. Alasan kedua, kendati seandainya Burhan tahu kapan dia harus mengumpat, Burhan tidak pernah tahu kata-kata apa yang harus dia gunakan sebagai umpatan. Apakah ‘anjing’? atau ‘bangsat’? atau ‘keparat’? Burhan tidak pernah tahu. Ketidakmampuan Burhan dalam memilih kata-kata apa yang sebaiknya dia keluarkan sebagai umpatan itulah yang akhirnya kembali membuat momen-momen pemicu umpatan itu akhirnya berlalu begitu saja.

Ambil contoh kejadian yang terjadi ketika dia duduk di bangku kelas 5 SD, misalnya. Waktu itu sedang jam istirahat dan Burhan sedang duduk di kebun belakang sekolah sambil menikmati roti isi yang dibawanya dari rumah sebagai bekal. Tiba-tiba saja kepalanya ditempeleng dari belakang, membuat roti isi yang dipegangnya terlepas dari tangannya lalu terjatuh ke atas tanah. Waktu itu sebenarnya Burhan sudah ingin mengumpat. Tapi seperti biasa, dia bingung harus mengeluarkan kata-kata apa sebagai umpatan. Kebingungannya semakin bertambah ketika dia menyadari bahwa yang barusan menempeleng kepalanya adalah Tigor, teman sekelasnya yang pernah berkelahi dengan siswa kelas 2 SMA, dan menang. Tigor sempat memandang wajah Burhan cukup lama, sambil tersenyum mengejek, menunggu apa yang kira-kira akan dilakukan oleh Burhan. Burhan hanya diam. Tidak melakukan apa-apa. Tigor bosan menunggu lalu pergi meninggalkan Burhan sendirian. Burhan duduk di kebun belakang sekolah hingga adzan maghrib berkumandang. Dia lalu berdiri, berjalan ke kelasnya, mengambil tas, lalu pulang sendirian dengan berjalan kaki.

***

Sebenarnya ada banyak lagi kejadian dalam hidup Burhan yang membuatnya harus mendengar berbagai umpatan. Ada banyak juga kejadian yang membuatnya ingin mengumpat meski pada akhirnya dia tetap tidak bisa mengeluarkan satu umpatan pun dari mulutnya. Pernah suatu ketika dia sedang makan di warung makan langganannya. Waktu itu, di sebelahnya duduk seorang bapak tua yang baru saja selesai menghabiskan makanannya. Ketika akan membayar, ternyata uangnya kurang. Bapak tua itu hanya meletakkan selembar uang di atas meja tanpa mengatakan apa-apa lalu berlalu dari warung begitu saja. Ibu pemilik warung mengambil uang yang ditinggalkan sang bapak sembari berkata, “Sialan! Tiap bayar selalu saja kurang! Dasar keledai bod—”

Burhan tidak mendengar kelanjutan kalimat itu karena suara ibu pemilik warung tersamarkan oleh suara truk pembawa alat berat yang melintas di depan warung, menghantarkan jutaan butiran debu ke dalam warung yang beberapa di antaranya masuk secara tidak sengaja ke dalam lubang hidung Burhan tepat sebelum dia menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan kanannya.

Pernah juga suatu ketika Burhan sedang berada di kantor tempatnya bekerja. Waktu itu siang hari dan udara sedang panas-panasnya. Kipas angin yang berputar di langit-langit kantor yang berukuran kecil itu tak mampu menghalau udara panas yang melesak masuk setiap kali pintu kaca dibuka oleh pengunjung yang ingin memesan tiket pesawat atau kereta api. Seorang bapak tua tiba-tiba saja masuk ke dalam kantor lalu duduk berhadap-hadapan dengan rekan kerja Burhan yang duduk satu meja di sebelahnya. Wajah bapak ini cukup familiar, pikir Burhan. Tapi dia tidak ingat di mana dia pernah melihat wajah bapak tua itu. Bapak itu ingin memesan tiket pesawat ke Berlin.

“Berlin, Jerman, pak?” tanya rekan kerja Burhan.

“Bukan. Berlin, Jepang,” jawab bapak tua itu.

“Tapi di Jepang tidak ada tempat bernama Berlin, pak,” balas rekan kerja Burhan sambil tersenyum.

“Ada,” jawab bapak tua itu singkat.

“Berlin itu di Jerman, pak,” kata rekan kerja Burhan lagi. Kali ini nada suaranya mulai agak meninggi.

“Bukan. Di Jepang,” jawab bapak tua itu dengan yakin.

Rekan kerja Burhan diam sejenak, menatap bapak tua itu sambil tersenyum mengejek. “Maaf, pak, untuk sementara tiket ke Berlin, JERMAN, tidak tersedia,” katanya akhirnya dengan nada diplomatis yang dibuat-buat dan tetap terkesan mengejek.

“Ah, bilang dari tadi. Saya buang-buang waktu saja,” kata bapak tua itu seraya berdiri dari kursi dan berjalan menuju pintu keluar.

Ketika bapak tua itu membuka pintu kaca dan keluar dari kantor, Burhan baru ingat di mana dia pernah melihat bapak tua itu. Dia adalah bapak tua yang sama yang pernah ditemuinya di warung makan langganannya, yang membayar makanan dengan uang yang kurang. Tiba-tiba saja Burhan merasa penasaran dan langsung membuka halaman mesin pencari di layar komputernya. Burhan menuliskan ‘Berlin Jepang’ di kolom pencarian. Sesaat kemudian, halaman hasil pencarian muncul di layar komputer. Ternyata memang ada kota bernama Berlin di Jepang. Burhan baru saja hendak memiringkan monitor komputernya untuk menunjukkan temuannya pada rekan kerjanya ketika rekan kerjanya berkata, “Tua bangka bodoh! Mana ada kota di Jepang bernama Berlin. Dasar otak ud—“

Rekan kerjanya tidak menyelesaikan kalimat itu karena telepon di mejanya berdering dan dia langsung mengangkatnya. Burhan menutup halaman mesin pencari di layar komputernya lalu berdiri dari kursinya.

“Hey, mau ke mana?” tanya rekan kerjanya.

“Merokok,” jawab Burhan pendek.

Begitulah. Cukup banyak memang kejadian yang melibatkan umpatan yang muncul dalam kehidpan Burhan. Yang jelas, dia tidak pernah menjadi orang yang mengeluarkan umpatan-umpatan tersebut.

***

Suatu kali Burhan pernah berlatih mengeluarkan umpatan di kamar kosnya. Waktu itu dia berdiri di depan cermin dan berusaha menciptakan berbagai ekspresi wajah yang terkesan sangar. Tentu saja hasilnya malah justru menggelikan. Burhan juga berulang kali mengeluarkan umpatan-umpatan seperti ‘anjing’, ‘bangsat’, atau ‘goblok’ dengan intonasi serta artikulasi yang bervariasi. Namun tetap saja dia tidak bisa mengeluarkan umpatan seperti yang sering didengarnya selama ini. Ada sesuatu yang kurang. Namun Burhan tidak tahu apa itu. Tepat delapan belas menit kemudian, Burhan merasa bosan lalu memutuskan untuk duduk di tepi tempat tidur sembari menghisap rokok.

***

Sesampainya di kos, Burhan langsung mandi, membuat semangkuk mie, menggoreng dua potong sosis, dan menyeduh secangkir teh. Burhan lalu duduk di kursi, menyeruput kuah mie, menggigit potongan sosis, dan mengaduk teh di dalam cangkir dengan sendok sambil menonton berita di TV mengenai sebuah SD yang terbakar. SD itu tampak familiar, pikir Burhan. Entah mengapa, gambar lidah api yang menjulur-julur itu tiba-tiba malah mengingatkan Burhan pada sesosok wajah.

Namanya Rini. Setahu Burhan, dia adalah sekretaris di sebuah perusahaan ekspor impor. Burhan mengenal Rini sejak empat bulan yang lalu. Tidak benar-benar mengenalnya, tentu saja. Hanya sebatas hubungan antara karyawan kantor jasa travel dengan pelanggan, bukan suatu hubungan yang sifatnya personal. Rini merupakan salah satu pelanggan tetap di kantor tempat Burhan bekerja. Rini akan menjumpai Burhan setiap kali dia membutuhkan tiket pesawat untuk atasannya yang akan melakukan perjalanan bisnis. Dalam sebulan, Rini bisa mengunjungi kantor jasa travel itu tujuh sampai delapan kali. Sejak perjumpaan pertama mereka empat bulan yang lalu, Burhan sudah merasa tertarik pada Rini. Namun dia tidak pernah menunjukkan hal tersebut. Terlebih lagi, dia selalu merasa agak sedikit canggung ketika harus berhadapan dengan gadis itu. Setiap kali berhadapan dengannya, Burhan selalu berusaha sekuat tenaga untuk terkesan profesional. Meski demikian, suaranya yang terdengar seperti kucing yang dicekik, butir-butir keringat yang menghiasi dahinya, serta diksinya yang tiba-tiba saja menjadi kacau tidak bisa menyembunyikan apa yang sebenarnya sedang dia rasakan.

“Ayolah, ajak gadis itu makan malam,” goda rekan kerja Burhan suatu hari.

Burhan hanya tersenyum mendengarnya. Ah, mana mungkin dia mau, pikirnya.

Kali ini layar TV menampilkan berita tentang seekor singa yang kabur dari kebun binatang.

Burhan menyeruput tehnya perlahan. Dia sudah hapal betul dengan jadwal kedatangan Rini ke kantor tempatnya bekerja. Dan besok dia akan kembali bertemu dengan gadis itu. Samar-samar Burhan mendengar suara auman singa dari koridor kos.

***

Tepat pukul sebelas, pintu kaca kantor jasa travel dibuka dari luar dan seorang gadis melangkah masuk diiringi suara hak sepatu yang beradu dengan lantai kantor.

“Halo,” sapa gadis itu sambil duduk di hadapan Burhan.

“Selamat siang,” jawab Burhan sambil tersenyum. “Ke Bangkok?” tanyanya kemudian.

Gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Burhan mengalihkan pandangannya ke layar monitor komputer sementara sang gadis tampak sedang mencari sesuatu di dalam tasnya.

“Selesai,” kata Burhan setelah beberapa saat. Suara mesin pencetak tiket terdengar mengiringi laju butir keringat yang meluncur turun di dahi Burhan.

Burhan lalu menyobek tiket dari mesin pencetak tiket, memasukkannya ke amplop, lalu menyerahkan amplop tersebut kepada sang gadis. Sang gadis menerima amplop itu sambil tersenyum, memasukkan amplop itu ke dalam tas, mengambil selembar amplop lain dari tas, lalu menyerahkan amplop itu kepada Burhan.

“Makasih, ya,” kata gadis itu seraya berdiri dari kursi.

Burhan ikut berdiri dari kursinya. “Terima kasih. Semoga anda puas dengan layan—“

“Kamu selesai kerja jam berapa?”

“Maaf?”

“Kamu nanti pulang jam berapa?” tanya gadis itu lagi sambil tertawa.

“Eh, setengah lima. Tapi mengap—“

“Temenin aku ngopi, yuk! Nanti setengah lima aku ke sini.”

Burhan tiba-tiba saja ingat kalau SD yang terbakar dalam berita semalam adalah SD tempat dia dulu pernah belajar. Burhan membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu. Entah mengapa telapak tangannya tiba-tiba saja terasa dingin. Kerongkongannya terasa sangat kering. Kepalanya tiba-tiba saja terasa berat, seperti sedang ditindih oleh empat ekor gajah berwarna ungu muda. Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya Burhan berhasil mengeluarkan kata-kata yang ingin diucapkannya dengan suara yang nyaris samar.

“Jembut sotong.”

TAMAT

Tagged ,

7 thoughts on “Pemuda yang Tidak Pernah Mengumpat

  1. manicsquidmonday says:

    epic story

  2. azamuddint says:

    Aku ingin sekali lagi mengum–…,

  3. Raysa Prima says:

    Awalnya kukira ia tidak pernah mengumpat karena trauma ibunya mati tepat setelah mengumpat…Cerpen jenius, Maz~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: