Panjang Umur

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Pria pertama bernama Jono, seorang buruh bangunan berusia sekitar 30 tahun. Pria kedua bernama Husni. Usianya baru menginjak 25 tahun dua minggu yang lalu. Husni bekerja sebagai montir di bengkel motor yang dimiliki oleh tetangganya, Pak Sumin. Pria ketiga adalah pria dengan postur tubuh paling kecil di antara ketiganya. Namanya Ansori. Teman-teman dan orang-orang yang dekat dengannya biasa memanggilnya Aan. Aan bekerja sebagai buruh di satu-satunya pabrik gula di desa tempat ketiga orang itu tinggal dan dia berusia 21 tahun, membuatnya menjadi pria termuda di antara ketiganya.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Api unggun itu mereka buat di atas tanah yang berjarak sekitar delapan belas kaki dari bibir sungai. Saat itu waktu telah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Tidak jauh dari mereka, tiga batang gagang pancing tampak tergeletak diam di sebelah sebuah tas usang berukuran sedang dan dua buah kaleng susu kecil berisi umpan dan dua keranjang rotan tempat menaruh ikan dan sebilah parang berukuran sedang. Tas usang itu berisi senar pancing, stok mata kail, cutter, senter, losion anti nyamuk, dua bungkus roti berbentuk bulat, dan obat anti masuk angin berbentuk cair.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Rencananya, mereka akan mulai melemparkan kail ke arah sungai ketika jam menunjukkan pukul sebelas malam. Kegiatan memancing di malam hari seperti ini sudah menjadi semacam rutinitas bagi ketiga pria tersebut. Mereka biasanya melakukan kegiatan ini seminggu sekali, tepatnya pada malam sabtu setiap minggunya. Biasanya mereka berangkat berempat. Pria keempat bernama Supriyadi, biasa dipanggil Yadi. Yadi berusia 23 tahun dan bekerja sebagai buruh di peternakan ayam milik Haji Soleh.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar dan menunggu kedatangan pria keempat.

“Kok tadi si Yadi berangkatnya nggak bareng kamu, An?” tanya Husni seraya memijat-mijat batang rokok kretek dengan kedua jari telunjuk dan jempolnya lalu menyelipkan batang rokok kretek itu di celah bibirnya.

Aan hanya diam, tidak menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Dia teringat kejadian dua hari yang lalu saat dia dan Yadi terlibat baku hantam.

Jono menyenggol lengan Husni dengan gerakan yang sungguh samar lalu saat keduanya bertatap mata, Jono mengirimkan sinyal melalui gerakan matanya yang seolah-olah berbunyi ‘jangan dibahas’. Menyadari kesalahannya, Husni hanya bisa terdiam dengan perasaan canggung lalu menghisap rokok kreteknya dalam-dalam.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Husni menghisap rokok kreteknya dalam diam, Jono menambahkan potongan kayu berukuran kecil ke atas bara untuk memperpanjang nyawa api unggun, dan Aan duduk memeluk lutut sembari mengingat kejadian dua hari yang lalu saat dia secara tidak sengaja memergoki istrinya sedang bercumbu dengan Yadi di ruang tamu rumahnya.

Waktu itu Aan pulang lebih cepat dari pabrik tempatnya bekerja. Betapa terkejutnya ia saat sampai di rumah dan menemukan istrinya sedang bersama pria lain. Lebih terkejut lagi saat ia menyadari bahwa pria lain itu adalah Yadi, teman dekatnya sendiri yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Ratih, istri Aan, langsung berlari keluar rumah, berteriak bagaikan orang gila. Semua berlangsung begitu cepat. Tiba-tiba saja Aan dan Yadi sudah bergumul di perkarangan rumah. Orang-orang mulai berdatangan, termasuk Jono dan Husni. Dengan sigap keduanya melerai Aan dan Yadi dibantu beberapa orang warga. Bibir Yadi pecah dan mengeluarkan darah. Tonjolan tulang di bawah mata kiri Aan terlihat semakin menonjol dengan sapuan warna biru samar. Atas saran Jono, Husni membawa Yadi pulang ke rumahnya, sementara Jono sendiri merangkul Aan kembali masuk ke dalam rumah. Ratih masih menangis saat diajak Wulan, istri Jono, untuk mengungsi sementara waktu ke rumah mereka.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar dan mereka masih menunggu kedatangan pria keempat.

“Si Yadi kok belum datang, ya?” tanya Aan tiba-tiba.

Jono mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya memperhatikan tarian lidah api, tampak sedikit terkejut, menatap lurus ke arah Aan, lalu saling berpandangan dengan Husni. Husni hanya diam. Jono lalu memalingkan wajahnya dari wajah Husni, menatap melampaui pundaknya, lalu tersenyum.

“Akhirnya datang juga,” ujarnya pelan.

Aan tiba-tiba berdiri dengan canggung.

“Maaf, aku terlambat, tadi masih ada kerjaan sedikit di rumah,” kata Yadi dengan suara yang sedikit bergetar. Dia hanya melayangkan pandangannya ke arah Jono dan Husni, tak berani menatap mata Aan.

Aan berjalan ke arah tumpukan perlengkapan memancing, tak mempedulikan kehadiran Yadi.

“Wah, panjang umur kamu!” seru Husni. “Kita baru aja ngomongin ka—“

Husni tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Matanya tiba-tiba melotot. Mulutnya menganga lebar. Husni menunjuk ke arah Yadi dengan ekspresi histeris. Sedetik kemudian dia terduduk lemas.

Jono ikut melotot. Dia langsung berdiri dengan tergesa. Mulutnya membuka seperti ingin mengatakan sesuatu namun yang keluar dari kerongkongannya hanya udara hangat yang kemudian bercampur dengan udara malam yang dingin.

Lalu terdengar suara ‘bruuk’, seperti suara buah durian yang jatuh dari pohonnya.

Aan mencabut parang yang sedari tadi bersarang di tempurung kepala Yadi yang kini telah terbaring tak bernyawa di dekat kakinya. Aan lalu kembali duduk di posisinya semula, meletakkan parang yang berlumur darah tepat di sampingnya.

“Ternyata umurnya nggak panjang-panjang amat…” ujar Aan lirih seraya menatap lidah api yang menari perlahan.

Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Kini dengan tambahan berupa seonggok mayat.

TAMAT

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: