Warung Pak Wardiman

graphic1

“Skak!”

Pak Wardiman tersenyum lalu menggeser benteng dua kotak ke samping kanan, tepat satu kotak di depan raja.

“Bisa… Bisa…” gumam Pak Mulyono sambil menyelipkan sebatang rokok kretek ke sela bibirnya.

Sebuah mobil berhenti di depan warung. Seorang laki-laki muda turun dari mobil lalu berjalan menghampiri.

“Cari apa, Mas?” Tanya Pak Mulyono.

“Ada rokok, Pak?” Si laki-laki muda balik bertanya.

“Oh, ada. Mau rokok apa?” Pak Mulyono bertanya lagi. Kali ini sambil beranjak dari duduknya lalu berjalan ke dalam warung.

Laki-laki muda itu menyebutkan salah satu merk rokok, lalu Pak Mulyono mengambil rokok yang dimaksud, lalu menyerahkan bungkus rokok itu pada si laki-laki muda, lalu si laki-laki muda menyerahkan selembar uang limapuluhribuan pada Pak Mulyono, lalu Pak Mulyono mengambil uang itu dari tangan si laki-laki muda, lalu Pak Mulyono menyerahkan beberapa lembar uang pada si laki-laki muda sebagai kembalian.

“Ini kalau mau ke Hotel Permata terus aja kan, Pak?” Laki-laki muda itu kembali bertanya pada Pak Mulyono yang kali ini sudah kembali duduk berhadap-hadapan dengan Pak Wardiman.

“Betul, Mas. Terus aja nanti ketemu tempat laundry. Hotel Permata di sebelahnya tempat laundry itu.”

“Oh, ya udah, Pak. Makasih,” laki-laki muda itu tersenyum sambil mengangguk ke arah Pak Mulyono dan Pak Wardiman yang dibalas oleh keduanya juga dengan anggukan dan senyuman. Laki-laki muda itu kemudian naik kembali ke mobilnya, meninggalkan Pak Mulyono dan Pak Wardiman yang kembali melanjutkan permainan catur.

“Kejadian kayak tadi sering, ya?” Tanya Pak Wardiman sembari menggerakkan kuda ke arah samping kiri.

“Orang nanya arah gitu? Ya, lumayan. Nggak sering-sering amat sih. Tapi ada lah satu dua.”

Pak Wardiman terdiam sesaat, seperti sedang berpikir. Dia menggerakkan peluncur mundur beberapa kotak lalu kembali terdiam.

“Kenapa, toh?” Tanya Pak Mulyono.

Nggak apa-apa,” jawab Pak Wardiman nyaris lirih.

“Skak Mat!”

Pak Mulyono menghembuskan asap rokok lalu tertawa. Pak Wardiman masih saja terdiam.

***

“Kita buka warung udah berapa lama sih, Bu?” Tanya Pak Wardiman sembari menyuapkan sesendok nasi bercampur potongan tempe goreng dan sayur bayam ke dalam mulutnya.

“Kenapa emangnya, Pak? Tumben nanya gitu?”

Nggak, sih. Sekitar 28 tahun gitu, ya?”

“Iya, mungkin. Kenapa toh emangnya?”

Pak Wardiman memotong tempe goreng dengan sendoknya, mencapur potongan itu dengan nasi, lalu menyendok campuran itu dengan sendoknya. “Kemaren malem aku kan main catur kayak biasanya di warung Pak Mulyono,” kaya Pak Wardiman sambil memegang sendok berisi campuran nasi dan potongan tempe goreng tepat di depan wajahnya. “Terus tau-tau ada laki-laki beli rokok,” sambungnya. Pak Wardiman memasukkan sendok berisi campuran nasi dan tempe goreng ke dalam mulutnya, mengunyah pelan, lalu melanjutkan ceritanya. “Terus si laki-laki itu nanya arah ke Hotel Permata sama Pak Mulyono. Terus sama Pak Mulyono dijelasin gitu arah ke hotel yang dimaksud.”

“Terus? Nggak ada yang aneh, kan? Orang nanya arah ke pemilik warung itu hal yang biasa, toh?”

“Justru itu.”

“Justru itu gimana, Pak?”

“Kita punya warung juga udah lama, kan? Gara-gara kejadian kemaren malem itu, aku terus kepikiran, Bu. Setelah tak ingat-ingat, selama 28 tahun jaga warung, aku kok belum pernah ya ditanyain arah oleh pengunjung warung seperti Pak Mulyono itu.”

Istri Pak Wardiman hanya diam mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya. Bibirnya bergerak pelan seperti ingin tersenyum. Namun, dia terlihat sedang berusaha keras menahan agar senyum itu tidak tercipta di wajahnya.

“Aneh, toh, Bu? Masa selama 28 tahun jaga warung aku belum pernah ditanyain arah atau ditanyain alamat sama –“

Tawa istri Pak Wardiman akhirnya meledak. Pak Wardiman tampak heran melihat reaksi istrinya.

Oalah, Pak. Masa hal remeh gitu aja dipikirin? Ada-ada aja kamu ini, Pak,” kata istrinya sambil membereskan meja lalu berjalan ke arah dapur.

Pak Wardiman masih duduk di kursinya, berdiam diri sambil melipat-lipat serbet makan dengan kedua tangannya.

***

Siang itu Pak Wardiman duduk di kursi di depan warungnya sambil membaca koran. Berita tentang sidang kopi beracun yang dibacanya sebenarnya sudah tidak lagi menarik baginya. Namun, dia tetap membaca berita itu sekadar untuk mengisi waktu.

Sebuah mobil berhenti di depan warungnya. Pak Wardiman mengangkat wajahnya dan melihat ke arah mobil. Seorang perempuan turun dari mobil lalu berjalan ke arahnya.

“Permisi, Pak,” sapa perempuan itu.

Pak Wardiman melipat korannya, bangkit dari duduknya, lalu meletakkan lipatan koran di kursi. “Ya, Mbak?”

Perempuan itu mengeluarkan secarik kertas dari tas tangannya lalu menyodorkan kertas itu ke arah Pak Wardiman. “Bapak tau alamat ini?” tanyanya kemudian.

Pak Wardiman tampak terkejut. Pandangannya berpindah dari tulisan di atas kertas yang disodorkan kepadanya ke wajah sang perempuan. Dia sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Gimana, Pak?”

Pak Wardiman mengambil secarik kertas yang disodorkan kepadanya. “Eh… eh…” gumamnya sambil melangkah pelan ke arah tepi jalan. Perempuan itu mengikuti Pak Wardiman dari belakang.

Pak Wardiman tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap si perempuan. Perempuan itu tampak sedikit terkejut.

“Iya, Mbak! Saya tau alamat ini!” kata Pak Wardiman dengan semangat. “Jadi dari sini Mbak nanti jalan aja ke – “

“Bunda!” tiba-tiba seorang anak laki-laki beteriak dari dalam mobil. Kepalanya mencungul lewat kaca pintu mobil yang terbuka.

Perempuan itu menaikkan pandangannya melewati bahu Pak Wardiman. “Sebentar, Aldo! Bunda lagi nanya –“

“Aldo udah tau tempetnya!” jawab si anak laki-laki sambil menunjukkan layar komputer tablet yang digenggamnya.

Perempuan itu bergegas mendatangi anak laki-lakinya, melihat layar komputer tablet yang ditunjukkan anaknya, lalu kembali mendatangi Pak Wardiman.

“Jadi dari sini Mbak nanti –“

“Eh, nggak usah, Pak. Saya udah tau alamatnya.” Kata perempuan itu seraya mengambil secarik kertas yang masih dipegang oleh Pak Wardiman dengan erat. Perempuan itu sedikit menarik kertas yang dipegang Pak Wardiman. Namun, Pak Wardiman tak kunjung melepaskan kertas yang dipegangnya. Perempuan itu menatap Pak Wardiman dengan heran. “Pak,” kata perempuan itu dengan nada sedikit tinggi. Pak Wardiman tersadar lalu melepaskan kertas yang dipegangnya. Perempuan itu buru-buru memasukkan kertas ke dalam tas tangannya, masuk ke dalam mobilnya, lalu memacu mobil meninggalkan Pak Wardiman yang masih berdiri mematung di tepi jalan.

Pak Wardiman masih memandangi mobil si perempuan yang kian menjauh, meninggalkan sapuan debu tipis yang melayang-layang pelan di bawah terik matahari.

“Pak! jajan!”

Pak Wardiman tersadar lalu menoleh ke arah warung. Seorang anak perempuan berdiri di depan warung, menggenggam uang kertas lusuh di tangan kirinya. Pak Wardiman tersenyum lalu menghampiri anak perempuan itu.

“Mau beli apa?”

 

TAMAT

Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Perkedel Terbang

lihat perkedel saya nggak?

AGRARIA

Mesin kami terus berputar, namun tidak berdampak apa-apa.

perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

lux.

hello, this is svetlana speaking.

TIAN DAILY

when ears and eyes collabs

Kopi Manis Tanpa Gula

sepahit apapun itu, selalu ada manis di sana.

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Warung Masjaki

Buka 24 Jam Kecuali Pas Tutup

WASTED ROCKERS

Preserving Underground Music To Get It Sold Out

Champion Of Delay

the pains of being black at heart

Jumping Journey

my agenda my idea

%d bloggers like this: