Aku Ingin Jadi Penulis

“Aku ingin jadi penulis,” ujarku pagi itu dengan penuh semangat. Aku baru saja selesai mandi dan rambutku masih agak basah.

Burhan hanya tersenyum mendengar apa yang baru saja kukatakan. Dia menyeruput kopi dari cangkirnya lalu berkata, “Kamu tuh nggak mau jadi penulis. Kamu tuh cuma mau jadi Fiersa Besari. Kamu cuma mau bikin rangkaian kata-kata mutiara yang indah dan terkesan memiliki makna yang mendalam padahal nggak. Kamu cuma mau bikin puisi-puisi romantik tentang cinta dan omong kosong lainnya tentang perasaan yang mendalam dengan harapan kamu akan disukai oleh banyak wanita dan menjadi terkenal. Kamu tuh nggak mau jadi penulis.”

“Anjing!” umpatku kesal.

Burhan terkekeh. Dia berdiri dari kursi, kembali menyeruput kopinya, meletakkan cangkir di atas meja, lalu berjalan ke arah jendela. Dia menoleh ke arahku lalu tersenyum sinis. “Percayalah, kamu nggak mau jadi penulis,” katanya lirih sebelum akhirnya dia melompat keluar jendela dari kamar apartemen yang terletak di lantai 12.

Aku mengeringkan rambutku dengan handuk, melempar handuk ke pojok kamar, lalu duduk di depan laptop. Kubuka halaman kosong di layar laptop dan mulai mengetik sebuah judul.

Aku Ingin Menjadi Fiersa Besari

Di bawahnya aku ketikkan:

“Aku ingin jadi penulis,” ujarku pagi itu dengan penuh semangat. Aku baru saja selesai mandi dan rambutku masih agak basah.

Lalu di bawahnya aku ketikkan:

Burhan hanya tersenyum mendengar apa yang baru saja kukatakan. Dia menyeruput kopi dari cangkirnya lalu berkata, “Kamu tuh nggak mau jadi penulis. Kamu tuh cuma mau jadi Fiersa Besari. Kamu cuma mau bikin rangkaian kata-kata mutiara yang indah dan terkesan memiliki makna yang mendalam padahal nggak. Kamu cuma mau bikin puisi-puisi romantik tentang cinta dan omong kosong lainnya tentang perasaan yang mendalam dengan harapan kamu akan disukai oleh banyak wanita dan menjadi terkenal. Kamu tuh nggak mau jadi penulis.”

Lalu di bawahnya aku ketikkan:

“Anjing!” umpatku kesal.

Lalu di bawahnya aku ketikkan:

Burhan terkekeh. Dia berdiri dari kursi, kembali menyeruput kopinya, meletakkan cangkir di atas meja, lalu berjalan ke arah jendela. Dia menoleh ke arahku lalu tersenyum sinis. “Percayalah, kamu nggak mau jadi penulis,” katanya lirih sebelum akhirnya dia melompat keluar jendela dari kamar apartemen yang terletak di lantai 12.

Lalu di bawahnya aku ketikkan:

TAMAT

Aku menutup layar laptop lalu berjalan ke arah jendela. Kunyalakan sebatang rokok, kuhisap dengan penuh penghayatan, lalu aku melompat keluar jendela dari kamar apartemen yang terletak di lantai 12.

 

TAMAT

Advertisements
Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: