PERSPEKTIF

“Makan siang, yuk!”
Aku menengadahkan kepalaku. Siska sedang menyandarkan kepalanya di atas kedua tangannya yang tersilang di pucuk pembatas kubikel.
“Uhmmm…”
“Ayooo!”
“Kamu duluan aja,” kataku sambil merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjaku.
Siska berdecak. “Ya udah,” katanya sambil berlalu.
Aku menyusun berkas di bagian kiri meja, mematikan komputer, lalu meregangkan tubuh dengan cara menarik tanganku ke atas. Aku berdiri, mengambil ponselku, lalu melangkah keluar kubikel. Baru beberapa langkah, kudengar ada yang memanggil namaku.
“Burhan!”
Aku menoleh. Rustam berjalan tergopoh-gopoh ke arahku. “Makan siang di mana?” tanyanya kemudian.
“Bu Tutik,” jawabku datar.
“Ah…” Rustam terdiam sebentar, menatapku sambil tersenyum. “Ya udah. Aku makan di kantin aja.”
Aku mengangguk lalu berjalan meninggalkan Rustam.

***

Aku mengambil piring dan menuangkan nasi ke atasnya. Kantin Bu Tutik, seperti layaknya jam makan siang, ramai oleh karyawan dari berbagai kantor yang terletak di sekitarnya. Beberapa wajah tampak tidak asing bagiku. Mereka adalah orang-orang yang bekerja di tempat yang sama denganku meskipun aku tak mengenal mereka secara personal.
Aku mengambil sepotong telur dadar dan meletakkannya di atas nasi. Satu sendok besar kuah pedas kusiramkan ke atas telur dadar itu. Aku lalu mengambil dua butir perkedel dan dua sendok besar tumis jipang. Kutambahkan dua sendok kecil sambal goreng ke atas nasi, mengambil segelas es teh, lalu berjalan ke arah kasir.
Kuletakkan piring dan gelas es teh di atas baki. Kuambil sepotong melon lalu kuletakkan di sebelah gelas es teh. Karyawan Bu Tutik menggerak-gerakkan jarinya di atas tombol mesin kasir, menyobek kertas nota, lalu meletakkannya di atas baki.
“Semuanya jadinya dua puluh dua ribu, Mas.”
Kukeluarkan dua lembar uang dari dompetku dan kuserahkan kepada si karyawan. Karyawan itu menerima uang yang kuberikan, membuka laci mesin kasir, memasukkan uang ke dalam laci, mengambil dua lembar uang kertas dan dua buah uang logam, lalu meletakkannya di atas baki.
“Kembaliannya, Mas. Makasih.”
Aku mengangguk lalu membawa bakiku ke arah meja. Semua meja penuh. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri sambil terus berjalan. Akhirnya aku meletakkan bakiku di meja kosong yang terletak di sudut ruangan. Aku duduk dan mulai makan sambil menggerak-gerakkan jariku di atas layar ponsel.
Beberapa saat kemudian, entah mengapa, aku memiliki dorongan yang sangat besar untuk menoleh ke arah kiri. Dan di sanalah dia. Perempuan itu. Duduk sendian menikmati makan siangnya sambil membaca majalah. Perempuan yang sudah mengikuti aku ke mana pun aku pergi selama beberapa minggu ini. Perempuan yang selalu kutemui hampir di mana pun aku berada. Di supermarket, di dalam bis, di taman, di toko buku, di toko barang bekas, di mana pun. Perempuan itu.
Dia mengenakan blus berwarna putih yang dibalut blazer berwarna biru dongker. Roknya berwarna sama dengan blazer yang dia kenakan dengan panjang sekitar satu jengkal di bawah lutut. Sepatunya bagus, dengan hak yang tidak terlalu tinggi, berwarna hitam. Rambutnya sebahu dan diikat dengan sangat rapi menggunakan ikat rambut yang juga berwarna hitam. Kulitnya putih. Riasan wajahnya tidak terlihat berlebihan. Dia cantik. Tidak terlalu menonjol, memang. Penampilannya, maksudku. Tapi cantik. Ya, dia cantik. Dan sepertinya aku mulai terpikat padanya. Agak terpikat.
Aku tahu perempuan itu sengaja makan di warung ini karena mengetahui bahwa aku sering makan di sini. Aku juga tahu alasan satu-satunya perempuan itu makan di warung ini adalah untuk mengikutiku, mengamatiku ketika aku tidak sadar sedang diamati, merekam setiap gerak-gerikku dalam kepalanya. Aku tahu karena perempuan itu sudah mengikuti aku ke mana pun aku pergi selama beberapa minggu ini. Aku tahu karena perempuan itu selalu kutemui hampir di mana pun aku berada. Di supermarket, di dalam bis, di taman, di toko buku, di toko barang bekas, di mana pun. Perempuan itu.
Tapi aku pura-pura tidak tahu karena aku menikmati semua ini, semua perhatian ini. Aku pura-pura tidak tahu jika perempuan itu sedang mengamatiku dari kejauhan. Aku pura-pura tidak tahu dan melanjutkan makan siangku sambil menggerak-gerakkan jariku di atas layar ponsel.

***

Rustam menghempaskan tubuh gempalnya ke atas bangku. Keringat mengucur deras dari setiap jengkal pori-pori kulitnya. Napasnya memburu, seperti bison yang baru saja meloloskan diri dari kejaran singa. Dia mengambil botol minum lalu mulai menenggak air seperti kesetanan. Dia menyodorkan botol minum itu ke arahku yang kubalas dengan gelengan pelan.
“Rus…”
“Hem…”
“Kamu inget nggak cewek yang ada di sini sekitar tiga minggu yang lalu? Waktu kita tanding lawan kantornya Beni itu…”
“Cewek?”
Rustam tampak berpikir. Matanya bergerak mengikuti Anton yang sedang menggiring bola menuju gawang. Tiba-tiba saja dia berteriak.
“TEMBAK, TON!”
Bola gagal masuk gawang. Rustam terlihat sedikit kesal.
“Cewek?” ulangnya.
“Iya. Yang di sini waktu kita tanding lawan—“
“Oh, yang pake jaket merah itu?”
“Nah, iya, yang itu,” aku berusaha menjaga nada bicaraku agar tidak terlihat terlalu gembira. Tapi rupanya terlambat. Rustam keburu melihat mataku yang berapi-api.
Rustam tersenyum menggoda sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya ke arahku.
“Ada apa nih tiba-tiba nanyain cewek itu. Hayooo…”
“Nggak, sih. Penasaran aja,” jawabku datar, berusaha untuk terlihat biasa.
“Namanya Winda. Dia satu kantor sama si Beni. Anaknya biasa aja, sih. Maksudnya nggak ada yang istimewa-istimewa amat gitu. Masih single. Lo kalo mau nomornya, minta ke Beni aja.”
“Nggak, sih. Aku cuma—“
“HALAAAAH! GOBLOK!” teriak Rustam sambil melangkah masuk ke lapangan. Dedi berjalan melewati Rustam yang masih mengoceh lalu duduk di sebelahku.
“Kenapa lo senyam-senyum?” tanya Dedi.
“Nggak. Nggak apa-apa…”

***

Ya. Perempuan itu bernama Winda. Dia satu kantor sama Beni. Masih single. Hanya itu yang aku tahu. Dan tidak, aku tidak meminta nomornya ke Beni. Tapi setidaknya sekarang aku tahu nama perempuan yang selalu mengikutiku beberapa minggu belakangan. Mungkin dia memang menyukaiku. Tidak apa-apa. Aku juga mulai menyukainya. Mungkin suatu saat aku akan mengajaknya makan malam. Atau sekadar jalan-jalan menikmati sore di taman.
Bis berhenti. Seorang ibu dan dua orang laki-laki turun dari bis, berganti dengan naiknya seorang perempuan. Aku menoleh sedikit dan melihat wajah yang tak asing bagiku. Tentu saja aku mengenali wajah itu. Perempuan itu. Winda.
Dia pura-pura tidak melihat ke arahku meskipun aku tahu bahwa alasan satu-satunya dia naik bis ini adalah karena dia tahu kalau aku berada di bis ini. Aku tersenyum. Tidak apa-apa. Aku juga bisa berpura-pura tidak menyadari kehadirannya. Biarkan saja dia mengamatiku seolah-olah aku tidak sadar sedang diamati.

***

Empat hari yang lalu aku kembali memergoki Winda sedang mengikutiku. Waktu itu aku sedang berada di bar. Winda datang dan duduk tak jauh dariku. Seperti biasa, dia berpura-pura tidak melihat ke arahku. Permainan ini semakin menyenangkan. Aku nyaris tertawa saking gemasnya.
Dua hari yang lalu aku kembali “tak sengaja” bertemu dengannya. Waktu itu aku sedang berada di toko buku. Aku akhirnya menyadari kalau Winda sedang berada di toko buku yang sama, terpisah dua rak buku dariku. Semangat perempuan ini cukup membuatku kagum. Mengapa dia tak datang langsung saja kepadaku, mengajakku ngobrol, dan mungkin kami bisa pergi membeli es krim atau duduk di kursi taman sambil memberi makan merpati? Apa yang dia tunggu? Apakah aku harus bergerak duluan?
Aku mulai merasa bahwa kami berjodoh. Aku dan Winda.

***

Sudah hampir satu jam aku berdiri di depan apartemen ini. Entah apa yang kulakukan di sini. Mungkin aku sudah kehilangan akal sehatku. Tapi ini harus kulakukan. Tindakan orang itu sudah sangat mengganggu.
Aku melihatnya datang dari kejauhan. Dia tersenyum dan matanya berbinar. Menjijikkan sekali, pikirku. Dia mendekatiku seolah-olah tidak ada yang salah.
“Winda? Ngapain kamu di—“
PLAK!
Telapak tanganku mendarat di pipinya. Sesaat aku merasa telapak tanganku begitu panas. Laki-laki itu memegang pipinya sementara aku berusaha menahan air mataku yang dari tadi hampir mengucur. Aku geram. Aku marah.
“Heh, orang aneh!” bentakku sambil mengacungkan telunjukku. “Berhenti mengikutiku! Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku tidak sadar? Kalau sampai—“
Aku menyeka air mataku.
“Kalau sampai aku memergokimu masih mengikutiku, aku akan lapor polisi! Kamu dengar?! Dasar orang sakit!”
Aku berjalan tergopoh-gopoh meninggalkan laki-laki itu. Kalau sampai dia mengejarku dan menangkap tanganku, aku akan berteriak dan menonjok matanya. Lihat saja. Lihat saja.
Tapi itu tidak terjadi dan aku sampai di apartemenku dengan selamat. Aku menangis selama, entahlah, mungkin satu jam. Tapi aku sedikit lega. Setidaknya laki-laki itu tahu kalau aku tidak menyukai apa yang dilakukannya selama beberapa minggu belakangan ini.

***

Aku berjalan menyusuri koridor yang mengarah ke apartemenku. Hari ini cukup melelahkan. Nanti aku akan mandi lalu memasak spaghetti.
Ketika melewati tangga, aku baru sadar bahwa ada seorang perempuan yang sedang berdiri di depan apartemenku. Sepertinya tidak asing, pikirku. Aku berjalan mendekat dan bibirku tiba-tiba saja merekah. Tubuhku tiba-tiba saja terasa hangat. Kegembiraan yang munculnya entah dari mana seperti mengisi setiap sel dalam tubuhku.
“Winda? Ngapain kamu di—“
PLAK!
Telapak tangan perempuan itu mendarat di pipiku. Sesaat aku merasa pipiku begitu panas. Aku menatap wajah Winda yang mulai memerah. Air mata tampak berebut ingin keluar dari kelopak matanya. Apakah itu tangisan bahagia, pikirku. Lalu apakah tamparan barusan adalah ungkapan cinta?
“Heh, orang aneh!” bentak Winda sambil mengacungkan telunjuknya. “Berhenti mengikutiku! Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku tidak sadar? Kalau sampai—“
Winda menyeka air matanya.
“Kalau sampai aku memergokimu masih mengikutiku, aku akan lapor polisi! Kamu dengar?! Dasar orang sakit!”
Setelah berkata demikian, Winda berjalan tergopoh-gopoh meninggalkanku yang masih berdiri mematung sambil memegang pipiku. Aku tidak berusaha mengejarnya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Winda menamparku lalu menyatakan perasaannya. Agak aneh, memang. Setidaknya kini aku tahu bahwa Winda memang memiliki perasaan padaku. Perasaan cinta. Mendengar Winda mengatakan bahwa dia mencintaiku membuatku tidak lagi merasakan nyeri yang menjalar di pipi kiriku.
Benar dugaanku. Kami berjodoh. Aku dan Winda. Ini akan jadi awal yang indah bagi kami. Tak sadar aku pun tersenyum.
Aku bahagia.

 

– TAMAT –

 

Advertisements
Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: