Tag Archives: Mixtape

Owsom!

cover1

“Kamu tahu,” kata Burhan siang itu. Dia sedang duduk di bawah pohon kapas yang berada tak jauh dari ladang. Di sebelahnya duduk Rustam, sahabat dekatnya yang sudah dikenalnya sejak dari kecil. Mereka baru saja beristirahat setelah hampir 3 jam lamanya menggarap ladang, duduk santai di bawah pohon kapas, menikmati tembakau dan kopi. Siang itu memang panas. Lebih panas dari biasanya. Matahari sedang bersinar terik-teriknya. Untunglah sesekali angin sepoi berhembus pelan. “Sepanjang hidupku, ada dua hal yang bisa meruntuhkan pertahananku. Yang pertama adalah kedatangan dan yang kedua adalah kepergian.”

Burhan menyeruput kopinya pelan. “Dan saat ini pertahananku sedang terusik. Oleh sebuah kepergian,” sambungnya. Rustam hanya diam. Matanya memandang jauh, menembus pepohonan yang berada di sisi seberang ladang. Sesungguhnya dia tidak terlalu paham apa yang sedang dibicarakan oleh sahabatnya itu.
“Siapa yang pergi?” Tanya Rustam akhirnya.
Burhan menghisap tembakaunya pelan-pelan. “Seorang teman. Saya biasa memanggilnya Mas Hamid.”
“Aku tak pernah tahu jika kamu memiliki teman bernama Hamid.”
“Aku pun sebenarnya tak terlalu mengenal beliau. Kami berkenalan sekitar dua tahun yang lalu melalui media sosial. Aku bahkan belum sempat sekalipun bertemu dengannya hingga saat ini. Tapi entah mengapa, aku merasa sudah sangat dekat dengan orang ini. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Tapi sepertinya tidak. Dia ini orang baik dan aku yakin siapa pun yang mengenalnya pasti akan langsung merasa menjadi temannya.”
“Lalu? Dia pergi? Ke mana?”
“Ke tempat di mana kita semua akan pergi pada akhirnya nanti.”
Rustam terdiam.
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?”
“Sepertinya aku ingin membuat sesuatu. Semacam kenang-kenangan untuk beliau.”
“Membuat sesuatu? Kamu bisa apa?”
Burhan mengeluarkan laptop berukuran kecil dari tasnya. Rustam kaget.
“Lho, sejak kapan kamu punya laptop?”
Burhan tidak menjawab pertanyaan Rustam. “Kita bikin mixtape saja,” katanya kemudian. “Kumpulan lagu-lagu yang bisa didengarkan saya, kamu, dan semua orang yang mengenal serta dikenal oleh beliau.”
Burhan menyalakan laptop. Rustam memperhatikan setiap gerak-gerik sahabatnya.
“Kita cari 14 lagu. Lalu kita kumpulkan jadi satu.”
“Kenapa 14?” Tanya Rustam.
“Tidak ada alasan khusus.”
“Ada tema spesifik?”
“Tidak ada. Atau mungkin begini. Bila sahabatmu pergi, kira-kira lagu apa yang ingin kamu dengarkan atau lagu apa yang kira-kira ingin kamu kirimkan untuk sahabatmu.”
“Hmmm…”
“Yang pertama terlintas di benakmu saja.”
“The Police?”
“Ah, Every Breath You Take. Pilihan bagus. Lalu?”
“Nina Simone yang Feeling Good.”
“Kenapa?”
“Entahlah. Beberapa minggu belakangan aku sedang menyukai lagu ini. Potongan lirik ‘you know how I feel’ semacam menyiratkan tentang dua orang yang sudah benar-benar saling terhubung hingga tak perlu lagi berkata-kata.”
“Oke. Masuk,” kata Burhan seraya menghisap rokoknya. “Aku ingin memasukkan Seluruh Lampu Kunyalakan. Dengar-dengar Mas Hamid menyukai lagu ini. Oya, aku juga akan menambahkan Lisa Ono yang Rasa Sayange. Kabarnya, beliau suka bossa nova.”
“Tambahkan lagu-lagu bertema persahabatan.”
“Seperti?”
“Salamku Sahabat-nya Kla Project dan Sebuah Kisah Klasik-nya Sheila on 7.”
“Ide bagus!”
“Mas Hamid itu seperti apa orangnya?”
“Yang aku tahu, dia sepertinya jadi inspirasi bagi banyak orang. Senang mengobrol dan memberi wejangan tanpa terkesan menggurui.”
“Kalau begitu, masukkan Petuah Bijak-nya Dewa 19.”
“Wah. Iya. Anggap saja lagu ini dari Mas Hamid buat teman-temannya. ‘terangkan hari, tegakkan langkahmu’…”
“Apa lagi?”
“Sinikini yang Dan Senyumlah. Sama Hidup Itu Indah versi Sore.”
“Alasannya?”
“Dan Senyumlah semacam pesan dari Mas Hamid agar kita semua mengikhlaskan kepergiannya, melepas dengan senyuman. Karena Mas Hamid ini sepertinya suka tersenyum, bahkan ketika sedang ‘dikerjain’ sama Yang di Atas. Bahwa Hidup Ini Indah dengan segala konsekuensinya.”
“Oke. Lanjut.”
“Indra Lesmana yang Aku Ingin sepertinya harus masuk ke daftar. Juga Mocca yang Lucky Man.”
“Karena Mas Hamid ini pria yang beruntung?”
“Betul sekali. Beliau beruntung punya banyak teman yang menyayangi beliau. Aku Ingin, karena beliau selalu pengen ngobrol. Sama siapa saja. Dan banyak lagi keinginan-keinginan beliau yang sepertinya terkesan ‘remeh’. Tapi bukankah begitulah kehidupan? Tentang memiliki keinginan. Apa pun itu.”
“Masukkan Motley Crue yang Home Sweet Home. Dan Dialog Dini Hari yang Ku Kan Pulang.”
“Tema kepulangan. Bagus, Rustam. Bagus.”
“Sudah berapa?”
“13. Masih kurang satu lagu lagi.”
“The Smashing Pumpkins yang Farewell and Goodnight saja kalau begitu. Jadikan lagu penutup.”
“Ya…”
“Album mixtape ini dikasih judul?”
“Ya. Judulnya ‘Owsom’. Salah satu ungkapan yang sering digunakan oleh Mas Hamid.”
Rustam bangkit dari duduknya, menyalakan rokok, lalu mengambil cangkulnya. “Ayo kerja lagi,” ajaknya.
Burhan berdiri, tersenyum, lalu mengenakan kaos oblong yang sedari tadi bertengger di bahunya. Keduanya lalu berjalan ke arah ladang sembari mengobrol. Angin berhembus perlahan, menerbangkan beberapa gumpalan serat kapas. Burhan melihat gumpalan-gumpalan putih itu dengan mata berkaca-kaca. “Selamat jalan, Mas Hamid. Terima kasih untuk semua obrolan yang pernah tercipta selama ini,” gumamnya perlahan.

FIN

cover2Silakan download mixtape ini di sini

Tagged

Mixtape for a Friend – Some Kind of Mixtape Vol. 04

cover01

Hai. Halo. Langsung saja. Jadi kali ini saya kembali menyusun mixtape. Alasan saya membuat mixtape kali ini bisa dibilang cukup sentimental. Izinkan saya bercerita sedikit tentang seorang teman bernama Ario, atau yang lebih akrab disapa Oreo.

Sekitar tahun 2004-an, saya yang waktu itu kebetulan masih menetap di Jogja, memutuskan untuk melamar pekerjaan sebagai CS (Customer Service) di sebuah rental DVD/Game/Software bernama T-Box yang berlokasi di seputaran Jalan Taman Siswa. Waktu itu saya mengantar sendiri surat lamaran plus CV yang terbungkus rapi dalam amplop coklat ukuran A4 ke T-Box. Yang menerima kedatangan saya waktu itu adalah seorang pemuda tinggi, cungkring, mengenakan kaos dan skinny jeans berwarna hitam. Karena saya aslinya adalah seorang pemuda yang lumayan canggung di kehidupan nyata, kami tidak sempat berbincang-bincang lama waktu itu. Saya hanya menyerahkan amplop besar tersebut kepada si pemuda tinggi, berbasa basi sejenak, lalu pamit. Beberapa hari kemudian saya mendapatkan telepon yang mengabarkan bahwa saya akan dipanggil untuk wawancara di T-Box. Esok harinya saya berangkat dan bertemu lagi dengan si pemuda tinggi tersebut. Selesai wawancara saya langsung dinyatakan diterima dan bisa mulai masuk bekerja keesokan harinya.

Singkat kata, setelah beberapa hari bergabung dengan teman-teman di T-Box, saya mengetahui bahwa pemuda tinggi cungkring itu bernama Ario. Anak-anak di T-Box lebih sering menyapanya dengan sebuatan Oreo. Saya cukup sering mendapat tugas jaga rental dan kebetulan berpasangan dengan Oreo. Lebih singkat kata lagi, Oreo akhirnya menjadi salah satu teman terdekat saya selama saya menjalani kehidupan saya di Jogja, terutama di T-Box.

Jadi, ada beberapa hal menarik yang saya ingat tentang Oreo, selain fisiknya yang memang sangat mudah untuk dikenali meski dari jarak yang cukup jauh sekalipun. Hal pertama yang saya ingat tentang Oreo adalah dia orangnya baik. Mungkin terkadang terlalu baik. Sangat jarang saya melihat Oreo marah, bahkan ketika harus berhadapan dengan pengunjung rental yang agak sedikit ‘keterlaluan’. Tingkat kesabarannya tinggi, setinggi badannya. Oreo itu juga karakternya kadang agak komikal. Imajinasinya kadang terlalu ‘liar’, in a good way. Ketika melihat suatu kejadian, terkadang Oreo langsung menciptakan skenario sendiri, campuran antara lucu, garing, dan sedikit ‘apa sih?!’. Yah, begitulah…

Hal kedua yang saya ingat tentang Oreo adalah selera musiknya. Di antara teman-teman yang bekerja di T-Box, mungkin tingkat kecocokan selera musik saya yang paling tinggi ya sama si Oreo itu. Mungkin wajar, mengingat ‘profesi’nya sebagai (((anak band))). Yup, Oreo adalah gitaris dari band emo/post hardcore bernama No It All. Meski berkecimpung dalam aliran post hardcore, selera musik Oreo boleh dibilang cukup luas di mata saya yang orang awam ini. Jadi, ceritanya, waktu itu di T-Box anak-anak sering membakar CD kompilasi sendiri yang akan diputar ketika tugas jaga. CD kompilasi yang disusun Oreo cukup variatif isinya mulai dari Lisa Ekhdal sampai band-band pop punk, indie rock, post hardcore, dan groove metal yang memang (mungkin) sedang hangat-hangatnya dan menjadi trend saat itu. Ujung-ujungnya, saya ikut termotivasi untuk membuat CD kompilasi saya sendiri. Nyaris seperti ‘berlomba-lomba’ begitu dengan Oreo. Nah, ketika akhirnya komputer di T-Box bisa digunakan untuk memutar file musik, ‘tradisi’ membakar CD kompilasi itupun berakhir dan berganti dengan ‘tradisi’ baru, berburu file musik di warnet-warnet terdekat. Dari Oreo, saya banyak berkenalan dengan band-band yang mungkin tidak saya kenal sebelumnya, terutama untuk genre indie rock dan post hardcore. Oreo juga lumayan tertarik dengan lagu-lagu cover, terutama jika lagu cover tersebut jauh berbeda dengan versi aslinya. Oya, ada satu istilah menarik yang dilontarkan Oreo sewaktu kami menjalani tugas jaga rental berdua. Istilah tersebut adalah ‘lagu tipuan’. Istilah ini digunakan untuk mengambarkan lagu-lagu yang part awalnya berbeda drastis dengan part tengah atau akhir atau bisa juga digunakan untuk mendeskripsikan lagu-lagu yang menganut paham ‘mixed genre’. Kira-kira demikian.

Oreo juga lumayan jago mengambar, walau hanya berupa sket-sket komik di buku rekapan rental. Selera humornya cukup baik. Dia lucu. Terkadang dalam bentuk lucu yang cukup ‘aneh’. Dan dia royal. Terkadang sangat royal. Oya, Oreo juga cukup menggemari membuat komposisi musik dengan mengunakan software FL Studio. Kebanyakan komposisinya adalah lagu instrumental yang juga berpredikat sebagai lagu cover. Salah satu karyanya ikut saya masukkan ke dalam mixtape kali ini. ‘Nama panggung’ Oreo sebagai musisi FL Studio adalah Mouse and Keyboard. Oreo juga lumayan sering bermain PC game dan PS. Dia juga cukup tertarik dengan perkembangan gadget. Oh, fashion. Selera berbusananya cukup bagus. Dia juga cukup suka menonton film. Dan…

Oreo baru saja meninggal dunia tanggal 23 Maret yang lalu.

Jadi, ya, itulah alasan saya membuat mixtape kali ini. Untuk mengenang seorang teman yang telah lebih dahulu pergi. Saya tidak punya banyak teman selama saya tinggal di Jogja, mungkin karena karakter saya yang memang agak ‘sulit’. Namun jika saya ditanya siapa saja teman-teman dekat saya selama di Jogja, saya pasti akan menjawab bahwa salah satunya adalah Oreo. Ya. Mixtape ini buat kamu, Yo. Semua lagu-lagu yang pernah kita dengarkan bersama selama menjalani tugas jaga rental. Lagu-lagu yang sering kamu putar. Sengaja saya pilihkan 31 lagu karena pada usia 31 tahun itulah kamu memulai perjalanan barumu. Terimakasih telah menjadi teman dan lebih dari sekedar teman buat saya. Semoga kamu baik-baik saja di sana.

Anyway. Sebelum saya menjadi terlalu bersedu sedan, baiknya saya akhiri tulisan pengantar yang cukup panjang ini. Selamat mengunduh dan mendengarkan mixtape kali ini. Kalian bisa mengunduhnya di sini.

cover02

1538757_797709976923612_846024749_n

Tagged , ,

For the Sake of “Memanfaatkan Momen”: Love Is in the Tape – Some Kind of Mixtape Vol. 03

cover1

Dari dulu sebenarnya saya termasuk ke dalam golongan yang tidak terlalu peduli dengan perayaan Hari Valentine. Sama tidak pedulinya dengan kehidupan cinta saya yang biasa-biasa saja. Meski demikian, terkadang saya ingin melakukan sesuatu yang mungkin sedikit berbeda pada hari-hari tertentu. Ya, itu tadi. Demi memanfaatkan momen, istilahnya. Berhubung sekarang saya punya blog (OMG, saya punya blog!), maka saya memutuskan untuk membuat mixtape ala kadarnya demi menyambut datangnya tanggal 14 February. Tentu saja lagu-lagu yang saya pilih haruslah bertemakan ‘cinta’ dengan segala caruk maruk yang menginspirasi kelahiran kata tersebut. Sebenarnya mixtape ini sudah disusun sejak bulan Desember tahun lalu. Namun tentu saja, akan menjadi sedikit agak lucu jika saya merilis mixtape ini pada malam tahun baru, misalnya. Walaupun jika dipikir-pikir, toh keduanya sama-sama momen penuh (((cinta))). Tapi sudahlah. Sehingga, dari sekian banyak koleksi lagu cinta yang tersimpan di hardisk, akhirnya saya pilihkan 20 lagu cinta ter-‘klise’ versi saya. Baiklah, tanpa banyak berkata-kata lagi, inilah Love Is in the Tape, sebuah mixtape yang disusun semata-mata hanya karena ingin mencoba untuk memanfaatkan momen tanpa ada tendensi tertentu. Akhir kata saya ucapkan, selamat mengunduh dan menikmati. Semoga kita semua bla bla bla yadda yadda. Salam damai!

 

Tracklist:

01. Indie Art Wedding – Cinta Itu Sengit

02. Lipstick Lipsing – Suburban Love

03. The Smashing Pumpkins – Love

04. Pure Saturday – Spoken

05. The Adams – Hanya Kau

06. Ramones – I Love You

07. Hi-Standard – Can’t Help Falling In Love

08. Nirvana – Love Buzz

09. thedyingsirens – Lovely Eyes

10. Dara Puspita – To Love Somebody

11. Sia – My Love

12. Coheed And Cambria – Wake Up

13. Aqualung – Strange And Beautiful

14. Lisa Ekdahl – Rivers Of Love

15. Utada Hikaru – First Love

16. Sinead O’Connor – Nothing Compares 2U

17. Mian Tiara – Selalu Ada

18. Hollywood Nobody – Love Song

19. Fuji Fumiya – True Love

20. Andy Williams – Love Story (Where Do I Begin)

 

See you at the next sign…

Tagged , ,

The End Is Near – Some Kind of Mixtape Vol. 02

Seperti biasanya, menjelang bulan suci Ramadan, pikiran saya selalu dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti, ‘Untuk apa manusia hidup?’, ‘Akan kemanakah kita setelah mati?’, ‘Apakah kau di sana, Tuhan? Ini saya, Dony.’, bahkan hingga ‘Nanti berbuka pake apa, ya?’. Ya, seperti itulah kira-kira. Daripada kepala saya semakin banyak dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang seakan tak memiliki akhir, maka pada hari pertama puasa di Ramadan tahun ini saya memutuskan untuk menyusun sebuah mixtape bertema ‘religi’. Sebenarnya, mungkin agak kurang tepat jika mixtape ini saya klaim sebagai mixtape dengan tema ‘religi’. Secara garis besar, keduapuluh lagu yang ada di mixtape ini memang berbicara mengenai ‘tuhan’ atau seputar ‘keyakinan’. Namun beberapa lagu juga berbicara mengenai ‘pencarian jawaban’ atau ‘spritualisme’ (yang entah apa itu artinya. Saya sekedar menuliskan saja), atau hal-hal yang berbau (iya. Benar sekali. Bau) ‘eksistensi manusia’. Oke, saya rasa tidak perlu lagi basa-basi busuk yang nonsense ini. Jadi demikianlah. Ada dua puluh lagu yang saya rangkum dalam mixtape yang kali ini saya beri judul The End Is Near. Mungkin mixtape ini bisa menemani ibadah puasa saya dan kalian semua. Mungkin juga tidak. Who knows? Isinya? Ada Deerhoof yang mencoba menggambarkan ‘apa yang akan dikatakan tuhan ketika beliau sedang berbicara’. Ada The Chemical Brothers yang menganjurkan anda untuk ‘percaya pada sesuatu’. Ada Rock Kills Kid dan Lifehouse yang sama-sama bercerita tentang ‘langit yang runtuh’. Ada Idiot Pilot yang melihat ‘seberkas cahaya di ujung terowongan’. Ada Milisi Kecoa yang berteriak bahwa ‘Indonesia bukanlah Arab’. Ada Protest The Hero yang menyatakan bahwa ‘dewi mereka melahirkan tuhan kita’. Ada Queens Of The Stone Age yang menyiratkan bahwa ‘tidak ada seorangpun yang tahu’. Ada Panic! At The Disco yang mengajak ‘membangun tuhan sebelum berbicara’. Ada Oasis yang ingin ‘hidup selamanya’. Ada George Michael yang mengajak kita untuk ‘berdoa’. Ada Efek Rumah Kaca yang menggambarkan ‘situasi yang terjadi pada hari akhir’. Ada The Whitest Boy Alive yang mengajak untuk ‘jangan menyerah’. Ada Mates Of States yang membuka renungan akan ‘kehidupan akhir-akhir ini’. Ada U2 yang berkhayal tentang ‘malaikat yang dikirimkan tuhan’. Ada A Perfect Circle yang berceloteh tentang ‘dunia tanpa agama’. Ada How To Destroy Angels yang ‘tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri’. Ada Bruce Lash yang baru saja ‘menemukan tuhan setelah menyalakan lilin dalam kebingungan’. Ada Baroness yang ingin ‘kembali kemana mereka berasal’. Dan terakhir, ada Mark Ronson yang menceritakan tentang ‘senyuman yang diletakkan tuhan di wajah kalian’. Kira-kira begitulah gambaran saya, persepsi saya, versi saya tentang sesuatu yang ‘religius’. Mungkin berbeda dengan versi kalian. Tapi ya sudahlah, saya tidak melakukan ini dengan serius dan tidak terlalu tendensius. Mixtape tersebut dapat kalian unduh di sini. Akhir kata saya ucapkan, selamat berpuasa bagi yang menjalankannya, selamat percaya terhadap apapun yang kalian percaya, dan semoga kita semua selamat sampai di tujuan (yang mungkin lebih dekat dibandingkan apa yang kita perkirakan).

See you at the next sign…

Tagged , ,

10 Lagu Yang (Pernah & Sedang) Menemani Saya Menghabiskan Malam… Sendirian…

Seramai atau seheboh apapun kehidupan kalian, pasti ada akan ada saatnya dimana kalian benar-benar sendirian, baik disengaja maupun tidak. Setelah seharian bergumul dengan pekerjaan atau tugas kuliah, berkumpul dan bercengkerama dengan para sahabat, tertawa bersama, mengeryitkan dahi, membasuh peluh di dahi, niscaya akan tiba saatnya dimana kalian akan duduk sendiri di dalam kamar, di teras, di balkon, ditemani secangkir minuman hangat atau bahkan selinting tembakau yang tersulut perlahan. Dan tak ada waktu yang lebih baik untuk menjadi sendiri dan menyendiri selain di tengah malam, ketika yang lain sudah tertidur lelap atau bahkan saling berpelukan yang mungkin hanya akan bertahan hingga saatnya sang fajar menjelang. Dan saat itulah kalian bisa meluangkan sedikit waktu kalian untuk melanjutkan bacaan favorit, menonton film, browsing random, menulis, atau bahkan sekedar menciptakan coretan-coretan kecil di corelDraw. Setidaknya itulah yang saya lakukan ketika saya sendirian ditengah riuh rendahnya keheningan malam. Mungkin ritual kalian agak sedikit berbeda, namun saya yakin kita punya satu kesamaan. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan untuk dijadikan sahabat dikala menyendiri selain lagu-lagu yang diset sedemikian rupa di playlist pemutar musik digital (kecuali ketika sedang menonton film tentu saja). Maka kali ini saya ingin sedikit ingin berbagi cerita tentang playlist andalan saya ketika sedang menikmati kesendirian di tengah malam menuju dini hari. Mungkin masih banyak lagu lain yang pernah saya masukan ke dalam playlist tengah malam saya, namun pada kesempatan kali ini akan saya pilihkan sepuluh tembang yang paling sering saya masukkan ke dalam playlist tengah malam selama 5 tahun belakangan. List ini saya susun tidak berdasarkan urutan kualitas, jadi satu lagu tidak berarti lebih baik ketimbang lagu yang lain. Ada kenangan disana, ada guratan sentimental, ada percikan ide dan mungkin ada cerita yang saya lupakan dan terlupakan. Mari kita mulai saja…

1. Air – Highschool Lover (Original Score. The Virgin Suicide)

Lagu ini diambil dari album score film The Virgin Suicide, album yang disusun secara terpisah dari album Original Motion Picture Soundtrack-nya. Menggunakan piano sebagai instrumen utama dengan nada-nada yang cukup mudah diingat pada lini melodi. Secara garis besar lagu ini bernuansa agak sedikit murung dan kemungkinan besar akan sedikit memicu timbulnya ‘kesedihan yang entah karena apa’ pada rongga dada sebelah kiri. Sudahlah, dinikmati saja. Atau abaikan sekalian.

2. Trent Reznor/Atticus Ross – Hand Covers Bruise (Original Score. The Social Network)

Lagi-lagi lagu yang diambil dari album score sebuah film. Kali ini diambil dari film The Social Network. Lagu ini mengiringi bergulirnya opening credit title pada film tersebut yang menggambarkan adegan dimana Zuckerberg muda sedang dalam perjalanan pulang menuju asrama. Lagu yang cukup tenang dan dingin, namun sedikit ‘mengganggu’, terutama pada bagian distorsi yang ditampilkan dengan sangat lembut. Dalam kesendirian, seseorang bisa saja terlihat begitu tenang namun kita tidak akan pernah tahu distorsi apa yang sedang menggelitik di dalam benak orang tersebut.

3. The Morning After – Everyday Starts At Midnight

Kali ini saya pilihkan tembang dari negeri sendiri. Dari judulnya saja sudah sangat kelihatan jika lagu ini memang didedikasikan kepada mereka yang terlalu suka menyendiri dalam heningnya malam. Petikan gitar akustik yang malas berbalut dengan vokal nyaris lirih resmi membaptis lagu ini menjadi salah satu lagu wajib yang harus saya masukan ke playlist tengah malam saya. “You seem so tired…you seem so quiet…”

4. Zeke & the Popo – Subtext

Berikutnya adalah tembang dari Zeke & The Popo yang juga bernuansa cukup malas dan muram. Vokal Zeke yang nyaris bergumam semakin menambah kekentalan unsur suram lagu ini belum lagi ditambah dengan efek suara hollow di beberapa bagian lagu. Tapi pada bagian akhir, kalian akan menemukan solo gitar berdistorsi yang cukup menghentak dan kotor yang seakan-akan menjadi puncak kepenatan yang dibangun sejak dari bagian awal lagu. Jangan beranjak dulu. Malam masih panjang. Kita masih harus menikmati kesendirian ini. Harus…

5. Copeland – Kite

Yang saya suka dari lagu ini adalah pemilihan sound serta nada piano yang cukup vintage plus akordeon yang kemudian ditimpali dengan efek suara gulungan reel film. Sangat klasik. Keklasikan yang sama ditemukan pada lini vokal yang menggunakan efek reverb. Kesan tua yang ingin ditampilkan cukup berhasil. Sedikit getir. Tinggal dimasukkan ke dalam sebuah cangkir dan diseduh air panas. Aduk secukupnya dan hirup dengan perlahan.

6. Jimmy Gnecco – Light On the Grave

Gitar akustik dan vocal berbisik. Yang kemudian sedikit mengerang di bagian akhir. Berharap kesendirian ini tak pernah berakhir. “Stay with me tonight…”

7.  Mew – Comforting Sounds

Satu dari sekian banyak lagu yang menurut saya sangat berhasil membangun kerangka megah dari bagian awal hingga akhir lagu. Muncul dengan suara sayup-sayup dan diakhiri dengan gelegar yang anehnya sangat menenangkan. Kesendirian itu konstan, dibangun perlahan, sedikit demi sedikit. Hingga riuh di bagian akhirnya tidak lagi terlalu terasa.

8. Blur – No Distance Left to Run

Sound gitar malas ala Coxon berpadu dengan vokal hopeless-nya Albarn. Salah satu lagu yang hampir selalu masuk ke dalam playlist tengah malam saya sejak bertahun-tahun yang lalu. Ada kekuatan mistis tersendiri di bagian chorus yang ditimpali dengan denting keyboard one note yang konstan. Belum lagi ketika akhirnya Albarn berteriak tertahan di bagian penghujung lagu. Iya. Tahan teriakan itu. Ini tengah malam. Jangan sampai membangunkan orang lain dari mimpi indah mereka. Biarkan mereka terlelap.

9. Sundae Sunday – I Hate This Town

Diambil dari album kompilasi Day to Embrace, sebuah kompilasi indiepop Indonesia. Lagu yang cukup melatih kesabaran dengan tempo yang lumayan lambat. Aksen gitar yang cukup rapi terselip pada beberapa bagian lagu, menarik untuk diikuti. Membalut lirik yang mungkin akan merangkum keseharian kalian dengan cara yang cukup jitu. Lagi-lagi sebuah lagu yang cukup ‘mengamuk’ pada bagian akhir yang kemudian berhasil ‘ditenangkan’ dengan sebuah pertanyaan. “Is this the way that we have to live?”

10. Payung Teduh – Resah

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan dari lagu yang satu ini selain lagu ini memang memiliki kompetensi yang sangat besar dan layak untuk duduk di dalam playlist tengah malam saya, seperti yang mungkin bakal diamini oleh banyak jiwa-jiwa resah diluar sana. Jika kalian tanpa sadar ikut menyenandungkan rangkaian lirik lagu ini, jangan khawatir, kalian masih normal. Bersyukurlah.

Honorable mention:

  • Thrice – Digging My Own Grave
  • The Ataris – Butterfly
  • Kings Of Convenience – Surprise Ice
  • Nine Inch Nails – Right Where It Belongs
  • Tigapagi – Sorrow Sound
  • Riz Ortolani (feat. Katyna Ranieri) – Oh My Love
  • The Smashing Pumpkins – Landslide
  • Massive Attack – Teardrop
  • Sonic Youth – Superstar
  • Sore – Apatis Ria

Demikianlah beberapa lagu yang cukup sering menemani saya ketika sedang menikmati waktu-waktu hening diatas jam duabelas malam. Sebagai pelengkap, saya telah menyusun semacam mixtape yang berisi keduapuluh lagu diatas, plus empat track trivia. Jika berkenan, kalian bisa mengunduhnya di sini.

See you at the next sign…

P.S.: Tulisan asli dimuat di notes Facebook saya circa Januari, 2013.

Tagged , ,